Musi Rawas, investigasi.News — Puluhan pemuda yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Musi Bersuara (APMB) menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Musi Rawas, Senin (4/8). Mereka menuntut penuntasan sejumlah kasus dugaan korupsi besar yang dinilai mandek tanpa kejelasan hukum.
Dalam orasinya, massa menyoroti beberapa kasus yang dianggap mencurigakan, seperti proyek pengadaan seragam sekolah tahun anggaran 2023 senilai Rp11,6 miliar, hibah Rp6 miliar kepada organisasi yang baru berdiri, Jam’iyatul Hufadz Indonesia (JHI), serta dugaan mark up kegiatan di lingkungan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).
“Kami datang karena kecewa. Kejaksaan yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan korupsi, justru terkesan diam dan membiarkan uang rakyat dihambur-hamburkan tanpa proses hukum yang jelas,” tegas Neka, koordinator aksi.
Neka menuntut agar Kejari tidak bermain mata dengan oknum tertentu, dan segera menetapkan tersangka dalam kasus-kasus yang sudah lama bergulir. “Tegakkan hukum tanpa pandang bulu. Tangkap dan adili para koruptor! Mereka perusak negeri yang tega menindas rakyat demi kepentingan pribadi,” serunya lantang.
Namun hingga aksi berlangsung menjelang siang, Kepala Kejaksaan Negeri Musi Rawas tak kunjung menemui massa. Ini menimbulkan kekecewaan mendalam dan pertanyaan serius dari peserta aksi.
“Kami di sini menyuarakan keresahan masyarakat. Tapi Kajari justru absen tanpa penjelasan langsung. Kalau menemui rakyat saja tidak berani, bagaimana bisa menangkap koruptor?” sindir Neka tajam.
Pihak Kejari yang diwakili salah seorang pejabat menyampaikan bahwa Kajari sedang bertugas luar daerah di Palembang. Ia juga menyampaikan bahwa proses hukum tetap berjalan dan tidak akan dihentikan.
Namun, APMB menilai jawaban itu belum mencerminkan progres nyata.
“Kalau tidak sanggup menegakkan hukum, lebih baik mundur dengan hormat. Jangan tunggu dipaksa mundur secara tidak terhormat,” ujar Neka, menutup aksinya.
Meski demikian, APMB menyatakan akan terus mengawal perkembangan penanganan kasus-kasus tersebut. Mereka pun mengancam akan menggelar aksi lanjutan dengan massa lebih besar jika tidak ada kejelasan dalam waktu dekat.
(kens)

















