Malut, Investigasi.news-, Dalam beberapa waktu terakhir, saya semakin sering merenungkan tentang arah hidup manusia modern yang kian dikuasai oleh logika kesenangan dan kemewahan. Di ruang publik, di media sosial, bahkan dalam percakapan sehari-hari, kita menyaksikan bagaimana gaya hidup hedon dan konsumtif menjadi semacam standar baru bagi banyak orang. Mereka yang memiliki barang mewah dianggap berhasil; yang hidup sederhana sering kali dipandang gagal. Padahal, ukuran keberhasilan sejati bukan terletak pada apa yang tampak, melainkan pada apa yang bermakna.
Hedonisme dan konsumtifisme adalah dua wajah dari satu penyakit sosial yang sama: kehilangan orientasi nilai. Gaya hidup hedon muncul dari dorongan mencari kenikmatan sesaat tanpa memperhitungkan makna jangka panjang, sementara gaya hidup konsumtif adalah ekspresi sosial dari mentalitas tersebut, membeli bukan karena butuh, tetapi karena ingin dianggap “ada”. Dalam konteks ini, manusia bukan lagi subjek yang menentukan pilihan, melainkan objek yang ditentukan oleh iklan, citra, dan keinginan orang lain.
Saya melihat fenomena ini bukan hanya di kalangan masyarakat kota, tetapi juga mulai merasuki kehidupan masyarakat di daerah, termasuk di Kabupaten Kepulauan Sula. Anak muda lebih tertarik pada gaya daripada karya; pesta lebih diminati daripada proses; dan simbol kemewahan kerap dijadikan tolok ukur status sosial. Ironisnya, di tengah semangat hedonistik itu, kesenjangan ekonomi masih begitu terasa, dan produktivitas sosial belum benar-benar tumbuh.
Secara sosiologis, gaya hidup konsumtif lahir dari struktur sosial yang menumbuhkan budaya pencitraan. Masyarakat kita perlahan terjebak dalam apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai masyarakat konsumsi, di mana nilai suatu barang tidak lagi diukur dari fungsinya, tetapi dari simbol dan prestise yang ia tampilkan. Akibatnya, orang berkompetisi bukan dalam penciptaan karya, melainkan dalam menampilkan gaya hidup yang tampak “lebih baik” dari orang lain.
Di titik inilah persoalan menjadi lebih dalam. Hedonisme bukan hanya soal perilaku, melainkan krisis moral dan spiritual. Ketika kesenangan menjadi tujuan hidup, maka kerja keras, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial kehilangan tempatnya. Nilai-nilai kebersamaan tergerus oleh egoisme personal. Bahkan, dalam konteks pemerintahan dan birokrasi, gejala hedon dan konsumtif ini bisa menjelma menjadi praktik pemborosan anggaran, proyek pencitraan, hingga penyelenggaraan kegiatan seremonial yang lebih mementingkan penampilan daripada hasil.
Padahal, dalam pandangan etika Islam maupun tradisi keindonesiaan yang luhur, hidup sederhana bukan berarti miskin nilai, tetapi justru merupakan wujud kematangan spiritual dan kedewasaan sosial. Kesederhanaan adalah bentuk perlawanan terhadap keserakahan zaman, dan menjadi dasar bagi tumbuhnya kehidupan yang berkeadilan.
Kita perlu mengembalikan arah peradaban ke nilai yang lebih substansial: kerja keras, tanggung jawab, solidaritas sosial, dan kepedulian terhadap sesama. Sebab hedonisme dan konsumtifisme hanya menghasilkan manusia-manusia yang lelah secara batin, kehilangan arah hidup, dan terasing di tengah keramaian.
Dalam kehidupan masyarakat kecil di Sula, saya sering melihat paradoks ini. Di satu sisi, ada semangat untuk tampil lebih modern dan bergaya; namun di sisi lain, banyak keluarga masih berjuang dengan kebutuhan pokok. Jika kesadaran ini tidak dikendalikan, maka kita akan melahirkan generasi yang lebih sibuk membangun citra diri daripada membangun masa depan negeri.
Kita membutuhkan revolusi nilai, dari budaya hedon menuju budaya kerja, dari konsumsi menuju produktivitas, dan dari citra menuju makna. Sebab negeri ini tidak akan maju dengan gaya hidup yang hanya memuja kesenangan, melainkan dengan kesadaran untuk hidup bermakna, sederhana, dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Oleh: Mohtar Umasugi



















