Mengapa Banyak Santri Yang Ketika Liburan Pondok Justru Memilih Istirahat Atau Tidur Sepanjang Hari ?

More articles

Oleh Abi Syarbaini (Pimpinan Umum PADI Indonesia)

Tapi sebelumnya, penting juga untuk menjawab pertanyaan ini, “Mengapa khidmat menjadi nafas santri padi?”

Sebenarnya latar belakangnya sederhana. Hanya berawal dari pengalaman saya banyak bergaul dengan teman-teman yang pada waktu itu usianya jauh di atas saya ketika saya masih di bawah tiga puluh tahun.

Dari obrolan-obrolan tersebut, sering kali saya mendengar mereka yang punya anak sudah mondok ternyata banyak mengeluh tentang perilaku anaknya ketika ada di rumah (pulang kampung).

Banyak dari anak-anak mereka yang mondok yang di rumah justru membalas ‘dendam’ atas padatnya kegiatan belajar di pondok, lalu ketika di rumah, mereka memilih untuk tidur sepanjang hari karena merasa di pondok tidak sempat istirahat dengan banyaknya jam belajar.

Berangkat dari kegelisahan itu, saya mencari sebuah formulasi yang bisa membuat anak-anak tidak menjadikan kegiatan di pondok sebagai beban. Kalau di pondok mereka tidak terbebani, maka seharusnya mereka tidak menjadikan liburan sebagai ajang balas dendam istirahat.

Nah, artinya di pondok mereka harus menjalaninya dengan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan bagi mereka. Dan ternyata, salah satu yang sangat menyenangkan (khususnya bagi santri putra) adalah berkegiatan di lapangan. Dibangkitkan sisi kelelakiannya, dengan beragam kegiatan fisik yang bisa menghasilkan keringat yang membahagiakan.

Dan hasilnya, Alhamdulillah ternyata para santri sangat menikmati kegiatan tersebut, bahkan berebut untuk mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai kegiatan lapangan tersebut, yang sebenarnya adalah khidmat.

Ketika pulang kampung, apakah mereka akan membalas dendam dengan tidur sepanjang hari? Atau melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat? Secara pencilan (jumlah kecil yang tidak begitu memengaruhi statistik), tentu akan tetap ada santri yang seperti itu, namun jumlahnya sangat sedikit.

Laporan yang banyak kami terima dari wali santri adalah, para santri yang pulang kampung ini justru merasa ada yang kurang jika di rumah mereka tidak beraktivitas yang produktif. Hasilnya, banyak dari mereka yang terlibat dalam aktivitas kemasyarakatan, seperti ikut membantu panitia masjid, ikut gotong royong di komplek, mengadakan kajian, dan lainnya.

Bahkan tidak sedikit dari mereka yang beraktivitas di dapur dan memasak menu-menu khas pondok untuk mereka sajikan kepada ayah ibu dan adik kakaknya.

Alhamdulillah.

Santri harusnya jangan hanya berdaya di pesantren dan bermalas-malasan ketika di rumah. Santri harus terbiasa dengan aktivitas produktif yang membahagiakan jiwa mereka. Insyâallâh dengan begitu mereka akan senantiasa mengisi waktunya dengan aktivitas yang produktif pula. Mengapa? Karena telah tertanam dalam mindset mereka, bahwa produktif sama dengan bahagia.

Semoga Allâh berkahi anak-anak kita semua, Allâhumma Âmîn.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest