Padang Panjang – Tim dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Padang (UNP) menerapkan teknologi digital berbasis internet untuk membantu mengoptimalkan pengelolaan nutrisi pada tanaman hidroponik di We Farm Hidroponik, Paninjauan, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Minggu (16/8/2026).
Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis, Rabu (19/8/2026) kegiatan ini merupakan Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) 2026, tim menerapkan teknologi sensor pH dan Total Dissolved Solids (TDS) berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengotomatisasi pengelolaan nutrisi pada budidaya hidroponik.
Kegiatan bertema “Penerapan Sensor pH dan TDS Berbasis IoT untuk Automatisasi Nutrisi pada Budidaya Hidroponik” tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Yulkifli, S.Pd., M.Si. Tim pelaksana juga beranggotakan Dr. Resti Fevria, S.TP., M.P., Dr. Vauzia, M.Si., dan Yenni Darvina, M.Si., Erik Fernando, S.Si.,mahasiswa S2 Agriculture UPM Malaysia, Washilla Audi, S.Si., M.Si mahasiswa S3 Ilmu Lingkungan PPS UNP), dan Muhmmad Dimas mahasiswa S1 Fisika FMIPA UNP.
Program ini melibatkan Wanda Arjulis, S.T., selaku pengelola We Farm Hidroponik sekaligus mitra kegiatan. Penerapan teknologi tersebut menjadi salah satu langkah nyata UNP dalam menjawab tantangan pertanian modern serta memperkuat ketahanan pangan melalui pemanfaatan teknologi tepat guna. Sistem yang diterapkan mengintegrasikan sensor pH dan TDS dengan teknologi IoT. Melalui sistem ini, petani dapat memantau tingkat keasaman serta konsentrasi mineral dalam larutan nutrisi secara real-time menggunakan smartphone.
Pemantauan tersebut membuat pengelolaan nutrisi menjadi lebih terukur, cepat, dan responsif. Ketika kondisi larutan mengalami perubahan, pengelola dapat segera melakukan penyesuaian agar kebutuhan nutrisi tanaman tetap berada pada kadar yang ideal.Hasil pengujian dan validasi di lapangan menunjukkan bahwa sensor pH dan TDS yang digunakan memiliki tingkat akurasi yang baik. Performa tersebut mendukung pengambilan keputusan berdasarkan data sekaligus mengurangi ketergantungan pada pemeriksaan secara manual.
Prof. Yulkifli menjelaskan bahwa inovasi ini membawa manfaat langsung terhadap dua aspek penting dalam budidaya hidroponik, yaitu efisiensi penggunaan sumber daya dan kestabilan produksi.
“Penerapan sensor pH dan TDS berbasis IoT membantu penggunaan air dan pupuk menjadi lebih efisien. Di sisi lain, produktivitas tanaman juga dapat dijaga agar lebih stabil dan optimal karena kebutuhan nutrisinya selalu dipantau dan dikendalikan pada kadar ideal,” ujarnya.
Kegiatan pengabdian ini tidak berhenti pada pemasangan dan penyerahan perangkat. Tim UNP turut memberikan pendampingan teknis secara menyeluruh agar mitra mampu mengoperasikan dan merawat sistem secara mandiri.
Pendampingan mencakup perakitan perangkat, kalibrasi sensor pH dan TDS, pengoperasian aplikasi berbasis IoT, pembacaan data, hingga langkah penanganan apabila hasil pengukuran menunjukkan kondisi larutan nutrisi yang tidak sesuai.Melalui pelatihan tersebut, pengelola We Farm Hidroponik diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga keberlanjutan sistem dalam jangka panjang.
Bagi Wanda Arjulis, penerapan sistem ini dapat membantu pengelolaan kebun hidroponik menjadi lebih praktis dan presisi. Data yang dapat diakses melalui smartphone juga memungkinkan proses pemantauan dilakukan kapan saja tanpa harus terus-menerus memeriksa larutan nutrisi secara langsung. Penerapan teknologi IoT di We Farm Hidroponik memperkuat peran strategis UNP dalam mendorong pengembangan pertanian modern dan berkelanjutan. Inovasi ini juga menunjukkan bahwa teknologi digital dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.
Program tersebut berkontribusi terhadap pencapaian sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2: Tanpa Kelaparan, melalui penguatan produktivitas dan ketahanan pangan; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui pemanfaatan sensor serta IoT; dan SDG 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan, melalui pengembangan pertanian perkotaan atau urban farming.
Ke depan, sistem otomatisasi nutrisi ini diharapkan dapat menjadi model percontohan bagi kelompok dan komunitas hidroponik lainnya di Sumatera Barat. Penerapan teknologi serupa berpotensi membantu pelaku usaha meningkatkan efisiensi, menjaga kualitas tanaman, dan mengembangkan budidaya hidroponik secara lebih berkelanjutan. Inisiatif tersebut sekaligus memperkuat rekam jejak UNP dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi dan pemeringkatan THE Impact Rankings. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, inovasi hasil pengembangan akademik dapat memberikan dampak nyata bagi peningkatan kapasitas mitra serta pembangunan daerah.








