Padang Panjang, Investigasi.news – Kota Padang Panjang selama dua hari berturut-turut menjadi pusat perhatian dengan hadirnya dua agenda penting yang menyatukan semangat literasi dan pelestarian budaya. Wali Kota Hendri Arnis membuka Festival Literasi III pada Jumat (25/7), disusul dengan pembukaan Festival Pamenan Minangkabau II keesokan harinya, Sabtu (26/7). Kedua kegiatan ini berlangsung di kawasan PDIKM, menyedot antusiasme masyarakat dari berbagai kalangan.
Festival Literasi III yang mengusung tema “Literasi Menuju Generasi Emas 2045” menjadi ajang konsolidasi budaya baca, menulis, dan berpikir kritis. Dihadiri langsung oleh Wali Kota bersama Bunda Literasi Maria Feronika Hendri, Wakil Wali Kota Allex Saputra, Ketua DPRD, Forkopimda, serta para kepala OPD dan tokoh masyarakat, festival ini menampilkan 50 stand dari berbagai OPD, sekolah, UMKM, hingga komunitas. Di dalamnya tersaji pameran produk literasi, pentas seni, lomba resensi buku, video konten literasi, dan berbagai aktivitas edukatif lainnya yang menyasar semua usia.
Dalam sambutannya, Hendri Arnis menegaskan pentingnya membangun infrastruktur pikiran, bukan hanya infrastruktur fisik. Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan budaya literasi sebagai gerakan kolektif dari rumah hingga ke ruang-ruang publik. “Literasi tidak berhenti di acara ini. Ia harus tumbuh sebagai kebiasaan dari rumah ke sekolah, dari masjid ke kantor pemerintahan,” ujarnya.
Kepala Perwakilan BI Sumbar, Mohamad Abdil Majid Ikram, menyatakan dukungan penuh terhadap upaya Pemko Padang Panjang dalam mendorong literasi. Ia menyebut literasi sebagai dasar membangun daya saing dan kemandirian generasi masa depan. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumbar, Jumaidi, juga menekankan bahwa literasi bukan hanya pengetahuan, tetapi juga penghasilan, kreativitas, dan alat untuk menciptakan perubahan.
Bunda Literasi Kota Padang Panjang, Maria Feronika Hendri, menambahkan bahwa gerakan literasi harus dimulai dari keluarga. “Jadikan rumah sebagai taman baca pertama, dan orang tua sebagai pendongeng pertama bagi anak-anak,” katanya.
Penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba menjadi bagian penting dalam pembukaan festival ini. Linda Wahyuni berhasil meraih juara pertama lomba video konten literasi, disusul oleh Mhd Hanafi MEF dan Yasmin Aini. Sementara di lomba resensi buku, Sang Mahamanusya dari SMAN 3 Padang Panjang keluar sebagai juara utama. Para pemenang menerima hadiah jutaan rupiah sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam menghidupkan semangat membaca dan menulis di era digital.
Wakil Wali Kota Allex Saputra menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar lomba, melainkan strategi untuk memperkuat karakter generasi muda Padang Panjang. Ia menyebut masa depan kota bukan hanya dibangun dengan infrastruktur, tapi juga dengan gagasan, tulisan, dan semangat anak muda yang literat.
Keesokan harinya, giliran Festival Pamenan Minangkabau II yang dibuka secara resmi. Bertempat di pelataran Rumah Gadang PDIKM, festival ini ditandai dengan tabuhan gendang oleh Wali Kota Hendri Arnis bersama sejumlah tokoh budaya, termasuk Analisis Nilai Budaya dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah III, Femmy, Sekda Sonny Budaya Putra, Rektor ISI Padang Panjang Febri Yulika, dan tokoh perempuan kota.
Festival ini mengangkat tema “Padusi di Rumah Gadang”, yang menyoroti pentingnya peran perempuan dalam menjaga dan menghidupkan nilai-nilai budaya Minangkabau. Hendri Arnis menyampaikan kebanggaannya karena Padang Panjang dipercaya menjadi tuan rumah festival ini setelah sebelumnya digelar di Batusangkar. Lebih dari 20 kelompok seni dan komunitas permainan tradisional tampil selama dua hari, menyajikan atraksi yang menghidupkan kembali memori masa kecil yang mulai tergerus zaman.
Permainan seperti badiah-badiah, tangkelek, enggrang, dan congklak menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi anak-anak yang selama ini hanya mengenal gawai dan layar digital. Pengunjung pun diajak menyentuh kembali akar budaya yang mulai terlupakan. Pemerintah Kota melalui kegiatan ini ingin memastikan bahwa generasi muda tidak hanya melek teknologi, tetapi juga paham dan bangga terhadap tradisi yang diwariskan leluhur.
Wali Kota menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Ia berharap kegiatan ini menjadi ruang ekspresi yang terus tumbuh, terutama bagi generasi muda dan perempuan, untuk menjadi pelaku aktif dalam ekosistem kebudayaan.
KM

















