Banner iklan

Badan Geologi ESDM Ingatkan Potensi Likuefaksi Pascagempa Flores-NTT, Masyarakat Diminta Waspada Bahaya Ikutan

More articles

 

NTT, Investigasi.News — Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak gempa bumi untuk tetap mewaspadai potensi likuefaksi dan berbagai bahaya ikutan pascagempa.

Peringatan tersebut disampaikan melalui informasi resmi Badan Geologi yang menjelaskan bahwa likuefaksi tidak selalu berarti tanah bergerak atau menelan permukiman. Fenomena tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, antara lain semburan pasir, penurunan tanah, hingga pergeseran lateral.

Badan Geologi menjelaskan, tingkat dan bentuk dampak likuefaksi sangat bergantung pada sejumlah faktor, seperti kondisi tanah, tingkat kejenuhan air, kekuatan guncangan gempa, kemiringan lahan, serta kondisi geologi setempat.

Salah satu peristiwa likuefaksi paling destruktif terjadi di Palu pada 2018. Fenomena tersebut dikenal sebagai “Likuefaksi Tipe Palu”, yakni flow liquefaction yang relatif jarang terjadi karena dipengaruhi kombinasi kondisi geologi, hidrogeologi, dan tektonik yang khas.

Informasi Badan Geologi tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya likuefaksi di wilayah yang terdampak gempa Flores, Nusa Tenggara Timur.

Masyarakat perlu memahami bahwa penyebutan potensi likuefaksi tidak serta-merta berarti akan terjadi peristiwa seperti yang pernah terjadi di Palu. Karakteristik setiap wilayah berbeda dan memerlukan kajian kondisi geologi serta parameter kegempaan secara spesifik.

Karena itu, informasi mengenai potensi likuefaksi perlu disampaikan secara proporsional agar tidak menimbulkan kepanikan, tetapi juga tidak membuat masyarakat mengabaikan risiko.

Selain menjelaskan mengenai likuefaksi, Badan Geologi juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti informasi serta arahan resmi dari pemerintah daerah dan BPBD.

Masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, khususnya informasi yang beredar melalui media sosial dan grup percakapan yang tidak mencantumkan sumber resmi.

Badan Geologi juga mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai gempa susulan serta bahaya ikutan, antara lain retakan tanah, longsoran, penurunan lahan, dan likuefaksi.

Masyarakat yang berada di bangunan terdampak juga diminta tidak terburu-buru kembali sebelum memastikan kondisi bangunan benar-benar aman. Area di sekitar tebing dan lokasi yang rawan longsor juga perlu dihindari, terutama ketika terjadi hujan.

Dalam konteks penanganan pascagempa, peringatan Badan Geologi tersebut menunjukkan bahwa risiko bencana tidak berhenti setelah guncangan utama berlalu.

Kerusakan bangunan, perubahan kondisi tanah, retakan, longsoran, maupun potensi likuefaksi dapat menjadi ancaman lanjutan bagi masyarakat apabila tidak diantisipasi.

Karena itu, pemerintah daerah bersama BPBD dan instansi teknis perlu memastikan informasi mengenai zona rawan, kondisi tanah, bangunan yang aman dihuni, serta potensi bahaya ikutan disampaikan secara terbuka kepada masyarakat.

Badan Geologi menekankan bahwa kesiapsiagaan dan penerapan kaidah bangunan tahan gempa merupakan bagian penting dalam mengurangi risiko bencana di wilayah rawan gempa.

Media akan terus memantau perkembangan kajian kebencanaan, termasuk informasi resmi mengenai potensi likuefaksi dan bahaya ikutan di wilayah terdampak gempa Flores, serta mendorong agar setiap informasi yang disampaikan kepada publik berbasis data dan hasil kajian lembaga berwenang.

(Severinus T. Laga)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest