Banner iklan

Setelah Gempa Berhenti, Mengapa Tubuh dan Pikiran Masih Merasa Berguncang?

More articles

NTT, Investigasi.News — Gempa bumi tidak hanya mengguncang tanah dan bangunan. Bagi penyintas, pengalaman tersebut juga dapat mengguncang rasa aman dan meninggalkan dampak yang masih terasa meski getaran bumi telah berhenti.

Pasca gempa Flores pada 15 Agustus 2026 dan sejumlah gempa susulan, sebagian masyarakat mengaku masih mengalami rasa takut, sulit tidur, mudah terkejut, cemas, hingga merasakan tubuh atau lantai seolah masih bergoyang.

Namun, apakah kondisi tersebut otomatis menunjukkan seseorang mengalami gangguan psikologis? Belum tentu.

Menurut psikologi, berbagai reaksi emosional, pikiran, maupun tubuh setelah bencana pada dasarnya dapat merupakan respons normal terhadap situasi krisis.

Setiap orang memiliki proses pemulihan yang berbeda. Ada yang mengalami stres tinggi sejak bencana hingga hari-hari berikutnya. Ada pula yang justru baru mengalami peningkatan stres setelah situasi mulai berlalu. Sebagian lainnya berangsur pulih dan mampu kembali menjalankan aktivitas, sementara ada yang sejak awal menunjukkan dampak minimal.

Pengalaman gempa yang kuat dan menakutkan dapat membuat otak menangkap lingkungan sebagai sesuatu yang masih berbahaya. Sistem tubuh kemudian berada dalam kondisi lebih siap menghadapi ancaman berikutnya.

Kondisi ini dapat terlihat melalui gejala seperti mudah terkejut, tegang, sulit tidur, jantung berdebar, sulit berkonsentrasi, serta terus memperhatikan suara atau gerakan di sekitar.

Dalam kondisi tersebut, suara benda jatuh, pintu bergerak, kendaraan melintas, getaran kecil, atau pergerakan bangunan dapat lebih cepat ditafsirkan sebagai tanda bahaya.

Kewaspadaan berlebihan atau “hypervigilance” menjadi salah satu respons yang mungkin muncul.

Untuk masyarakat Flores yang masih menghadapi kemungkinan gempa susulan, rasa takut tersebut juga tidak dapat begitu saja dianggap sebagai kepanikan. Ancaman gempa susulan memang nyata. Karena itu, kewaspadaan perlu dibarengi dengan informasi resmi dan pemahaman mengenai prosedur keselamatan.

Keluhan lain yang muncul setelah gempa adalah sensasi seolah lantai masih bergerak atau tubuh masih bergoyang.

Menurut penjelasan psikologis dan medis yang disampaikan dalam materi tersebut, sensasi ini tidak berarti seseorang mengada-ada.

Setelah mengalami tekanan berat, sistem saraf dapat tetap berada dalam kondisi siaga sehingga sensasi tubuh lebih mudah dirasakan dan ditafsirkan sebagai ancaman. Di sisi lain, sebagian orang memang dapat mengalami sensasi bergerak, bergoyang, pusing, atau kehilangan keseimbangan setelah gempa, meskipun pada saat itu tidak terdapat gempa yang tercatat.

Fenomena tersebut antara lain dikenal sebagai “phantom earthquake sensation” atau “post-earthquake dizziness syndrome”.

Meski demikian, apabila sensasi tersebut menetap atau disertai pusing berat, gangguan keseimbangan, mual, maupun keluhan fisik lainnya, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan perlu dipertimbangkan.

Rasa takut, sedih, marah, bingung, sulit tidur, mimpi buruk, mudah terkejut, sulit berkonsentrasi, sakit kepala, kelelahan, hingga keinginan untuk terus berada dekat dengan orang lain dapat muncul setelah bencana.

Kondisi tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD).

Yang perlu mendapat perhatian lebih serius adalah ketika reaksi tersebut sangat berat, semakin memburuk, mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari, menyebabkan seseorang semakin menarik diri, atau tidak menunjukkan perbaikan setelah beberapa waktu.

Dalam situasi demikian, dukungan dari psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan dapat dipertimbangkan.

Dukungan terhadap korban bencana tidak selalu harus berupa terapi psikologis. Pada tahap awal, yang dibutuhkan justru dapat berupa rasa aman, kehadiran orang lain, informasi yang jelas, serta kesempatan bagi penyintas untuk kembali mengendalikan kehidupan sehari-hari.

Prinsip Dukungan Psikologis Awal (DPA) dapat diringkas dalam tiga langkah: “Lihat, Dengarkan, dan Hubungkan”.

Lihat kebutuhan dan kondisi keselamatan penyintas. Dengarkan dengan empati tanpa memaksa mereka menceritakan pengalaman traumatis. Kemudian hubungkan dengan keluarga, komunitas, informasi terpercaya, serta layanan profesional apabila diperlukan.

Kalimat seperti “sudahlah, jangan takut” atau “kamu harus kuat” justru berpotensi membuat penyintas merasa tidak dipahami.

Sebaliknya, dukungan sederhana seperti, “Wajar kalau kamu masih takut setelah mengalami gempa sebesar itu. Saya ada di sini. Mari kita cari tahu bersama apa yang bisa membuatmu merasa lebih aman,” dapat memberikan ruang bagi penyintas untuk merasa didengar.

Pendamping juga tidak dianjurkan memaksa korban menceritakan pengalaman traumatis secara rinci sebelum mereka siap.

Dampak bencana tidak selalu terlihat secara fisik. Seseorang mungkin tampak baik-baik saja, tetapi masih menyimpan rasa takut, kewaspadaan, maupun perasaan kehilangan kendali.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa pemulihan psikologis membutuhkan waktu dan setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda.

Mengembalikan rutinitas secara bertahap, menjaga pola makan dan tidur, berkomunikasi dengan keluarga maupun tetangga, serta mengikuti informasi kebencanaan dari sumber terpercaya dapat membantu membangun kembali rasa aman.

Pada akhirnya, ketika seorang penyintas mengatakan “Saya masih merasa gempa,” masyarakat tidak seharusnya terburu-buru menganggapnya berlebihan atau mengada-ada.

Bisa jadi tubuh masih berada dalam kondisi siaga. Bisa juga pikiran masih berusaha memproses pengalaman traumatis, sistem keseimbangan tubuh masih beradaptasi, atau terdapat kondisi fisik yang perlu diperiksa.

Gempa mungkin tidak lagi mengguncang dengan kekuatan seperti sebelumnya, tetapi selama gempa susulan masih terjadi, tubuh dan pikiran sebagian penyintas membutuhkan waktu untuk kembali merasa aman.

Penulis: Dra. Lidwina Wahyu Widayati, Psi., Asesor dan Konselor Psikologi untuk Personal dan Profesional.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest