Fantasi CEO Kaya dan Cinta yang Menormalisasi Patriarki

More articles

Investigasi.News-, Mengapa kisah cinta bos kaya dan gadis sederhana terasa masuk akal dan apa dampaknya bagi cara kita memandang relasi?

Cinta yang datang tiba-tiba, kehidupan yang berubah seketika, dan sosok laki-laki mapan yang hadir sebagai penyelamat cerita ini terasa begitu akrab. Kita menemukannya dalam microdrama berdurasi singkat, potongan video media sosial, hingga serial romantis yang mudah viral. Tanpa perlu mengikuti dari awal sampai akhir, penonton sudah paham alurnya. “CEO kaya jatuh cinta pada gadis sederhana” bukan lagi sekadar cerita, melainkan fantasi kolektif yang kita tonton berulang kali.

Ketika pemerintah Tiongkok memutuskan melarang produksi drama pendek dengan pola cerita semacam ini, publik internasional terkejut. Namun di balik kebijakan tersebut, ada kegelisahan yang patut dicermati bersama: kekhawatiran bahwa kisah cinta instan semacam ini mempromosikan harapan tidak realistis, mengagungkan kekayaan dan kekuasaan, serta membungkus ketimpangan sebagai romansa.

Microdrama bekerja dengan cara yang berbeda dari drama konvensional. Durasi yang singkat, emosi yang dipadatkan, dan distribusi yang masif membuat cerita dikonsumsi berulang tanpa jeda refleksi. Dalam satu hari, penonton bisa melihat puluhan variasi kisah yang sebenarnya serupa. Di sinilah media tidak lagi sekadar menghibur, tetapi mulai membentuk kebiasaan memaknai cinta.

Dalam kajian komunikasi, pengaruh semacam ini dijelaskan melalui cultivation theory. Teori ini melihat media sebagai ruang tempat makna ditanamkan secara perlahan. Bukan lewat pesan yang memaksa, melainkan melalui pengulangan cerita yang terasa biasa. Apa yang sering ditonton, lama-kelamaan terasa wajar. Apa yang wajar, akhirnya diterima sebagai gambaran realitas.

Ketika microdrama terus menyajikan relasi yang sama laki-laki berkuasa, perempuan yang “diselamatkan”, dan kebahagiaan yang datang melalui pernikahan cerita itu membentuk imajinasi sosial tentang cinta ideal. Bukan cinta yang setara, melainkan cinta yang bertumpu pada kuasa. Ketimpangan ekonomi dan keputusan tidak dipersoalkan, justru dirayakan sebagai bagian dari romansa.

Jika ditarik ke konteks Indonesia, daya tanam cerita ini menemukan lahan yang subur. Dalam kehidupan sehari-hari, relasi patriarkal masih sering dianggap lumrah. Ungkapan seperti “yang penting suaminya mapan”, “perempuan itu ikut saja”, atau “rezeki istri dari suami” bukan hal asing. Microdrama romantis tidak menciptakan nilai-nilai ini, tetapi memperhalus dan menguatkannya melalui kisah yang emosional dan menyenangkan.

Efeknya tidak datang sekaligus. Ia bergerak pelan, dari cara berpikir hingga cara merasa. Penonton mulai memandang ketergantungan ekonomi sebagai sesuatu yang normal, bahkan ideal. Relasi yang timpang tidak lagi terasa problematis, karena telah lama dikemas sebagai cinta. Dalam istilah cultivation theory, proses ini dikenal sebagai mainstreaming: berbagai kelompok penonton, dengan latar belakang berbeda, berbagi imajinasi yang sama tentang relasi ideal.

Microdrama juga bekerja melalui kedekatan dengan pengalaman sehari-hari. Ceritanya dibuat sederhana, karakternya terasa dekat, konfliknya mudah dipahami. Kedekatan inilah yang membuat pesan lebih mudah diterima. Ketika cerita di layar terasa mirip dengan nilai yang sudah hidup di masyarakat, proses penanaman makna menjadi semakin kuat. Patriarki tidak tampil sebagai struktur sosial yang perlu dikritisi, melainkan sebagai bagian alami dari kisah cinta.

Bukan berarti menonton drama romantis adalah kesalahan. Hiburan tetap memiliki tempatnya. Namun persoalannya adalah ketika satu jenis cerita mendominasi tanpa tandingan. Ketika fantasi yang sama terus diulang, ia berhenti menjadi sekadar cerita dan mulai membentuk cara kita memandang relasi nyata tentang siapa yang memimpin, siapa yang menunggu, dan siapa yang pantas bahagia.

Larangan drama China, pada akhirnya, bukan soal meniru kebijakan negara lain. Ia menjadi cermin untuk bertanya pada diri sendiri: cerita seperti apa yang selama ini kita konsumsi tanpa sadar? Nilai apa yang kita biarkan tumbuh melalui tontonan harian kita?

Di tengah banjir microdrama dan cerita instan, mungkin yang kita butuhkan bukan sensor, melainkan kesadaran. Kesadaran bahwa tidak semua kisah cinta layak diterima tanpa jarak kritis. Karena layar tidak hanya memantulkan cerita orang lain. Ia juga sedang menanamkan cara kita memandang cinta, kuasa, dan relasi di dunia nyata. Ketika cerita itu ditonton berulang kali, ia tidak lagi tinggal di layer, melainkan tumbuh dalam pikiran mereka yang akan membentuk generasi berikutnya. Ia perlahan hidup bersama kita.

Pada akhirnya pemerintah Tiongkok menyadari bahwa fantasi romantis yang mengagungkan kekayaan dan dominasi, jika dibiarkan, berpotensi merusak cara generasi muda memaknai realitas sosial mereka sendiri.Kesadaran ini patut menjadi bahan refleksi bagi kita di Indonesia. Di tengah budaya patriarki yang masih kerap dianggap wajar.

Refleksi Teoretis

Artikel ini menggunakan Cultivation Theory untuk membaca fenomena microdrama romantis bertema “CEO kaya jatuh cinta pada gadis miskin” sebagai proses penanaman makna sosial melalui media. Media khususnya drama yang dikonsumsi intens melalui platform digital berfungsi sebagai sarana transmisi nilai budaya yang memengaruhi khalayak pada ranah kognitif, afektif, hingga konatif . Dalam konteks microdrama, pengulangan narasi cinta berbasis ketimpangan kuasa berkontribusi pada proses mainstreaming, di mana relasi patriarkal dipersepsikan sebagai sesuatu yang wajar dan ideal. Kedekatan cerita dengan pengalaman sosial sehari-hari memperkuat efek kultivasi, sehingga nilai patriarki tidak dipahami sebagai konstruksi sosial, melainkan sebagai realitas yang alamiah. Dengan demikian, artikel ini menunjukkan bahwa microdrama romantis bukan sekadar hiburan populer, tetapi bagian dari sistem pesan media yang secara perlahan membentuk cara masyarakat memaknai cinta, relasi gender, dan kekuasaan.

Penulis : Nelly Nuroniah
Program Studi Magister Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Jakarta

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest