Iklan muba

Masyarakat Toba Desak Pemkab Copot Kepala SDN 173558 Hutahaean, Diduga Arogan dan Tekan Guru Honorer

More articles

Toba, Investigasi.news — Puluhan warga dari Kecamatan Laguboti bersama sejumlah wartawan mendatangi Kantor Bupati dan Wakil Bupati Toba, Selasa (29/7), menuntut pencopotan Kepala Sekolah SD Negeri 173558 Hutahaean. Aksi ini dipicu oleh dugaan sikap arogan dan tekanan psikologis yang dilakukan kepala sekolah terhadap guru-guru honorer di lingkungan sekolah tersebut.

Salah satu guru honorer berinisial G.S mengaku mendapat tekanan secara verbal dan perlakuan intimidatif dari kepala sekolah hanya karena menyampaikan informasi bahwa ada tamu dari awak media dan petugas Inspektorat yang hendak menemui pihak sekolah. Padahal saat itu G.S tengah menjalankan tugas piket harian seperti biasa.

“Saya hanya menyampaikan bahwa ada tamu dari media dan Inspektorat datang ke sekolah. Tapi saya langsung ditegur dengan nada tinggi, seperti ingin ditakut-takuti agar tak bicara apa pun. Seolah-olah sekolah ini ditutup dari publik,” ungkap G.S.

Menurut pengakuannya, tekanan demi tekanan terus terjadi hingga ia dipaksa menandatangani surat pengunduran diri, yang ironisnya dibuat oleh anak kandung kepala sekolah yang baru saja menjadi guru P3K di sekolah yang sama. “Saya tidak pernah berniat mengundurkan diri. Tapi karena terus ditekan, akhirnya saya dipaksa tanda tangan,” ujar G.S lirih.

Sudah tiga bulan berlalu sejak kejadian tersebut, G.S tidak lagi diizinkan mengajar. Masyarakat dan tokoh setempat geram atas sikap kepala sekolah yang dinilai semena-mena, bahkan membuat aturan seenaknya sendiri tanpa koordinasi dengan pihak dinas.

“Ini bukan hanya persoalan pribadi, tapi sudah menyangkut moral dan profesionalisme seorang pemimpin sekolah. Kepala sekolah ini sudah semaunya sendiri, bahkan membuat para guru takut bersuara,” tegas salah satu tokoh masyarakat saat ikut dalam aksi.

Sekitar pukul 08.00 WIB pagi, warga dan wartawan sempat mendatangi langsung SDN 173558 Hutahaean untuk bertemu dan mengklarifikasi kepada kepala sekolah. Namun, setelah menunggu lebih dari satu jam di halaman sekolah, pihak kepala sekolah tak kunjung muncul, meskipun sebelumnya diketahui sempat berada di lokasi.

Salah satu guru yang sedang mengajar saat itu bahkan sempat menerima telepon dari kepala sekolah yang menyampaikan, “Jangan layani mereka itu!”—sebuah pernyataan yang menunjukkan sikap tertutup dan tidak kooperatif.

Merasa diabaikan, rombongan warga dan media akhirnya menyambangi langsung Wakil Bupati Toba, Audi Murphy Sitorus, dan menyampaikan laporan resmi terkait dugaan pelanggaran etika dan penyalahgunaan wewenang oleh kepala sekolah tersebut.

“Pemkab Toba harus segera turun tangan. Jangan biarkan dunia pendidikan dirusak oleh oknum kepala sekolah yang menjadikan jabatan sebagai alat menekan bawahan,” tegas salah seorang perwakilan masyarakat.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Toba belum memberikan keterangan resmi. Sementara Kepala Bidang Teknis yang berwenang menangani persoalan ini disebut sedang berada di luar kantor karena mengikuti rapat.

Kasus ini membuka mata banyak pihak bahwa perlindungan terhadap guru honorer masih sangat lemah. DPRD dan instansi terkait diharapkan segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh dan menindak tegas jika terbukti terjadi pelanggaran.

Octa

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest