Malut, Investigasi.News-, Sabtu pagi, 2 Mei 2026, saya menghadiri undangan panitia lebih awal dari waktu yang telah ditentukan. Sebuah pilihan yang bagi saya penting, sebab setiap peristiwa besar selalu menyimpan makna bahkan sebelum ia benar-benar dimulai. Pukul 07.00 pagi menjadi penanda resmi pembukaan, namun suasana batin telah lebih dulu bergerak sejak saya tiba dilokasi.
Panitia menyambut kedatangan saya dengan penuh hormat dan menempatkan saya di kursi paling depan. Dari posisi itu, saya tidak hanya menyaksikan rangkaian acara, tetapi juga merasakan denyut suasana yang perlahan membangun makna. Sambil menunggu pembukaan dimulai, mata saya tertuju pada sebuah kalimat sederhana namun sangat kuat, kalimat itu adalah “The Spirit of Sula.”
Kalimat ini seketika memantik pertanyaan dalam pikiran saya, apa sebenarnya motivasi dari Gabalil Hai Sua? Pertanyaan sederhana ini kemudian menjelma menjadi gagasan utama dalam tulisan ini. Sebab saya meyakini, setiap gerakan kolektif selalu memiliki ruh yang menggerakkannya, dan “The Spirit of Sula” adalah pintu untuk memahami ruh tersebut.
Tidak lama kemudian, acara pembukaan pun dimulai. Saya mengikuti setiap rangkaian dengan penuh keseriusan, mencoba menangkap pesan di balik setiap simbol dan prosesi. Hingga akhirnya, momentum inti tiba, pembukaan dan pelepasan peserta oleh Wakil Bupati Kepulauan Sula.
Satu per satu tim peserta mulai bergerak. Mereka keluar dari pintu Benteng De Verwachting, mengambil rute utara, meninggalkan titik awal dengan langkah yang tegas namun sarat emosi. Pada momen itu, suasana mendadak berubah. Riuh suara MC seperti kehilangan gema, berganti dengan keheningan yang justru terasa lebih dalam.
Saya menyaksikan langsung bagaimana haru menyelimuti ruang itu. Isak tangis pengantar dan para undangan pecah tanpa rekayasa. Sebuah pemandangan yang tidak bisa dimaknai sekadar sebagai seremoni pelepasan. Ia adalah ekspresi emosional dari keterikatan sejarah, budaya, dan identitas.
Dari sini, saya melihat bahwa Gabalil Hai Sua bukan hanya sebuah event seremonial, melainkan sebuah gerakan kultural yang memiliki multi-dimensi motivasi:
Pertama, motivasi kultural-historis. Gabalil Hai Sua adalah upaya menghidupkan kembali jejak leluhur yang selama ini tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat Sula. Ia menjadi ruang rekonstruksi sejarah yang tidak tertulis, tetapi hidup dalam praktik dan tradisi.
Kedua, motivasi identitas dan eksistensi. “The Spirit of Sula” adalah bentuk afirmasi bahwa masyarakat Sula memiliki jati diri yang kuat. Di tengah arus globalisasi yang cenderung menyeragamkan, kegiatan ini menjadi penanda bahwa identitas lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga dirayakan.
Ketiga, motivasi sosial-emosional. Isak tangis yang saya saksikan bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan. Ia menunjukkan adanya keterikatan batin yang dalam antara masyarakat dengan tradisi dan ruang hidupnya. Gabalil Hai Sua menjadi medium yang menyatukan kembali rasa kebersamaan dan solidaritas yang mungkin sempat renggang.
Keempat, motivasi simbolik-spiritual. Perjalanan yang ditempuh para peserta bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Ia mengandung nilai pengorbanan, keteguhan, dan penghormatan terhadap tanah leluhur.
Dalam refleksi saya, “Green Opening” yang berlangsung pagi tadi bukan sekadar pembukaan sebuah event. Ia adalah simbol bahwa Sula sedang menanam kembali harapan, menghijaukan ingatan, menyuburkan identitas, dan menegaskan arah masa depan yang berakar pada masa lalu.
Gabalil Hai Sua, dengan segala dinamikanya, telah memperlihatkan kepada kita bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari infrastruktur, tetapi bisa juga dimulai dari kesadaran kolektif. Dari rasa memiliki, dari ingatan, serta dari semangat yang sama, dan mungkin di situlah letak sesungguhnya dari “The Spirit of Sula”.
Oleh: Mohtar Umasugi







