Iklan

Operasional Pt Atau Sarang Modus? Nama PT CKX Precision Indonesia Terseret dalam Dugaan Penggadaian 8 Mobil Rental di Batam

More articles

Batam, 29 Mei 2026 — Dunia usaha rental mobil di Batam kembali diguncang dugaan praktik penggelapan berkedok operasional perusahaan. Nama PT CKX Precision Indonesia kini ikut terseret dalam pusaran kasus setelah seorang wanita bernama Nadya Ningrum diduga menggunakan embel-embel kebutuhan operasional perusahaan untuk membawa kabur sejumlah kendaraan rental milik warga Batam.

Korban bernama Silvi Permata, owner rental mobil di Batam, mengaku kini hanya bisa menangis melihat usahanya nyaris lumpuh setelah delapan unit kendaraan diduga berpindah tangan melalui praktik gadai ilegal yang disebut dilakukan secara terstruktur dan penuh tipu daya.

Awalnya, semua terlihat rapi. Nadya muncul lewat Instagram dengan penampilan meyakinkan layaknya staf perusahaan profesional. Bahasa yang digunakan tertata, dan alasan yang diberikan terdengar masuk akal, mulai dari kebutuhan operasional perusahaan, event kantor, hingga tamu WNA yang disebut membutuhkan kendaraan lengkap beserta STNK asli untuk administrasi internal perusahaan.

Korban yang percaya akhirnya menyerahkan satu unit Brio RS BP 1625 RQ lengkap dengan STNK asli. Mobil pertama sempat dikembalikan dengan aman. Pembayaran yang terlambat disebut karena “sistem invoice perusahaan”.

Belakangan, alasan itu diduga hanya umpan untuk membangun kepercayaan. Setelah korban mulai yakin, permintaan kendaraan terus bertambah. Pada 13 Januari 2026, Nadya kembali membawa Toyota Raize silver BP 1693 QM lengkap dengan STNK asli.

Tidak berhenti di situ, pada 28 Januari 2026, korban kembali menyerahkan Brio grey BP 1124 CC dengan alasan tambahan kebutuhan operasional perusahaan.

Di balik dalih “operasional PT”, “event perusahaan”, dan “kebutuhan klien”, korban mengaku tidak pernah menyangka kendaraan-kendaraan tersebut justru diduga masuk ke jaringan gadai ilegal.

Puncaknya terjadi pada Mei 2026. Nadya kembali meminta enam unit tambahan dengan alasan kebutuhan event perusahaan. Satu demi satu kendaraan akhirnya berpindah tangan.

Daftar kendaraan yang diduga ikut digadaikan antara lain:

  • Brio RS putih BP 1625 RQ
  • Avanza hitam BP 1663 MQ
  • Xenia putih BP 1451 QM
  • Sigra grey BP 1401 RE
  • Raize merah BP 1720 GE
  • Ayla kuning BP 1370 CE

Khusus unit Sigra BP 1401 RE, korban diarahkan melakukan serah terima kepada seorang pria bernama Alan yang disebut sebagai rekan Nadya. Nomor Alan bahkan diberikan langsung oleh Nadya kepada korban.

Berdasarkan informasi yang diterima korban, Alan disebut-sebut berprofesi sebagai guru di SMK 7. Namun, hingga kini, dugaan keterlibatan pihak-pihak lain masih menjadi tanda tanya besar.

Bom waktu akhirnya meledak ketika GPS Brio grey BP 1124 CC mendadak terputus.

Korban yang mulai curiga langsung meminta bantuan komunitas rental mobil dan tim Laskar 86 untuk melakukan pelacakan. Titik terakhir kendaraan terdeteksi di kawasan Tanjung Uncang.

Saat penelusuran dilakukan, fakta mengejutkan mulai terbuka. Mobil tersebut diduga sudah digadaikan.

Yang membuat komunitas rental Batam geger, bukan hanya satu unit yang diduga hilang. Hampir seluruh kendaraan milik korban disebut sudah berpindah tangan ke sejumlah penadah.

Suasana sempat memanas ketika korban mencoba memancing Nadya datang memberikan penjelasan di hadapan komunitas rental. Ketua komunitas Laskar 86 bahkan secara tegas meminta seluruh kendaraan milik korban segera dikembalikan tanpa alasan apa pun.

Namun, hingga kini, satu unit Xenia putih BP 1451 QM masih belum ditemukan. Plat nomor dan STNK asli Avanza hitam BP 1663 MQ juga belum diketahui keberadaannya.

Akibat kejadian ini, korban mengaku mengalami kerugian mencapai Rp67.400.000.

Kasus ini kini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat Batam:

Apakah nama perusahaan hanya dijadikan tameng untuk menjalankan modus penguasaan kendaraan rental?

Apakah ada pihak lain yang ikut menikmati hasil dugaan gadai kendaraan tersebut?

Dan, berapa banyak lagi owner rental di Batam yang sudah menjadi korban, tetapi memilih diam?

Kasus ini menjadi alarm keras bagi seluruh pelaku usaha rental mobil. Di balik wajah rapi, bahasa profesional, dan alasan operasional perusahaan, diduga tersimpan permainan licik yang mampu menghancurkan usaha rakyat hanya dalam hitungan minggu.

Jika dugaan ini benar, maka praktik seperti ini bukan lagi sekadar persoalan sewa kendaraan yang macet pembayaran, melainkan pola sistematis yang diduga menyeret nama perusahaan untuk membangun kepercayaan sebelum kendaraan berpindah tangan satu per satu.

Fransisco Chrons

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest