Cilacap, investigasi.News– Proyek irigasi yang dikerjakan P3A Jaya Makmur di Desa Rejamulya, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap, kini menuai sorotan tajam. Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) dengan nilai Rp195 juta itu diduga dikerjakan tidak sesuai dengan standar teknis, bahkan cenderung asal-asalan dan berpotensi merugikan negara.
Pantauan langsung tim media di lapangan menemukan fakta mencengangkan. Pekerjaan dilakukan dalam kondisi saluran masih tergenang air. Batu belah besar dimasukkan ke dalam bekisting, bukan dipasang satu per satu sesuai prosedur teknis. Lebih parah lagi, adukan semen yang bercampur lumpur digunakan untuk menutup pasangan batu, sebagaimana terlihat jelas pada dokumentasi foto yang diambil di lokasi.
Ketebalan lantai kerja pun dipertanyakan. Hasil pengukuran menunjukkan hanya sekitar 10 cm, jauh di bawah standar yang seharusnya. Pondasi dasar batu pasang bahkan tidak menggunakan campuran semen atau pasir urug, melainkan hanya disusun langsung di atas tanah basah. Kondisi ini menimbulkan keraguan besar atas kekuatan konstruksi, yang dikhawatirkan hanya mampu bertahan dalam hitungan bulan.
Ketua P3A Jaya Makmur, Supri, saat dikonfirmasi via WhatsApp, mengklaim pekerjaan sudah 90% rampung dengan spesifikasi tinggi 50 cm, lebar 40 cm, tebal dinding 30 cm, dan tebal lantai 20 cm. Namun, ketika ditanya soal penggunaan adukan semen bercampur lumpur dan dikirimkan bukti foto, Supri memilih bungkam dan tidak memberikan jawaban lebih lanjut.
Menurut TO, aktivis anti-korupsi yang turut menyoroti proyek ini, teknik seperti ini jelas merupakan modus untuk mengurangi penggunaan material. “Kalau batu dipasang normal satu per satu, butuh waktu lama, semen dan pasir banyak, serta finishing plester harus rapi. Dengan bekisting, batu bisa dilempar masuk, ditutup lumpur campur semen, lalu langsung difinishing. Cepat memang, tapi kualitas jelas sangat rendah,” tegasnya (12/09).
Temuan ini harus menjadi perhatian serius Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy, khususnya PPK OP 1. Jika tidak segera dibongkar dan diperbaiki, proyek berpotensi menimbulkan kerugian negara dan masuk ranah dugaan tindak pidana korupsi. Kajari Cilacap pun didesak turun tangan menindaklanjuti dugaan penyimpangan ini.
Masyarakat berharap ada pengawasan ketat, karena proyek ini sejatinya ditujukan untuk meningkatkan tata guna air dan kesejahteraan petani. Tim media memastikan akan terus mengawal pekerjaan hingga masa perawatan selesai. Jika setelah perawatan bangunan sudah menunjukkan kerusakan, publik tentu akan semakin gencar menuntut pertanggungjawaban.
Tim








