MALANG — Kawasan selatan Kabupaten Malang perlahan disiapkan untuk memasuki babak baru. Rencana pembangunan Jalan Tol Malang–Kepanjen mulai diarahkan bukan sekadar sebagai proyek transportasi, melainkan sebagai pintu pembuka konektivitas menuju kawasan wisata Pantai Selatan sekaligus penggerak ekonomi baru Jawa Timur bagian selatan.
Jalan tol yang diproyeksikan memiliki panjang sekitar 30–33 kilometer itu dirancang memiliki empat titik keluar, masing-masing di Pakisaji, Gondanglegi, Kromengan, dan Kepanjen. Dari titik-titik tersebut, jaringan jalan akan dikembangkan agar terkoneksi dengan Jalur Lintas Selatan (JLS) hingga menuju kawasan pesisir, termasuk poros Gondanglegi–Balekambang.
Konektivitas inilah yang dinilai menjadi nilai strategis proyek. Ketika tol bertemu dengan JLS, akses menuju destinasi wisata, sentra ekonomi, kawasan pendidikan, hingga jalur distribusi logistik di wilayah selatan akan semakin terbuka.
Kepala Dinas PU Bina Marga Kabupaten Malang, Khairul Isnaidi Kusuma, S.T., M.T., mengatakan pemerintah saat ini terus berkoordinasi dengan kementerian untuk mendorong masuknya investor.
“Saat ini kementerian sedang menjaring investor, karena jalan tol itu bukan dari anggaran APBN, tetapi dari swasta dan KPBU,” kata Khairul saat ditemui media di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Senin (24/8/2026).
Menurutnya, keberadaan investor nantinya bukan hanya menyelesaikan pembangunan fisik jalan tol. Infrastruktur tersebut harus mampu menciptakan efek ekonomi bagi masyarakat yang berada di sepanjang koridor tol.
“Tidak hanya menghitung tarif jalan tolnya saja. Kalau disesuaikan dengan nilai ekonomi yang ada di sekitar wilayah jalan tol, tentu punya nilai tambah,” ujarnya.
Nilai investasi proyek Tol Malang–Kepanjen diperkirakan mencapai Rp10 triliun hingga Rp10,7 triliun, di luar pembebasan lahan. Pemerintah daerah mengaku telah menyampaikan konsep konektivitas proyek tersebut kepada kementerian, terutama hubungan antara Tol Malang–Kepanjen dengan JLS.
Khairul menyebut tahapan perencanaan proyek terus berjalan dan ditargetkan rampung pada Desember 2026. Setelah tahapan tersebut, pembangunan fisik diharapkan mulai bergerak pada 2027.
“Kita sudah memberikan sosialisasi kepada kementerian yang ingin berinvestasi. Kita juga sudah menunjukkan skema konektivitas dengan JLS yang nantinya akan menjadi nilai tambah jalan tol Malang,” ungkapnya.
Bagi pemerintah Kabupaten Malang, konektivitas tersebut menjadi bagian penting dari upaya mengangkat kawasan selatan yang selama ini memiliki potensi besar, tetapi membutuhkan akses infrastruktur yang lebih kuat.
Tak berhenti pada pembangunan tol, pemerintah juga menyiapkan sejumlah ruas jalan penghubung menuju JLS. Salah satunya jalur Pagak yang direncanakan terkoneksi ke arah selatan hingga Pujiharjo.
“JLS ini direncanakan nyambung dengan Pagak ke arah utara sepanjang sekitar 35 kilometer. Semua jalur baru dan rutenya sudah ada,” jelas Khairul.
Pembangunan jaringan tersebut dilakukan bertahap. Untuk jalur Pagak, Kalipare, Donomulyo hingga Pujiharjo, pemerintah sebelumnya mengusulkan anggaran sekitar Rp125 miliar. Namun, realisasinya disesuaikan dengan kemampuan pendanaan dan dilakukan secara bertahap.
Saat ini, fokus pemerintah diarahkan pada pembangunan jalur Pagak yang terkoneksi dengan kawasan Sekolah Taruna Nusantara. Ruas tersebut juga telah mendapatkan pekerjaan jalan hotmix.
“Kalau memang anggaran Rp25 miliar itu tidak cukup, kita akan kolaborasikan dengan anggaran APBD,” katanya.
Untuk ruas Kalipare–Donomulyo, pemerintah mengajukan anggaran sekitar Rp60 miliar. Sedangkan untuk jalur menuju Pujiharjo, kebutuhan yang diajukan mencapai sekitar Rp10 miliar.
Khairul menyebut seluruh ruas tersebut merupakan bagian dari empat poros yang disiapkan menuju JLS. Jalur provinsi menuju Sendang Biru menjadi salah satu poros di sisi timur, sedangkan jalur barat disebut telah selesai.
Kini perhatian diarahkan pada poros tengah Gondanglegi–Balekambang serta Kepanjen–Donomulyo yang masih dalam proses pembangunan.
“Semua jalur yang kita bangun itu merupakan empat poros jalan menuju JLS. Jalur barat sudah tuntas, tinggal poros tengah Gondanglegi ke Balekambang dan Kepanjen–Donomulyo yang masih proses,” terang Khairul.
Ia juga menyinggung perkembangan pembangunan JLS di wilayah Blitar yang kini disebut tinggal menyisakan sekitar lima kilometer. Jika ruas tersebut rampung, konektivitas lintas selatan Jawa Timur akan semakin kuat.
Khairul optimistis Tol Malang–Kepanjen dapat dikerjakan dalam waktu satu hingga dua tahun setelah masuk tahap konstruksi, meski pelaksanaannya tetap bergantung pada kontrak dan skema pembangunan yang ditetapkan.
“Pemerintah tentu sudah lebih maju dari sebelumnya karena sudah mau direview. Tinggal menunggu pelaksanaan proyek di tahun 2027,” tutupnya.
Guh








