Laut Batam Dikeruk Tanpa Ampun: Mangrove Air Mas Dihabisi, Nelayan Dipaksa Menelan Lumpur Reklamasi Tanjung Sauh”

More articles

Batam,investigasi.news – Laut yang dulu menjadi sumber hidup masyarakat pesisir kini berubah menjadi hamparan air keruh penuh lumpur. Aktivitas penimbunan laut di kawasan Tanjung Sauh, Kota Batam, Kepulauan Riau, memicu kemarahan warga setelah hutan mangrove yang selama ini menjadi benteng pesisir diduga dilibas demi proyek reklamasi.
Di balik geliat proyek pematangan lahan di
kawasan

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Sauh,

nelayan Kampung Air Mas kini hanya bisa menatap laut yang semakin keruh. Air yang dahulu jernih kini berubah kecoklatan, dipenuhi material tanah yang diduga hanyut dari lokasi penimbunan.

Bagi para nelayan, perubahan itu bukan sekadar pemandangan buruk. Itu adalah tanda bahwa laut yang selama ini memberi makan keluarga mereka sedang sekarat
“Dulu di sekitar bakau banyak kepiting, ikan, dan udang. Sekarang hampir tidak ada lagi. Airnya keruh, lumpur semua,” ujar seorang nelayan Air Mas dengan nada kecewa.

Hasil tangkapan yang dulu cukup untuk menghidupi keluarga kini merosot drastis. Nelayan harus melaut lebih jauh, menghabiskan lebih banyak bahan bakar, namun tetap pulang dengan hasil yang jauh dari harapan.

Mangrove Diduga Ditimbun Tanpa Ampun

Temuan di lapangan menunjukkan aktivitas penimbunan laut berlangsung tidak jauh dari Kampung Air Mas. Area yang sebelumnya dipenuhi mangrove kini tampak berubah menjadi timbunan tanah reklamasi.
Perkiraan sementara menyebutkan sekitar

empat hektare kawasan mangrove terdampak,

bahkan sebagian diduga telah tertimbun material tanah.
Padahal, kawasan mangrove selama ini menjadi tempat berkembang biaknya berbagai biota laut yang menjadi sumber tangkapan nelayan. Ketika mangrove hilang, maka ekosistem pesisir ikut runtuh.

Yang tersisa kini hanya batang-batang bakau yang mati, tertutup lumpur, dan garis pantai yang perlahan berubah menjadi lokasi proyek.

Laut Keruh, Nelayan Terpukul

Sejak aktivitas reklamasi berjalan, kondisi perairan di sekitar lokasi berubah drastis. Air laut tampak keruh dan menguning, terutama saat hujan turun.

Material tanah dari area proyek diduga hanyut ke laut dan mencemari perairan di sekitar kampung nelayan.

Akibatnya, wilayah tangkapan ikan yang selama ini menjadi andalan masyarakat pesisir semakin rusak.

“Sekarang mencari ikan jauh lebih sulit. Airnya kotor, ikan tidak lagi mendekat ke sini,” kata nelayan lainnya.
Bagi masyarakat pesisir, kondisi ini bukan sekadar persoalan lingkungan. Ini adalah pukulan langsung terhadap dapur mereka.

Proyek Jalan, Penjelasan Menghilang

Di tengah kerusakan yang mulai terlihat di lapangan, transparansi terkait izin proyek reklamasi justru menjadi tanda tanya besar.
Hingga kini belum ada penjelasan terbuka mengenai bagaimana aktivitas penimbunan laut tersebut berjalan di kawasan yang sebelumnya dipenuhi mangrove.

Publik mempertanyakan bagaimana proyek besar bisa berlangsung sementara dampaknya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang terjadi bukan sekadar perubahan garis pantai. Laut yang dulu menjadi ruang hidup nelayan perlahan berubah menjadi kawasan proyek, sementara masyarakat pesisir harus menanggung dampaknya sendirian.

Bagi nelayan Air Mas, keruhnya laut hari ini bukan sekadar perubahan warna air. Itu adalah tanda bahwa sumber hidup mereka sedang ditimbun sedikit demi sedikit.

Fransisco chrons

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest