PIDIE JAYA — Dampak banjir hidrometeorologi yang melanda Pidie Jaya pada akhir September 2025 masih dirasakan masyarakat hingga kini. Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak. Petani bahkan disebut telah mengalami gagal tanam hingga tiga kali, dengan nilai kerugian yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp300 miliar.
Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, ST., MM., usai melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat dari kemukiman di Kecamatan Meureudu, Rabu (30/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Hasan Basri mengatakan dampak banjir tidak hanya dirasakan pada sektor pertanian, tetapi juga perikanan dan sejumlah sektor lainnya.
“Dari hasil pertemuan dengan tokoh masyarakat kemukiman dalam Kecamatan Meureudu tadi, kami mendapatkan berbagai persoalan terkait pertanian. Di antaranya saluran yang masih tersumbat, lahan yang masih tertutupi material banjir, serta penanganan yang belum sempurna,” ujar Hasan Basri.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut menjadi perhatian dan prioritas Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya. Pemerintah daerah, kata dia, akan melakukan penanganan sedini mungkin agar masyarakat dapat kembali turun ke sawah secara serentak tanpa kendala.
Hasan Basri menambahkan, kegagalan tanam yang terjadi secara berturut-turut telah memberikan dampak ekonomi yang cukup besar bagi masyarakat.
“Dari dampak gagal tanam berturut-turut ini, kerugian mencapai Rp300 miliar lebih,” katanya.
Sementara itu, salah seorang Keujrun Blang Desa Meunasah Lhok, Sulaiman Yahya, mengatakan persoalan utama yang dihadapi petani saat ini adalah sulitnya mendapatkan pasokan air untuk lahan persawahan.
Menurut Sulaiman, sejumlah saluran masih dipenuhi material sisa banjir sehingga aliran air ke persawahan belum berjalan sebagaimana mestinya.
“Saluran masih dipenuhi material banjir, sehingga aksesnya tertutup. Akibatnya, kami tidak bisa membajak sawah,” ujar Sulaiman.
Ia berharap pemerintah pusat maupun pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret agar persoalan tersebut tidak terus berlarut dan petani dapat kembali menggarap lahan mereka.
“Saya berharap perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah, agar gagal tanam ini tidak berlarut-larut,” harapnya.
Berdasarkan pantauan kontributor Investigasi News, pertemuan tersebut turut dihadiri tokoh masyarakat dari sejumlah kemukiman di Kecamatan Meureudu serta jajaran Dinas Pertanian setempat.
Dalam pertemuan itu, Wakil Bupati bersama dinas terkait sepakat untuk meninjau langsung sejumlah area persawahan yang terdampak. Peninjauan tersebut akan menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam mengidentifikasi persoalan di lapangan sekaligus menentukan penanganan yang diperlukan.
Pemerintah daerah berharap perbaikan saluran dan penanganan material banjir dapat segera dilakukan sehingga aktivitas pertanian masyarakat kembali berjalan dan petani tidak terus mengalami kerugian akibat gagal tanam.
(Herry)













