Banner iklan

Dua Madrasah di Pidie Jaya Optimistis Implementasikan Kurikulum Berbasis Cinta

More articles

PIDIE JAYA – Semangat menerapkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk akhlak dan karakter peserta didik semakin menguat di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Hal itu ditunjukkan oleh puluhan guru dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 10 dan MIN 11 Pidie Jaya yang sukses mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) selama tiga hari, Senin (31/8/2026) hingga Rabu (2/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi para guru untuk memahami sekaligus mempersiapkan penerapan KBC di lingkungan madrasah. Kurikulum ini diarahkan untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia.

Semangat tersebut terangkum dalam prinsip KBC, yakni “Cerdas Otaknya, Mulia Akhlaknya.” Para guru dibekali pemahaman bahwa pendidikan berbasis cinta tidak semata-mata diberikan melalui materi pembelajaran khusus, tetapi dapat diterapkan melalui sikap, perilaku, komunikasi, dan keteladanan guru dalam keseharian.

Bimtek yang menghadirkan pemateri dari Provinsi Aceh tersebut juga dikemas berbeda. Tidak seluruh rangkaian kegiatan berlangsung di dalam ruangan. Pada hari terakhir sekaligus penutupan, para peserta mengikuti kegiatan di ruang terbuka, tepatnya di kawasan Pantai Meurah Seutia (Pantai Manohara), Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya.

Ketua Kelompok Kerja Pengawas Madrasah (Pokjawasmad) Provinsi Aceh, Drs. Nopia Dorsain, menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta lebih menekankan praktik pendidikan yang meneladani pola pembelajaran Rasulullah.

Menurutnya, pendekatan tersebut mengedepankan hubungan langsung dan keteladanan dalam membimbing peserta didik.

Kurikulum berbasis cinta ini lebih kepada pendekatan langsung kepada anak didik. Tidak harus ada materi khusus, tetapi bagaimana para guru mampu mengarahkan anak-anak untuk lebih mencintai Allah, Rasul, orang tua, dan lingkungan. Intinya, kurikulum ini lebih kepada keteladanan,” jelas Nopia.

Ia menilai peran guru sangat penting dalam keberhasilan penerapan KBC. Guru tidak hanya dituntut menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menjadi contoh nyata bagi peserta didik dalam membangun sikap dan karakter.

Optimisme penerapan KBC juga disampaikan Kepala MIN 11 Pidie Jaya, Fitriani. MIN 11 sendiri menjadi salah satu sekolah yang dipercaya sebagai pilot project KBC di Pidie Jaya.

Fitriani menegaskan bahwa pihaknya bersama seluruh tenaga pendidik akan berupaya maksimal menerapkan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dalam kehidupan sekolah.

Saya bersama seluruh guru di MIN 11 akan berusaha untuk menjalankan kurikulum ini. Insyaallah bisa,” ucap Fitriani.

Hal senada disampaikan Kepala MIN 10 Pidie Jaya, Nazariah. Menurutnya, pelaksanaan bimtek selama tiga hari memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang dapat diterapkan dalam proses pendidikan di madrasah.

Apa yang telah kami dapatkan selama bimbingan ini akan kami implementasikan di sekolah nantinya. Harapannya, anak-anak madrasah, khususnya MIN 10 dan MIN 11, benar-benar menjadi bagian dari keberhasilan pilot project Kurikulum Berbasis Cinta ini,” kata Nazariah.

Dengan berakhirnya rangkaian Bimtek KBC, tantangan berikutnya berada di lingkungan madrasah masing-masing. Para guru diharapkan tidak berhenti pada pemahaman selama pelatihan, tetapi mampu menerjemahkan nilai-nilai cinta, keteladanan, dan pembentukan akhlak ke dalam aktivitas pendidikan sehari-hari.

Bagi MIN 10 dan MIN 11 Pidie Jaya, penerapan KBC diharapkan menjadi langkah nyata untuk menghadirkan pendidikan yang lebih humanis, dekat dengan peserta didik, serta mampu melahirkan generasi yang memiliki kecerdasan sekaligus karakter dan akhlak yang kuat.

(Herry)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest