‘Badunsanak’ yang Terlupakan: Ancaman Nyata di Tengah Kehidupan Modern

More articles

Di tengah arus zaman yang makin cepat dan individualistis, ada satu hal yang perlahan mulai tergerus tanpa kita sadari: hubungan badunsanak—ikatan persaudaraan yang menjadi akar kuat dalam kehidupan sosial kita. Anak-anak hari ini tumbuh dengan dunia mereka sendiri, sibuk dengan gawai dan aktivitas pribadi, sementara hubungan dengan saudara sendiri justru kian renggang. Jika ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin suatu hari nanti mereka berjalan berpapasan dengan keluarga sendiri tanpa saling mengenal.

Padahal, dalam budaya kita, badunsanak bukan sekadar hubungan darah. Ia adalah jaringan kasih sayang, tempat berbagi, tempat kembali, dan sumber kekuatan dalam menghadapi kehidupan. Oleh karena itu, menjaga dan menanamkan nilai ini sejak dini bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Saat ini, kita sering melihat fenomena di dalam keluarga sendiri: ibu yang bersaudara, ayah yang beradik-kakak, tetapi anak-anak mereka tidak saling kenal. Bahkan ketika bertemu, mereka bersikap biasa saja, seolah tidak ada ikatan apa-apa. Ada yang tinggal satu rumah saat acara keluarga, tetapi masing-masing sibuk dengan urusan sendiri. Situasi ini tentu memprihatinkan, namun bukan sepenuhnya kesalahan anak-anak. Bisa jadi mereka memang belum benar-benar memahami arti penting badunsanak. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting.

Orang tua perlu lebih aktif dan adaptif dalam mengenalkan hubungan keluarga kepada anak-anak. Jangan hanya menganggap mereka akan mengerti dengan sendirinya. Tunjukkan dan jelaskan secara langsung: siapa itu saudara mereka, bagaimana hubungan kekerabatan yang terjalin, dan bagaimana seharusnya mereka bersikap. Ajarkan untuk memanggil dengan sebutan yang tepat—abang, adik, kakak—agar rasa kedekatan itu tumbuh secara alami.

Tidak sedikit pula kasus di mana setelah orang tua yang menjadi penghubung wafat, hubungan antar anak-anak dalam keluarga besar ikut terputus. Tidak ada lagi komunikasi, tidak ada lagi saling kabar. Hal ini sering terjadi karena sejak awal mereka tidak dibiasakan untuk dekat dan tidak diberi pemahaman yang cukup tentang hubungan tersebut. Akhirnya, silaturahmi yang seharusnya terjaga justru terhenti karena ketidaktahuan.

Momentum seperti Hari Raya Idul Fitri menjadi kesempatan emas untuk mempererat kembali hubungan badunsanak. Di momen berkumpulnya keluarga, baik yang di kampung maupun yang pulang dari rantau, orang tua seharusnya mengambil peran untuk mengenalkan anak-anak kepada saudara mereka. Jelaskan siapa mereka, bagaimana hubungan kekeluargaan yang ada, dan ajak mereka untuk berinteraksi.

Tidak hanya orang tua, peran mamak, om, dan anggota keluarga lain juga sangat penting. Kenalkan kepada kemenakan bahwa mereka memiliki saudara, bahwa mereka tidak sendiri dalam lingkaran keluarga. Ajak anak-anak duduk bersama, bercengkerama, dan membangun kedekatan. Dari situlah benih kebersamaan akan tumbuh.

Jangan sampai suatu hari nanti, ketika orang tua sudah tiada, rumah gadang yang dulu penuh canda dan tawa saat Lebaran menjadi sunyi. Jangan sampai pula kita bertemu di jalan tanpa saling menyapa, padahal kita sebenarnya badunsanak. Menjaga hubungan ini adalah tanggung jawab bersama, dan semuanya dimulai dari langkah kecil: mengenalkan, mengingatkan, dan membiasakan sejak dini.

Penulis: Hasneril, SE

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest