Pidie Jaya | Investigasi.News — Enam bulan lebih pasca banjir hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Pidie Jaya, berbagai dampak bencana masih terlihat jelas di sejumlah titik. Selain material lumpur dan kerusakan infrastruktur yang belum sepenuhnya tertangani, terdapat satu persoalan yang kini menjadi ancaman serius bagi keselamatan pengguna jalan, yakni genangan air yang terus menguasai badan Jalan Nasional di Desa Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua.
Tepatnya di simpang menuju Dayah Umul Aiman, saluran pembuangan air yang tidak berfungsi menyebabkan air hujan menggenang dan bertahan dalam waktu lama. Kondisi tersebut semakin parah setiap musim hujan karena tidak adanya drainase yang memadai untuk mengalirkan air ke tempat pembuangan.
Pantauan kontributor Investigasi.News, Minggu (14/6/2026), genangan air tersebut telah terjadi sejak pasca banjir besar melanda wilayah itu. Air yang menggenang tidak hanya menutupi sebagian badan jalan, tetapi juga memaksa pengendara sepeda motor mengambil jalur lebih ke tengah jalan untuk menghindari kubangan.
Situasi ini menjadi sangat berbahaya karena lokasi genangan berada di area tikungan. Akibatnya, pengendara dari arah berlawanan maupun kendaraan yang melaju searah harus saling berebut ruang jalan, meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
Sejumlah warga mengaku nyaris menjadi korban akibat kondisi tersebut.
Nuraini (38), salah seorang pengguna jalan, menceritakan dirinya hampir tertabrak kendaraan roda empat ketika melintas di lokasi.
“Saya hampir ditabrak mobil, Pak. Mobil itu mengambil jalur saya karena di sebelah kirinya ada sepeda motor yang berjalan ke tengah jalan untuk menghindari genangan air. Saya kaget karena mobil tiba-tiba masuk ke jalur saya,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Syarwan (45). Ia mengaku hampir tersenggol sebuah truk saat berusaha menghindari genangan yang menutupi sisi kiri jalan.
“Untung belum terjadi apa-apa, Pak. Kalau sedikit saja tersenggol, habis saya. Sebenarnya bukan salah sopir truk, saya juga terpaksa berjalan agak ke tengah karena di kiri ada genangan air. Coba lihat sendiri, airnya masih tergenang sampai sekarang,” katanya sambil menunjuk lokasi.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ini bukan lagi sekadar masalah kenyamanan pengguna jalan, melainkan telah berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat.
Ironisnya, genangan yang telah berlangsung berbulan-bulan itu berada di ruas Jalan Nasional yang setiap hari dilalui kendaraan pribadi, angkutan umum, hingga truk bertonase besar. Namun hingga kini belum terlihat adanya langkah penanganan yang signifikan dari pihak terkait.
Warga berharap instansi berwenang segera turun tangan melakukan normalisasi saluran pembuangan air atau membangun drainase yang memadai sebelum terjadi kecelakaan yang merenggut korban jiwa.
Pertanyaannya, apakah genangan air ini akan ditangani sebelum jatuh korban? Ataukah harus menunggu kecelakaan terlebih dahulu agar mendapat perhatian?
(Herry)







