Situbondo, investigasi.news – Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menilai pelaksanaan Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di Bangkalan, Madura, sebagai momentum strategis untuk menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, spiritualitas, serta perjuangan para ulama pendiri NU.
Kegiatan tersebut, menurut Mas Rio—sapaan akrab Bupati Situbondo—bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang refleksi kolektif bagi warga NU untuk meneladani ketulusan dan perjuangan para muassis dalam membangun peradaban Islam yang moderat di Nusantara.
Mas Rio menegaskan bahwa Kabupaten Situbondo memiliki keterkaitan historis yang kuat dengan NU. Hal ini tidak terlepas dari peran besar ulama kharismatik asal Situbondo, KHR As’ad Samsul Arifin, yang menjadi bagian penting dalam mata rantai pendirian NU.
“Napak tilas ini bukan sekadar perjalanan fisik, akan tetapi juga perjalanan batin untuk merawat ingatan kolektif umat, memperkuat persatuan, dan meneladani keikhlasan para muassis NU,” ungkap Mas Rio.
Ia menilai, penguatan kembali nilai-nilai tersebut sangat relevan di tengah tantangan zaman yang menuntut NU tetap konsisten sebagai penjaga Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang ramah, inklusif, dan berakar pada tradisi.
Dalam kesempatan tersebut, Mas Rio juga menyampaikan kesiapan Pemerintah Kabupaten Situbondo apabila dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35 yang akan datang.
“Pemerintah Kabupaten Situbondo siap berkolaborasi dengan seluruh elemen NU, masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya demi menyukseskan agenda besar Muktamar NU ke-35 tersebut,” tegasnya.
Mas Rio mengingatkan bahwa secara historis, Situbondo pernah menjadi bagian dari peristiwa penting NU, yakni pada Muktamar NU tahun 1984 yang memiliki dampak besar bagi arah perjalanan organisasi.
“Pengalaman sejarah tahun 1984 menunjukkan bahwa Kabupaten Situbondo pernah menjadi bagian dari dinamika besar NU. Mudah-mudahan kali ini Situbondo kembali dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35,” tuturnya.
Terkait aspek keamanan dan kenyamanan, Mas Rio memastikan bahwa Pemkab Situbondo telah menjalin komunikasi intensif dengan sejumlah kiai dan tokoh NU guna memastikan situasi daerah tetap kondusif.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah siap memberikan dukungan maksimal demi kelancaran dan kesuksesan pelaksanaan muktamar jika Situbondo dipercaya sebagai tuan rumah.
Bahkan, lanjut Mas Rio, muncul inisiatif dari kalangan kiai dan pesantren agar konsumsi peserta muktamar dapat ditanggung secara gotong royong oleh pondok-pondok pesantren.
“Ini menunjukkan kuatnya tradisi kebersamaan dan kemandirian di lingkungan NU yang patut kita jaga dan rawat bersama,” tegasnya.
Mas Rio juga berharap momentum Napak Tilas NU ini dapat menjadi ruang rekonsiliasi serta penguatan persaudaraan di internal NU agar tetap solid menghadapi berbagai tantangan umat dan bangsa.
Pemkab Situbondo, menurutnya, berkomitmen penuh untuk mendukung setiap kegiatan keagamaan dan kebudayaan yang memperkuat persatuan, moderasi beragama, serta pembangunan sosial yang berlandaskan kearifan lokal dan nilai-nilai luhur NU.
(Agus)



















