Malut, Investigasi.News-, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula kembali menggelar Wisuda Angkatan ke XII, tahun akademik 2025-2026, dengan jumlah wisudawan yang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada wisuda kali ini, tercatat sebanyak 77 wisudawan/wisudawati, sementara pada tahun lalu jumlah alumni mencapai lebih dari 90 orang, atau turun sekitar 20-an lulusan.
Ketua STAI Babussalam Sula, Dr. Sahrul Takim, menegaskan bahwa penurunan jumlah lulusan tersebut bukan disebabkan oleh rendahnya minat masyarakat terhadap pendidikan tinggi, melainkan karena kendala ekonomi yang dihadapi calon mahasiswa.
“Setiap tahun ini wisudawan/wisudawati semakin menurun, karena belakangan ini saat dilakukan riset terbatas masyarakat tidak punya biaya untuk melanjutkan studinya. Mereka lebih banyak keluar ke perusahaan tambang atau tempat-tempat kerja yang bisa langsung mendapatkan uang”, ujar Dr. Sahrul, Selasa (20/1).
Menurutnya, hasil riset internal kampus menunjukkan bahwa keinginan masyarakat untuk berkuliah sebenarnya masih tinggi. Namun, keterbatasan biaya memaksa sebagian besar memilih langsung bekerja.
“Jadi penurunan ini bukan persoalan minatnya, tapi memang keinginan masyarakat. Itu hasil riset terbatas kita terhadap penurunan mahasiswa dari tahun ke tahun. Penurunan mahasiswa ini berdampak juga terhadap penurunan alumni di Kampus STAI Babussalam Sula“, tambahnya.
Menyikapi kondisi tersebut, kata Sahrul, pihak kampus terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak eksternal guna membuka akses beasiswa bagi mahasiswa. Beberapa program beasiswa yang diupayakan antara lain Kartu Indonesia Pintar (KIP) dari Pemerintah RI, Beasiswa Maluku Utara Bangkit dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara, serta dukungan beasiswa yang dijanjikan oleh Baznas.
“Kami juga berharap pemerintah daerah bisa melihat kondisi saat ini sebagai bagian dari kebutuhan riil untuk membantu masyarakat memperoleh akses di bidang pendidikan“, kata Sahrul.
Ia menambahkan, banyak masyarakat yang sebenarnya ingin menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi, namun baru berani melakukannya setelah ada kepastian bantuan biaya.
“Masyarakat ini ingin berkuliah, hanya tidak punya biaya. Jadi sebagian dibantu melalui beasiswa yang ditawarkan, baru kemudian ada sebagian masyarakat yang berani menguliahkan anak-anaknya“, tukasnya.
Dari sisi kesiapan internal, STAI Babussalam Sula disebut telah memiliki sumber daya manusia yang memadai.
“Dari segi SDM sudah lengkap, termasuk dosen sesuai bidang keilmuannya dan jenjang pendidikan, kemudian kelengkapan fasilitas. Alhamdulillah meskipun belum sempurna“, tambahnya lagi.
Sebagai solusi lain, lanjut Sahrul, pihaknya juga membuka kelas pegawai yang diperuntukkan bagi pegawai dan pekerja yang ingin melanjutkan studi.
“Saat ini kami juga membuka kelas pegawai, khusus untuk para pegawai. Dari Kabupaten Pulau Taliabu dan Kepulauan Sula rata-rata bisa berkuliah di sini, meski perkuliahannya hanya hari Sabtu dan Minggu”, terangnya.
Ke depan, STAI Babussalam Sula memfokuskan langkah pada peningkatan status kelembagaan dari sekolah tinggi menjadi institut.
“Kita lebih fokus pada Sekolah Tinggi ke institute. Kalau sudah institute, baru kemudian bisa memproyeksikan program studi yang lebih umum, karena sekolah tinggi masih keterbatasan ruang pembukaan prodi,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Dr. Sahrul mengajak seluruh elemen untuk bersama-sama memajukan kampus sebagai aset daerah.
“Harapan kami, Kampus STAI Babussalam Sula ini adalah aset milik semua, baik masyarakat maupun pemerintah. Mari sama-sama mendorong peningkatan sumber daya manusia dan memajukan kampus ini sebagai tanggung jawab kita bersama”, tutup Doktor Sahrul Takim Ketua STAI Babussalam Sula.








