Terpanggil Menghadiri Kongres HPMS ke IV

More articles

Malut, Investigasi.News-, Tulisan ini merupakan bagian dari serial refleksi “Catatan Kongres dari Sula”, sebuah ikhtiar intelektual untuk membaca dinamika organisasi, kepemimpinan, dan tanggung jawab moral generasi Sula. Kongres HPMS ke IV menjadi pintu masuk refleksi tentang kesadaran kolektif, etika berorganisasi, dan harapan kesejahteraan masyarakat Sula sebagai horizon perjuangan bersama.

Terpanggil menghadiri Kongres HPMS ke IV bukanlah semata karena kewajiban organisatoris, apalagi sekadar memenuhi formalitas agenda tahunan. Ia lahir dari kesadaran batin bahwa HPMS bukan organisasi biasa, melainkan paguyuban nilai—ruang berhimpunnya harapan, kegelisahan, dan tanggung jawab generasi Sula yang sedang menempuh jalan intelektualnya.

Dalam perspektif filosofis, kongres adalah momen reflektif: ruang jeda tempat organisasi bercermin pada dirinya sendiri. Ia menjadi titik evaluasi atas perjalanan masa lalu, sekaligus ruang perumusan arah masa depan. Tanpa kesadaran reflektif, kongres akan terjebak menjadi rutinitas prosedural. Namun dengan kesadaran kolektif, kongres dapat menjelma sebagai laboratorium gagasan yang melahirkan ide-ide kreatif untuk menjawab dinamika internal dan eksternal organisasi.

Sebagai paguyuban, HPMS dibangun di atas ikatan emosional, kesamaan asal-usul, dan cita-cita bersama. Dalam logika paguyuban (gemeinschaft), kekuatan organisasi tidak hanya ditentukan oleh struktur formal, tetapi oleh nilai-nilai yang hidup di dalam kesadaran anggotanya. Kongres HPMS ke IV seharusnya menjadi momentum untuk merawat kembali ruh paguyuban itu—menguatkan solidaritas, memperdalam makna kebersamaan, dan menegaskan orientasi pengabdian.

Dinamika internal HPMS hari ini menuntut kedewasaan organisasi. Persoalan kaderisasi, regenerasi kepemimpinan, dan konsistensi gerakan tidak bisa lagi dijawab dengan pola lama. Di saat yang sama, dinamika eksternal—perubahan sosial, tekanan politik, serta tantangan ekonomi daerah—menuntut HPMS untuk lebih peka, kritis, dan solutif. Ide-ide kreatif hanya akan lahir jika peserta kongres hadir bukan sekadar sebagai delegasi, melainkan sebagai subjek berpikir yang menyadari tanggung jawab sejarahnya.

Melihat HPMS sejatinya sama dengan melihat Sula. Di dalam HPMS tercermin wajah masyarakat Sula: ada keberagaman, ada potensi, ada konflik, dan ada harapan tentang masa depan yang lebih sejahtera.Karena itu, arah HPMS tidak boleh dilepaskan dari imajinasi besar tentang kesejahteraan masyarakat Sula. Organisasi ini harus mampu menjembatani antara dunia intelektual mahasiswa dan realitas sosial daerah, antara gagasan kritis dan keberpihakan nyata pada rakyat.

Kesadaran ini menjadi semakin penting jika HPMS dibaca melalui kerangka pemikiran para cendekiawan. Ferdinand Tönnies mengingatkan bahwa paguyuban sejati (gemeinschaft) hidup dari relasi batin, solidaritas, dan kesetiaan pada nilai—bukan dari kalkulasi kepentingan yang mekanis sebagaimana gesellschaft.

Kesadaran paguyuban ini menemukan kedalaman maknanya dalam gagasan Kuntowijoyo tentang etika profetik: bahwa organisasi intelektual harus mampu mentransformasikan nilai ke dalam praksis sosial yang membela kemanusiaan dan keadilan.

Di titik inilah pemikiran Nurcholish Madjid menjadi peneguh arah, bahwa berorganisasi pada dasarnya adalah ikhtiar moral untuk memuliakan martabat manusia, bukan memperbesar ego individu maupun kelompok. Kongres HPMS ke IV, dengan demikian, bukan sekadar forum pengambilan keputusan, melainkan ruang etis untuk meneguhkan kembali orientasi nilai organisasi.

Kongres HPMS ke IV semestinya menjadi ruang dialektika gagasan, bukan sekadar arena perebutan posisi struktural. Perbedaan pandangan harus ditempatkan sebagai energi intelektual, bukan sebagai sumber fragmentasi. Kepemimpinan yang lahir dari kongres ini diharapkan tidak hanya kuat secara administratif, tetapi juga matang secara moral dan visioner dalam membaca tantangan zaman.

Terpanggil menghadiri Kongres HPMS ke IV berarti terpanggil untuk menjaga arah. Arah agar HPMS tetap menjadi rumah bersama bagi lahirnya pemikiran kritis, etika kolektif, dan keberpihakan sosial. Dari ruang kongres inilah semestinya tumbuh kesadaran baru: bahwa berorganisasi adalah proses panjang pembentukan karakter, dan bahwa kesejahteraan masyarakat Sula membutuhkan peran intelektual yang konsisten, jujur, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, Kongres HPMS ke IV menuntut kehadiran yang lebih dari sekadar fisik—ia menuntut kehadiran nurani. Baik peserta resmi maupun Rombongan Penggembira (Rombi) memikul tanggung jawab moral yang sama: menjaga marwah paguyuban ini agar tidak tereduksi menjadi ruang euforia sesaat tanpa makna. Sorak, dukungan, dan dinamika forum semestinya bermuara pada satu kesadaran bersama, bahwa HPMS adalah amanah kolektif, bukan milik individu atau kelompok.

Dari ruang kongres ini, hendaknya lahir tekad bersama untuk mengembalikan HPMS sebagai rumah nilai, ruang belajar, dan medan pengabdian—tempat gagasan tumbuh, etika dijaga, dan mimpi kesejahteraan masyarakat Sula dirawat dengan kesungguhan dan kejujuran.

Penulis adalah: Mohtar Umasugi, Akademisi STAI Babussalam Sula Maluku Utara ( Kini sebagai Koordinator Presidium MD KAHMI Kepulauan dan Ketua ORDA ICMI kepulauan Sula ).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest