Jakarta— Sejumlah peluang investasi strategis Kota Padang Panjang dipaparkan Wali Kota, Hendri Arnis dalam pertemuannya bersama Kepala BP BUMN sekaligus COO BPI Danantara, Dony Oskaria.
Pertemuan ini juga dihadiri Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi, serta para bupati dan wali kota se-Sumatera Barat, Rabu (15/4/2026).
Tawaran dan potensi yang disampaikan di antaranya pemanfaatan lahan negara berupa tanah erfpacht di Sungai Andok, pengembangan kawasan PDIKM untuk UMKM dan pariwisata, hingga gagasan wisata kereta gantung yang memanfaatkan kontur wilayah kota.
“Padang Panjang tidak hanya menawarkan potensi, tetapi juga kesiapan. Kami sudah menyiapkan arah pengembangan yang jelas dan terbuka untuk kolaborasi. Tinggal bagaimana ini kita jemput bersama dengan dukungan Pemerintah Pusat dan investor,” ujar Hendri.
Wako Hendri menegaskan, seluruh potensi tersebut telah disiapkan dengan arah pengembangan yang jelas dan terbuka untuk kolaborasi lintas sektor. Ia menilai, keterlibatan Kementerian, Pemerintah Provinsi, serta investor menjadi kunci agar berbagai rencana tersebut dapat segera terealisasi dan memberi dampak langsung bagi masyarakat.
Selain itu, Hendri juga mengangkat rencana pemanfaatan lahan pemerintah di kawasan Sport Centre untuk kegiatan pendidikan, serta rehabilitasi kawasan Bancalaweh sebagai pusat olahraga, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Tak kalah penting, revitalisasi kawasan Stasiun Kereta Api bersejarah di Pasar Usang diusulkan dengan konsep kolaborasi berbasis UMKM, bukan sekadar pola sewa.
“Kami ingin pengembangan ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka ruang bagi UMKM dan ekonomi kreatif untuk tumbuh bersama. Konsepnya kolaborasi, bukan sekadar komersial,” tambahnya.
Ia turut menambahkan, pembangunan gedung parkir di pusat kota menjadi bagian dari upaya mendukung kelancaran aktivitas ekonomi dan kenyamanan pengunjung, seiring meningkatnya mobilitas di kawasan perkotaan.
Dalam forum tersebut, Dony menekankan pentingnya percepatan investasi sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah. Ia menyoroti perlunya hilirisasi komoditas unggulan, penguatan infrastruktur, serta kepastian ekosistem investasi, mengingat laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang masih relatif rendah dan sempat melambat ke angka 3,4 persen pada 2025. (harris/Kamal)

















