Kotamobagu,Investigai.News — Aroma kopi memenuhi ruangan Red Corner Cafe di Jalan Hi. Zakaria Imban, Kelurahan Molinow, Kecamatan Kotamobagu Barat, Kamis (30/04/2026). Namun hari itu, bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi, melainkan menjadi ruang lahirnya harapan baru bagi masyarakat kelompok rentan di Kota Kotamobagu.
Tim Penggerak (TP) PKK Kota Kotamobagu melalui Pokja II menggelar pelatihan barista yang menyasar penyandang disabilitas, ibu rumah tangga, remaja usia produktif, hingga warga yang belum memiliki pekerjaan tetap.
Sebanyak 20 peserta tampak antusias mengikuti pelatihan teknik dasar meracik kopi menggunakan metode manual brew yang dibimbing langsung tenaga ahli di bidang kopi.
Kegiatan ini digelar sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat sekaligus menjawab tren berkembangnya usaha street coffee di Kotamobagu. Dalam beberapa tahun terakhir, lapak kopi sederhana semakin menjamur di berbagai sudut kota, mulai dari kawasan Alun-alun Boki Hontinimbang hingga area pertokoan yang ramai dikunjungi anak muda.
Ketua Pokja II TP PKK Kotamobagu, Retna S. Damopolii, mengatakan pelatihan ini dipilih karena industri kopi dinilai memiliki peluang usaha yang cukup menjanjikan dengan modal yang relatif terjangkau.
“Karena kopi sekarang sedang menjadi tren, usaha kreatif yang diminati banyak orang, serta merupakan salah satu produk unggulan Kotamobagu,” ujar Retna.
Menurutnya, materi pelatihan sengaja dibuat sederhana dan aplikatif agar peserta bisa langsung mempraktikkan ilmu yang diperoleh untuk membuka usaha kecil secara mandiri.
“Pelatihan ini dirancang sederhana dan aplikatif. Harapannya, peserta bisa memulai usaha kecil seperti street coffee atau usaha rumahan tanpa membutuhkan modal besar,” tambahnya.
Retna berharap pelatihan tersebut mampu menjadi jalan bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf ekonomi keluarga.
“Kegiatan semacam ini diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, sehingga mampu mencukupi kebutuhan keluarga,” katanya.
Pelatihan tersebut juga menghadirkan Nandi Saputra Angkara, seorang pelaku usaha kopi lokal, sebagai trainer. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat melahirkan komunitas dan ekosistem industri kopi yang berkembang di Kotamobagu.
“Saya berharap setelah kegiatan ini, teman-teman peserta bisa terus belajar dan bahkan bergabung untuk bersama-sama mengembangkan industri kopi di Kotamobagu,” ujar Nandi.
Menurutnya, semakin banyak pelaku usaha kopi justru akan memberikan dampak positif bagi daerah.
“Justru semakin banyak yang bergerak di bidang ini, semakin besar peluang Kotamobagu dikenal sebagai salah satu sentra industri kopi, yang tentunya berdampak positif bagi perekonomian daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kotamobagu, Rindah Gaib Mokoginta, menegaskan bahwa pelatihan tersebut menjadi bukti bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang tanpa dibatasi kondisi dan keterbatasan yang dimiliki.
“Siapa bilang keterbatasan adalah akhir. Di pelatihan ini, kami buktikan semua orang bisa berdaya,” tegasnya.
Menurut Rindah, pelatihan barista bukan hanya mengajarkan cara meracik kopi, tetapi juga menjadi investasi keterampilan jangka panjang bagi peserta untuk menghadapi dunia kerja dan usaha.
“Ini adalah investasi keterampilan, bukan cuma mahir meracik kopi, tapi juga siap bersaing di industri kuliner,” katanya.
Ia menambahkan, TP PKK Kotamobagu akan terus menghadirkan program-program pemberdayaan yang relevan dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
“Pelatihan barista ini menjadi salah satu langkah mewujudkan masa depan yang lebih baik. Dengan semangat inklusivitas, TP PKK Kotamobagu akan terus menghadirkan program yang relevan bagi masyarakat,” tutupnya.(**)







