Muba, Investigasi.News – Nasib pendidikan puluhan pelajar di Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, kini terancam. Sedikitnya 50 siswa SMP Negeri 2 Lalan tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar karena akses penyeberangan yang biasa mereka gunakan berhenti beroperasi.
Kondisi tersebut terjadi setelah ketek penyeberangan yang melayani rute antara P6 dan P11 tidak lagi beroperasi. Penyebabnya diduga karena pembayaran operasional dari pihak terkait mengalami kendala, sehingga layanan penyeberangan dihentikan.
Akibatnya selasa (28/07) para siswa yang setiap hari bergantung pada transportasi sungai terpaksa menunggu di sekitar jembatan yang putus atau di tepi sungai tanpa kepastian dapat menyeberang menuju sekolah.

Kepala SMP Negeri 2 Lalan, Antonius Budianto, S.Pd., S.M.Si, membenarkan bahwa puluhan siswanya terdampak akibat terhentinya layanan penyeberangan tersebut.
Menurutnya, sekitar 50 siswa tidak dapat hadir mengikuti proses belajar mengajar karena tidak memiliki akses lain untuk menuju sekolah.
“Kami sangat prihatin dengan kondisi ini. Anak-anak memiliki semangat belajar yang tinggi, namun terhambat oleh persoalan transportasi. Kami berharap ada solusi cepat agar mereka bisa kembali bersekolah seperti biasa,” ujarnya.
Pantauan di lapangan memperlihatkan sejumlah siswa berseragam sekolah hanya bisa menunggu di sekitar lokasi penyeberangan. Sebagian memilih duduk di bawah konstruksi jembatan, sementara lainnya berkumpul di pinggir jalan dengan harapan transportasi penyeberangan kembali beroperasi.
Kondisi ini dikhawatirkan akan mengganggu proses belajar mengajar apabila tidak segera mendapat penanganan. Selain kehilangan jam pelajaran, para siswa juga berisiko mengalami ketertinggalan materi dibandingkan teman-teman mereka yang dapat hadir di sekolah.

Masyarakat berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera menyelesaikan persoalan operasional ketek penyeberangan maupun menghadirkan solusi transportasi sementara. Mengingat akses tersebut merupakan jalur vital yang setiap hari digunakan pelajar dan masyarakat untuk beraktivitas.
Warga menilai pendidikan tidak boleh menjadi korban akibat terhambatnya layanan transportasi. Mereka meminta persoalan ini segera diselesaikan agar puluhan siswa SMP Negeri 2 Lalan dapat kembali bersekolah tanpa hambatan.
Suprene




