PIDIE JAYA | Investigasi.News – Di tengah gencarnya pembangunan dan berbagai program bantuan sosial yang terus digulirkan pemerintah, masih ada warga yang hidup dalam kondisi jauh dari kata layak. Kisah pilu itu datang dari Desa Peulandok Teungoh, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya.
Selama lebih dari dua dekade, sepasang suami istri hidup dalam keterbatasan yang sulit dibayangkan. Bukan hanya bergelut dengan kemiskinan, mereka juga harus bertahan di rumah reyot tanpa fasilitas dasar seperti kamar mandi, WC, maupun sumber air yang memadai.
Dari penelusuran kontributor Investigasi.News, pasangan tersebut adalah Nurdin dan istrinya, Fonna. Keduanya telah menetap selama 25 tahun di rumah peninggalan nenek sang istri yang dihibahkan kepada mereka.
Namun rumah yang mereka tempati lebih pantas disebut gubuk daripada hunian. Bangunan semi permanen itu tampak rapuh dimakan usia. Dinding yang terbuat dari triplek bekas banyak yang rusak, sementara plafon rumah nyaris tak lagi mampu melindungi penghuni dari terjangan hujan dan angin.
Setiap kali cuaca buruk datang, pasangan lanjut usia ini harus bersiap menghadapi malam yang penuh kecemasan. Air hujan kerap masuk dari berbagai celah, memaksa mereka berpindah-pindah tempat tidur untuk mencari sudut rumah yang masih kering.
Kondisi itu semakin memprihatinkan karena Nurdin merupakan penyandang disabilitas akibat cacat pada kakinya. Sementara sang istri yang telah lanjut usia juga tidak lagi memiliki tenaga yang cukup untuk bekerja berat.
Lebih menyedihkan lagi, rumah tersebut tidak dilengkapi kamar mandi maupun WC. Bahkan sumur yang mereka gunakan berada di luar rumah tanpa pagar atau pelindung yang layak. Untuk kebutuhan sanitasi sehari-hari, mereka harus menumpang fasilitas umum.
Tak hanya berjuang menghadapi kemiskinan, pasangan ini juga harus merawat salah seorang anak mereka yang mengalami gangguan jiwa atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
“Kami sudah 25 tahun tinggal di rumah yang dihibahkan oleh nenek istri saya. Kondisinya seperti ini, tidak ada kamar mandi, tidak ada WC, bahkan tidur pun seadanya. Terkadang tengah malam kami harus pindah tempat tidur kalau hujan deras karena air hujan dan angin masuk ke dalam rumah,” tutur Nurdin dengan nada lirih.
Ia mengaku keterbatasan fisik membuatnya tidak mampu bekerja berat. Selama ini dirinya hanya mengandalkan pekerjaan serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara sang istri membantu bekerja kepada warga sekitar demi mendapatkan beras dan kebutuhan dapur sehari-hari.
Senada dengan suaminya, Fonna mengaku hanya memiliki satu harapan sederhana di masa tuanya, yakni tinggal di rumah yang layak dan memiliki fasilitas dasar seperti keluarga lainnya.
“Saya sangat ingin memiliki rumah yang layak, Pak. Sudah setua ini saya belum pernah menikmati hidup di rumah yang nyaman. Saya ingin di masa tua ini bisa merasakan tinggal di rumah yang ada sumur, kamar mandi, dan WC,” ucapnya sambil menahan tangis.
Kondisi keluarga tersebut dibenarkan oleh Keuchik Desa Peulandok Teungoh, Mucklis. Ia mengatakan bahwa Nurdin dan keluarganya memang telah lama tinggal di rumah hibah milik nenek istrinya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
“Benar, mereka sudah lama menetap di rumah itu sejak dihibahkan oleh neneknya. Sampai sekarang rumah tersebut tidak memiliki kamar mandi dan WC. Kalau ingin buang air besar, mereka harus pergi ke masjid karena di rumah tidak ada fasilitas tersebut,” jelas Mucklis tadi.
Potret kehidupan Nurdin dan Fonna menjadi cermin bahwa masih ada masyarakat yang hidup dalam kemiskinan ekstrem dan belum tersentuh bantuan yang memadai. Di balik berbagai angka pertumbuhan dan pembangunan yang sering dipaparkan, masih terdapat warga yang berjuang mempertahankan hidup dengan segala keterbatasan.
Ironisnya, kelompok masyarakat paling rentan sering kali hanya menjadi perhatian ketika momentum politik tiba. Setelah itu, kehidupan mereka kembali tenggelam dalam sunyi dan keterbatasan.
Ini bukan sekadar cerita tentang kemiskinan. Ini adalah fakta yang masih nyata terjadi di tengah masyarakat. Sebuah potret yang seharusnya mengetuk hati para pemangku kebijakan, dermawan, dan seluruh pihak yang memiliki kemampuan untuk membantu, agar tidak lagi ada warga yang menghabiskan masa tuanya dalam rumah yang nyaris roboh tanpa fasilitas dasar untuk hidup secara manusiawi.
(Herry)







