Banner iklan

Mantan Murid Bunuh dan Perkosa Gurunya: Ardiansyah Dicekam Nafsu, Yuyun Ditemukan Tewas dalam Ember

More articles

Banyuasin — Kejahatan keji mengguncang Desa Marga Rahayu, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Ardiansyah, warga Jalur V, tega membunuh seorang perempuan yang ternyata merupakan mantan gurunya saat sekolah dasar, Efriza Yuniar alias Yuyun (51).

Lebih memilukan, berdasarkan keterangan kepolisian, setelah melumpuhkan korban, tersangka melakukan tindakan seksual terhadap Yuyun sebelum akhirnya korban meninggal dunia. Jasad korban kemudian disembunyikan di dalam ember besar dan diikat menggunakan sprei.

Peristiwa itu terungkap setelah Yuyun, guru SD Negeri 11 Muara Telang, tiga hari tidak masuk mengajar dan tidak dapat dihubungi. Rekan korban, Solehah, bersama suaminya, Jamaluddin, akhirnya mendatangi rumah korban pada Kamis pagi sekitar pukul 08.00.

Rumah dalam kondisi terkunci dan tidak ada jawaban meski pintu diketuk berkali-kali. Setelah menemukan kunci di bawah meja teras, mereka masuk dan mencari korban.

Keduanya kemudian dikejutkan dengan pemandangan mengerikan di bagian belakang rumah. Yuyun ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam ember besar dalam kondisi mengenaskan.

“Saya kaget sekali. Saya panggil suami kalau korban sudah meninggal. Suami lebih kaget lagi saat melihat jasad korban,” ujar Solehah saat itu.

Polisi menemukan korban dalam kondisi leher terjerat, tangan terikat dan mulut disumpal menggunakan ikat rambut.

Mantan Murid yang Pernah Bermasalah

Fakta lain membuat kasus ini semakin memilukan. Ardiansyah ternyata pernah menjadi murid Yuyun ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

Keponakan korban, Sela, mengungkapkan bahwa Ardiansyah dikenal bermasalah sejak sekolah. Ia bahkan pernah tidak naik kelas. Menurut Sela, pelaku juga beberapa kali diduga masuk diam-diam ke rumah korban.

“Selain itu pernah juga ketahuan masuk diam-diam ke rumah Tante. Entah niatnya mau mencuri atau bagaimana, tapi saat itu ketahuan. Jadi sama Tante langsung diperingatkan supaya jangan mengganggu,” kata Sela.

Ironisnya, rumah korban dan pelaku diketahui tidak terlalu jauh.

Sebelum kejadian, berdasarkan keterangan yang disampaikan kepolisian, Ardiansyah juga mengaku pernah mengintip korban ketika sedang mandi. Pada hari kejadian, tersangka disebut terlebih dahulu menonton video porno sebelum mendatangi rumah korban.

Ardiansyah kemudian bersembunyi di dekat kamar mandi. Ketika korban keluar, tersangka mencekiknya hingga pingsan.

Korban kemudian dibawa ke ruang tamu. Saat korban berontak dan berteriak meminta pertolongan, tersangka menyumpal mulutnya. Polisi menyebut tersangka kemudian menggunakan sabuk dan kabel pengisi daya telepon untuk menjerat leher korban hingga meninggal.

Setelah itu, jasad korban disembunyikan di dalam ember besar dan diikat menggunakan sprei.

Ditangkap, Ponsel Korban Ada di Saku

Ardiansyah akhirnya ditangkap polisi ketika hendak keluar dari rumahnya di Jalur V, RT 16/RW 1, Desa Marga Rahayu.

Kapolres Banyuasin AKBP Danny Ardiantara Sianipar mengatakan, saat penggeledahan polisi menemukan dua telepon seluler milik korban di dalam saku celana tersangka.

“Ketika dilakukan penggeledahan didapati HP milik korban merek Vivo dan Nokia terdapat dalam saku celananya,” kata Danny, didampingi Kasat Reskrim AKP Ginanjar.

Dalam pemeriksaan, tersangka mengakui perbuatannya. Polisi menyebut motif awal yang diungkap tersangka berkaitan dengan keinginannya melakukan pemerkosaan terhadap korban.

Sejumlah barang bukti turut diamankan, di antaranya dua telepon seluler, ember warna hijau, charger ponsel, ikat rambut, ikat pinggang, pakaian tersangka serta barang lainnya yang berkaitan dengan perkara.

Bagi keluarga, perbuatan tersebut bukan sekadar pembunuhan, tetapi tragedi yang menghancurkan martabat seorang perempuan yang selama hidupnya dikenal sebagai pendidik.

Sela menegaskan keluarga meminta pelaku dihukum seberat-beratnya.

“Pembunuh itu harus dihukum mati. Perbuatannya benar-benar sudah sangat keterlaluan. Tante saya itu gurunya yang seharusnya dihormati. Tapi malah diperlakukan kejam begitu. Kami ingin keadilan,” tegas Sela dengan suara bergetar dan air mata.

Kasus ini menjadi ironi pahit: seseorang yang pernah menerima pendidikan dari korban justru berakhir sebagai pelaku dalam kejahatan brutal terhadap orang yang pernah berdiri di depan kelas untuk mendidiknya. (M. Buddy) 

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest