“Punya anak adalah impian setiap pasangan yang membangun rumah tangga. Bahkan sebelum menikah, banyak yang sudah memanjatkan doa agar kelak dikaruniai anak-anak yang saleh dan salehah.”
Anak adalah titipan Allah SWT, sebuah amanah suci yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Maka, mendidik anak bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya. Orang tua adalah madrasah pertama, tempat anak belajar tentang kasih sayang, kejujuran, dan keteladanan — bukan dari kata-kata, melainkan dari laku nyata.
Kunci dalam mendidik anak adalah kesabaran dan ketulusan doa. Tapi ada satu sikap yang sering kita lupakan: kerendahan hati untuk meminta maaf kepada anak.
Saya memiliki empat orang anak. Dalam perjalanan menjadi ayah, saya menyadari bahwa saya tak selalu benar, tak selalu adil, dan seringkali khilaf dalam perlakuan. Kadang, sepulang kerja saya hanya menyapa tiga anak, sementara satu terlewat. Ketika sadar, saya langsung mendekatinya dan berkata, “Maafkan ayah, tadi lupa menyapa kamu.” Mungkin bagi mereka hal itu tidak berarti, tapi bagi saya, itu adalah luka kecil yang harus segera dijahit dengan ketulusan.
Kadang saya beli makanan yang ternyata hanya disukai tiga anak. Satu anak terdiam karena tidak menyukainya. Saya peluk dia dan berkata, “Maafkan ayah, ayah kira kamu suka.” Saya takut sekali anak-anak merasa dibeda-bedakan, dan itulah kenapa saya selalu berusaha hadir secara adil — bahkan dalam hal kecil seperti itu.
Tanpa saya sadari, kebiasaan meminta maaf itu menjadi teladan yang mereka tiru. Kini, hampir setiap hari anak-anak saya mengucapkan kata maaf meski untuk kesalahan kecil. Mereka belajar, bukan dari ceramah, tapi dari sikap.
Sebagian orang tua merasa gengsi meminta maaf pada anak. Mereka lebih memilih diam, pura-pura lupa, atau menganggap hal itu tidak penting. Padahal, anak-anak adalah makhluk paling mudah memaafkan. Hanya butuh satu kata — maaf — untuk melembutkan hati mereka.
Menuntut anak untuk sopan, hormat, dan penuh adab tak akan pernah berhasil jika kita sendiri gagal memberikan contoh. Anak akan meniru, bukan mendengar. Mereka tidak dibentuk oleh aturan, tetapi oleh keteladanan.
Hal yang sama saya terapkan dalam mendidik santri di Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi Lubukbasung dan Panti Asuhan Putra Muhammadiyah Lubukbasung. Jika saya lupa menyapa seorang santri, saya datangi, genggam tangannya, dan berkata, “Ayah mohon maaf, tadi lupa menyapamu.” Saya lihat ekspresinya berubah — dari yang semula muram, menjadi berseri. Bukan karena saya hebat, tapi karena rasa dihargai yang saya berikan lewat kerendahan hati.
Permintaan maaf dari orang tua bukan kelemahan. Justru itulah puncak kekuatan: pengendalian diri, kepekaan hati, dan keteladanan sejati.
Berapa banyak orang tua yang menyesal saat anaknya sudah dewasa, karena semasa kecil mereka tumbuh dalam diam dan luka kecil yang tak pernah disembuhkan oleh kata maaf?
Maka jangan ragu — jika kita khilaf, minta maaflah. Tidak akan merendahkan martabat kita. Justru itulah cara paling manusiawi untuk menjadi orang tua yang dicintai dan dihormati anak-anaknya, bukan karena ditakuti, tapi karena dimuliakan.
“Maaf bukan tanda lemah. Maaf adalah keberanian untuk menundukkan ego demi tumbuhnya jiwa anak yang utuh.”
Oleh: Hasneril, SE
📖 Kisah penuh nilai ini dapat dibaca dalam buku “Meniti Jalan Ilahi” karya Hasneril, SE.
📍 Tersedia di Panti Asuhan Putra Lubukbasung dan Kantor Dinas Arsip dan Pustaka Kabupaten Agam.

















