BETA KAWATA !!!

More articles

spot_img

Tulisan ini merupakan opini dari orang yang peduli dengan salah satu desa yang ada di Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, desa itu bernama Kawata. 

Gajah sama gajah, pelanduk mati terinjak-injak

Beta pung dodomi tanah moyang berseri doa tetua tak sunyi tak sepi

ombak, arus, angin, biasa beta kawata !

Beta kawata, seleret kuplet puisi yang ditulis pada tahun 2020 ini bicara tentang kebanggaan yang (pernah) dimiliki oleh orang desa Kawata, sebagai desa didaratan pulau Mangoli, tentu sah saja, karena desa ini pernah berjaya pada masa lalu.

Pada masa Kawata dipimpin oleh kepala terdahulu sejak mahimo hingga sebelum tahun 1980-an, desa ini punya nama dan cukup disegani.

Masa itu eksistensi Kawata didaratan pulau Mangoli bagian utara, sejajar dengan Waitina, Mangoli serta desa lain di kawasan itu, bahkan saat akan ditetapkannya pusat pemerintahan kecamatan (sekarang di Waisakai), terjadi tarik menarik saat itu Kawata pun diperhitungkan dengan berbagai potensi historis dan kulturnya.

Hasil kopra dan cacao cukup menjamin, kios, atau dulu disebut toko Nana, dikuasai orang di Kawata.

Kaum muda dan ibu-ibu sangat besar perhatian pada aktivitas membaca Al-Qur’an dan belajar ilmu agama yg mendalam, dan anak-anak mereka mulai melangkah ke perguruan tinggi, meninggalkan Kawata dan Sanana.

Mereka pergi ke Ambon, Makassar, Ternate dan Surabaya, ada pula yang jauh ke Papua, dukungan ekonomi cukup memberi peluang untuk masa depan mereka saat itu.

Sementara itu solidaritas dan soliditas basanohi dibuktikan dengan berdirinya SMEP (sekarang SMP Negeri) di yonhata bagian timur desa, kenyataan ini mendorong perkembangan/pelebaran desa dan hingga kini Kawata telah memiliki dua ruas jalan utama, yakni ruas utama jalan desa dan satu ruas utama jalan penghubung antar desa.

Dalam kancah politik orang Kawata terdahuku yang duduk di DPRD Provinsi ada Hi. Adam Joisangadji seorang tokoh yang cukup disegani yang berkebun dan berdagang di Kawata.

Penanda kekuatan sosial lainnya adalah Masjid tua yang juga dibangun bersama atas semangat manatol.

Di kalangan pemuda, kesebelasan Kawata cukup diperhitungkan bila berlaga di Sanana.

Hingga tahun-tahun 2018-2020, semangat pemuda terlihat pada inisiatif memeringati HUT kemerdekaan RI, hampir setiap tahunnya dihelat pertandingan sepakbola, disamping itu peringatan hari-hari besar keagamaan (Islam) pun tak lepas dari prakarsa pemuda di kampung.

Padahal orang-orang yang kuliah cuma sedikit, namun kenyataannya leader Kawata bukan hanya lulus kuliah di perguruan tinggi, tapi mereka punya keihlasan, wibawa, dan cinta kampung.

Nilai adat yang mementingkan kebersamaan masyarakat sekampung merupakan martabat dan kebanggaan yang selalu dijunjung tinggi.

Setelah masuk tahun-tahun 1990-an, terjadi pergeseran paradigma sikap dan cara pandang, dari kepentingan orang banyak menjadi gengsi pribadi, lihat saja pertarungan kursi kepala desa mulai menjadi hal baru yang cukup sengit dipertaruhkan.

Bahkan terjadi saling dongker kursi kades. Sialnya, sampai selesai masa jabatan, masyarakat lalu bertanya akan hasil yang dicapainya.

Muncul realitas lain, yaitu marwah kades tak jarang terganggu dan diganggu. Memasuki millennium ini, hal ini cukup terasa. Sementara pemimpin desa tak lebih dari pejabat pelaksana tugas bukan kades difinitif. Jadi secara sosial politik dan pemerintahan, Kawata menjadi tidak berdaya.

Memasuki masa kabupaten kepulauan Sula dengan peluang kursi DPRD Kabupaten ternyata tidak dilihat sebagai peluang untuk desa, dalam arti kekuatan politik untuk perjuangan nasib desa Kawata.

Karena faktanya Sejak 2009-2014 dan 2014-2019, sampai pada tahun 2019-2024 orang Kawata selalu menduduki kursi DPRD Kabupaten Sula.

Pada Pemilu tahun 2024 ini, bermunculan pula wakil-wakil Kawata pada pertarungan politik. Sebenarnya realitas ini menunjukkan bahwa orang Kawata masih memiliki kemauan mewakili masyarakatnya pada kursi dewan yang terhormat.

Pergeseran kesadaran politik sebagai amanah masyarakat kini berubah. Kekuatan suara dukungan politik yang pernah ada kini tak kelihatan. Para petarung Kawata yang meliputi tiga desa tetangga terdekat, ternyata tak memberi jumlah suara yang dapat menguatkan posisi wakil Kawata untuk kursi parlemen. Yang terjadi adalah semacam anomali sosial-politik dimana kekuatan kekuatan basis bergeser entah ke pihak siapa. Yang jelas dari jumlah jiwa pilih sekitar 1.253 jiwa di Kawata ternyata tak memberi kekuatan bagi salah satu petarung politik asal desa Kawata.

Permainan money politics dan politik transaksional yang diikuti dengan target mengejar kepentingan tertentu dapat berakibat lain dari perhitungan di atas kertas.

Maka perseteruan dengan menghalalkan macam-macam cara pun menjadi “lumrah” sehingga mengalahkan prinsip-prinsip kultural: manatol, manayana, manawak.

Sehingga runtuhlah bangunan sakral yang bernama “basanohi” itu, realita yang terjadi kini, tradisi adanya wakil Kawata di DPRD selama 15 tahun pun roboh, tanpa dukungan kekuatan di kampung sendiri.

Kini bila orang masih berharap tradisi keterwakilan ini bisa hidup kembali maka beban yang akan dihadapi tidaklah ringan. Karena sejumlah pranata sosial telah ikut cidera pada pertarungan itu, dan beban ini akan dipikul oleh generasi kini dan akan datang. Suatu beban yang nyaris tak adil secara sosial namun hadir secara faktual.

Pranata sosial itu membutuhkan iklim lebih kondusif agar bisa pulih.

Kemudian perihnya lagi, realitas Kawata ini tak hanya terjadi di desa yg dibangun oleh baba Nailoe dan para pejuangnya lebih seratus dua puluh tahun lalu itu. Kenyataan ini terjadi pula di desa-desa lainnya dalam kabupaten Sula dan kabupaten lain tentunya.

Kini dalam menatap masa depan, kita butuhkan niat yang lebih bersih, pandangan baru yg lebih jernih, strategi yang mumpuni dan pendekatan yg lebih manusiawi, tentu saja pendekatan kepada Allah SWT sebagai penentu Kuasa yang tak boleh dilewatkan.

 

Zainuddin M. Arie (Penulis)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest

spot_img