Palangkaraya, investigasi.news– Sorotan budaya dan semangat pelestarian lokal tampak membuncah di jantung Kota Palangkaraya pagi ini. Karnaval Budaya Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2025 menyedot perhatian ribuan warga dan wisatawan yang memadati kawasan Bundaran Besar pada18 Mei 2025. Di tengah gegap gempita acara, kehadiran Bupati Pulang Pisau H. Ahmad Rifa’i bersama Wakil Bupati H. Ahmad Jayadikarta menegaskan dukungan serius pemerintah daerah terhadap penguatan identitas budaya Dayak.
Dengan tema “Merajut Kebhinekaan, Menguatkan Identitas Dayak”, FBIM tahun ini menyuguhkan parade spektakuler yang melibatkan lebih dari 3.000 peserta dari 14 kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah. Kostum adat nan megah, tarian magis dari berbagai sub-suku Dayak, dan alunan alat musik tradisional menghadirkan nuansa yang bukan hanya memikat, tapi juga sarat pesan historis.
Dalam sambutannya, Bupati Ahmad Rifa’i menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar agenda seremonial. “Karnaval ini bukan hanya panggung hiburan. Ini adalah pernyataan bahwa kita tidak akan membiarkan warisan leluhur tenggelam dalam arus modernisasi,” tegasnya.
Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran dan Wakil Gubernur H. Edy Pratowo juga hadir dan menyampaikan komitmen pemerintah provinsi dalam mendukung inisiatif budaya daerah. Agustiar menyampaikan apresiasinya terhadap sinergi antara masyarakat dan pemerintah daerah. Sementara Edy Pratowo menekankan bahwa pelestarian budaya harus dikawal bersamaan dengan pengembangan ekonomi kreatif.
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda, kepala daerah dari seluruh kabupaten/kota, serta pejabat penting dari lingkungan Pemprov Kalteng. Lebih dari sekadar perayaan, FBIM 2025 juga menjadi wadah konkret untuk mendekatkan masyarakat pada kekayaan lokal melalui pameran kerajinan tangan, kuliner tradisional Dayak, dan lokakarya pelestarian bahasa daerah yang akan berlangsung hingga 20 Mei mendatang.
FBIM tak hanya menyuarakan semangat kultural, tapi juga membawa harapan: membangun ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, membuka lapangan kerja baru, dan mengangkat Kalimantan Tengah sebagai destinasi budaya yang tak tertandingi di kancah nasional.
Zulmi

















