Padang Panjang, investigasi.news – Proyek Pekerjaan Pembangunan Gedung Kuliah Bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang dengan nomor kontrak 065/177/PPK-II/2026 mengalami deviasi atau keterlambatan. Proyek yang dimulai sejak 6 Februari 2026 lalu itu dengan nilai kontrak Rp. 12.766.766.217,- dan waktu pelaksanaan 180 hari kalender yang bersumber dari dana DIPA ISI Tahun Anggaran 2026 memgalami keterlambatan (Deviasi).
Kontraktor pelaksana dari PT. Bumi Palapa Perkasa dan konsultan pengawas CV. Restu Graha Cipta katakan, keterlambatan pekerjaan pembangunan gedung kuliah bersama kampus ISI Padang Panjang itu sudah menjadi hal yang biasa.
itu disampaikan Agus Supriyono selaku Direktur Utama PT. Bumi Palapa Perkasa sekaligus yang menandatangani kontrak pekerjaan dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Hamdani Agus.
Dalam penyampaian Agus Supriyono dihubungi media Sabtu (30/05) malam melalui sambungan telpon ke selularnya, keterlambatan proyek itu hal biasa dan tidak ada masalah.
“Keterlambatan pekerjaan proyek gedung ISI itu biasa dan itu tetap diselesaikan” katanya.
Agus membenarkan bahwa proyek pembangunan gedung kuliah bersama Kampus ISI Padang panjang itu terlambat dari target pelaksanaan dan dia sendiri selaku Penyedia Jasa dalam pelaksanaan pembangunan gedung kuliah ISI itu yang bersumber dari Uang Negara tidak tahu sudah berapa persentase progres atau Bobot pekerjaannya, sebabnya dia belum melihat langsung ke lapangan. “Iya benar, proyek pembangunan gedung kuliah ISI itu terlambat dan tidak sesuai dengan target pelaksanaan, tapi akan tetap diselesaikan. Kalau progres pekerjaan saya belum tahu, mungkin sudah 30-35% tapi belum saya lihat, nanti kalau saya kelapangan cari tahu” katanya lagi.
Agus mengaku bahwa progres pekerjaan tersebut sudah 35% tapi belum bisa memastikan apakah bobot pekerjaan nya sudah diangkat 35%, dan dia membantah kalau proyek tersebut dilakukan take over ke penyedia jasa lain.
“Kalau di take over proyek itu tidak benar, dan yang bertanda tangan dalam kontrak dengan PPK itu saya, yang jelas keterlambatan pekerjaan itu tidak masalah dan tetap diselesaikan” imbuhnya.
Agus sendiri belum bisa memastikan sudah berapa bobot pekerjaannya, dan baru akan ke proyek memastikan ke orang lapangan.
“Untuk progresnya sendiri saya belum tahu berapanya, tapi kemungkinan sudah 35%. Untuk pastinya nanti saya akan kesana melihat langsung.

Diketahui pagu anggaran proyek pembangunan gedung kuliah bersama ISI itu sebesar Rp. 16 Milyar lebih bersumber dari dana DIPA ISI Tahun Anggaran 2026 dan pemenang tender berkontrak dengan penawaran Rp. 12 Milyar lebih, artinya dari pagu anggaran penyedia jasa PT. Bumi Palapa Perkasa turun lebih kurang 21%, apakah proyek pembangunan gedung kuliah bersama ISI itu akan senasib dengan Proyek Mangkrak Gedung kuliah ISI di Tarok City yang selalu dibungkus dengan istilah proyek Pendampingan Hukum.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Hamdani Agus belum bisa dihubungi hingga berita ini diturunkan. Km







