Jayapura, Investigasi.News — Pegunungan Cycloop yang selama ini menjadi benteng kehidupan masyarakat Papua kini diduga sedang dijarah secara brutal. Aktivitas pendulangan emas yang diduga ilegal di kawasan hutan lindung Kampung Puai, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, disebut semakin masif dan terang-terangan.
Ketua LSM Wadah Generasi Anak Bangsa (WGAB), Yerri Basri Mak, SH MH, mengecam keras dugaan aktivitas tambang tanpa izin tersebut dan meminta aparat penegak hukum tidak lagi sekadar menjadi penonton.
“Jangan tunggu Cycloop hancur baru negara bergerak. Kami mendesak Bupati Jayapura, Polda Papua, dan seluruh aparat terkait segera bentuk tim gabungan untuk menutup dan menertibkan tambang yang diduga ilegal di Sentani Timur,” tegas Yerri, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, kerusakan kawasan Cycloop bukan sekadar persoalan tambang ilegal, tetapi ancaman nyata terhadap keselamatan warga dan masa depan Danau Sentani. Ia menilai pembiaran terhadap aktivitas tersebut dapat menjadi bencana ekologis besar bagi Papua.
“Danau Sentani bukan tempat buangan lumpur tambang. Itu sumber kehidupan masyarakat Papua. Kalau negara terus diam, publik berhak bertanya: ada apa di balik semua ini?” katanya tajam.
Berdasarkan penelusuran InvestigasiNews, aktivitas tambang emas yang sebelumnya terdeteksi di kawasan Sungai Jaifuri, Kampung Yokiwa, kini diduga merangsek masuk hingga kawasan hutan Kampung Puai.
Video yang diterima redaksi memperlihatkan suara mesin dompeng meraung di tengah kawasan perbukitan Cycloop. Dalam rekaman tersebut juga tampak puluhan alat berat diduga beroperasi membuka lahan dan menggali perut hutan lindung. Sejumlah lubang besar terlihat menganga, sementara aliran sungai di sekitar lokasi berubah keruh kecoklatan yang diduga akibat sedimentasi material tambang.
Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku khawatir kawasan Cycloop akan bernasib sama seperti wilayah lain yang rusak akibat tambang liar.
“Kalau hutan habis, hujan dua jam saja Sentani bisa tenggelam lumpur. Kami yang tinggal di bawah ini yang akan jadi korban,” ujarnya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Pegunungan Cycloop merupakan kawasan hutan lindung sekaligus daerah tangkapan air utama bagi Danau Sentani. Jika kawasan hulu rusak, maka ancaman banjir lumpur, longsor, hingga penyusutan danau tinggal menunggu waktu.
Data Balai Wilayah Sungai Papua tahun 2024 mencatat luas Danau Sentani telah menyusut sekitar dua persen dalam lima tahun terakhir akibat sedimentasi dari wilayah hulu. Peneliti Universitas Cenderawasih, Dr. Yonas T, menyebut daya dukung lingkungan Cycloop terus melemah.
“Fungsi resapan air menurun dan sedimentasi meningkat. Dampaknya bisa mempercepat kerusakan Danau Sentani,” jelasnya.
Aktivitas tambang serupa sebelumnya juga telah ditemukan Pemerintah Kabupaten Jayapura di kawasan Sungai Jaifuri, Kampung Yokiwa. Tim Pemkab bahkan menemukan kamp pekerja dan alat berat jenis ekskavator di lokasi tambang.
“Material galian dibuang langsung ke aliran air sehingga muara menuju Danau Sentani menyempit,” ungkap sumber dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jayapura.
Warga pun mengaku trauma dengan peristiwa longsor yang pernah terjadi di wilayah perbukitan Jayapura akibat aktivitas tambang emas tanpa izin.
“Kami takut bencana datang lagi. Jangan sampai ada korban jiwa baru pemerintah sibuk turun lapangan,” kata warga lainnya.
Sementara itu, seorang mantan pekerja mengaku hasil tambang dari kawasan Cycloop diduga dijual kepada penampung di Kota Jayapura. Namun demikian, InvestigasiNews belum dapat memverifikasi secara independen informasi tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, wartawan InvestigasiNews masih berupaya meminta konfirmasi kepada aparat penegak hukum, Pemerintah Kabupaten Jayapura, Kementerian ESDM, serta KLHK terkait dugaan aktivitas tambang emas ilegal di kawasan hutan lindung Cycloop. Sampai saat ini belum ada keterangan resmi yang diterima redaksi.
Sesuai Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik, InvestigasiNews memberikan ruang hak jawab dan hak koreksi kepada seluruh pihak yang disebut dalam pemberitaan ini. Tim



















