Banner iklan

Nasib Syamsuddin, 71 Tahun, Hidup Terisolasi: Wakil Rakyat Bersuara, Solusi Akses Jalan Ditunggu

More articles

Pidie Jaya, Investigasi.News — Nasib memilukan Syamsuddin (71), warga Desa Rieng Krueng, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, yang bersama dua kepala keluarga (KK) lainnya harus melewati kuburan dan kebun tetangga untuk keluar-masuk rumah, mulai mendapat respons dari sejumlah wakil rakyat.

Setelah kisah sulit yang dialami warga tersebut diberitakan media ini, sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie Jaya angkat bicara. Mereka menyatakan akan mempelajari persoalan tersebut dan mencari jalan keluar agar warga tidak terus-menerus terjebak dalam keterbatasan akses menuju tempat tinggal mereka.

Politikus Partai NasDem, Muslem Adam, menjadi salah satu anggota dewan yang merespons persoalan tersebut. Ia menyatakan akan mempelajari kondisi yang dialami Syamsuddin dan keluarga lainnya sebelum mencari solusi.

“Ok, kami pelajari dulu dan mencari solusi untuk kepentingan warga tersebut,” ujar Muslem Adam.

Respons serupa disampaikan Nazaruddin Ismail, politikus Partai Demokrat yang akrab disapa Ustad Am. Saat dihubungi Kontributor Investigasi News, ia menyatakan akan mengajak pihak terkait membahas persoalan tersebut.

“Besok kita duduk dulu, kita bahas dan cari solusi,” kata Ustad Am.

Sementara itu, politikus Partai Amanat Nasional (PAN), Yusri Abdullah atau yang akrab disapa Ayah Yusri, berharap komisi DPRK yang membidangi persoalan tersebut segera turun langsung ke lapangan. Menurutnya, kondisi yang dialami warga tidak boleh dibiarkan berlarut-larut tanpa kepastian penyelesaian.

“Kita berharap komisi yang membidangi cek dulu ke lapangan dan cari solusi,” tegas Yusri Abdullah.

Anggota dewan dari Daerah Pemilihan (Dapil) I tersebut juga menekankan pentingnya kehadiran pemerintah dalam menjawab persoalan yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.

“Pemerintah harus hadir menyahuti keluhan rakyatnya,” harap Ayah Yusri.

Meski sejumlah wakil rakyat telah menyampaikan komitmen untuk membahas persoalan tersebut, warga masih menanti langkah nyata agar akses jalan menuju rumah mereka benar-benar dapat diwujudkan.

Hingga berita ini ditayangkan, Kontributor Investigasi News belum memperoleh tanggapan resmi dari pemerintah daerah. Sekretaris Daerah (Sekda) Pidie Jaya diketahui telah membaca pemberitaan sebelumnya dan sudah dihubungi untuk dimintai keterangan, namun belum memberikan tanggapan.

Puluhan Tahun Bertahan Tanpa Akses Jalan Layak

Sebelumnya, media ini memberitakan kisah pilu Syamsuddin (71), seorang lansia yang bersama putrinya, Nadarita (36), serta dua kepala keluarga lainnya harus menjalani kehidupan dengan akses jalan yang jauh dari kata layak.

Syamsuddin mengaku telah menempati rumah sederhana tersebut sejak puluhan tahun lalu, ketika kedua orang tuanya masih hidup. Kini, di usia senja dan setelah memiliki cucu, ia masih menghadapi persoalan yang sama: tidak memiliki akses jalan yang memadai menuju rumahnya.

Dengan suara lirih, Syamsuddin menceritakan bahwa selama bertahun-tahun keluarganya terpaksa melewati area pemakaman umum dan pekarangan milik tetangga untuk keluar-masuk rumah.

Namun, kondisi semakin sulit dalam beberapa tahun terakhir setelah area pemakaman dan pekarangan warga dipagari. Akibatnya, jalur yang selama ini mereka gunakan tidak lagi dapat dilalui dengan leluasa.

“Dulu kami lewat kuburan, kadang lewat jalan samping rumah tetangga. Tetapi dalam beberapa tahun ini kuburan umum sudah dipagar dan pekarangan tetangga juga, sehingga kami harus lewat jalan dan pagar tetangga lain,” ungkap Syamsuddin sambil menunjukkan jalur yang terpaksa mereka lalui.

Kesulitan tersebut juga dirasakan Nadarita. Ibu satu anak itu mengaku harus menghadapi perjuangan tersendiri setiap kali keluar rumah, terutama saat mengantar anaknya yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK).

Untuk mencapai jalan yang dapat dilalui, ia harus melewati kebun dan pagar milik tetangga yang dipenuhi rerumputan panjang.

“Sangat sulit, Pak. Harus melewati pagar dan kebun tetangga. Mau tidak mau terpaksa kami lakukan karena cuma ini jalan satu-satunya bagi kami. Kami sangat berharap perhatian pemerintah untuk membantu kami agar bisa mendapatkan jalan menuju rumah,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Persoalan akses tersebut tidak hanya menyulitkan aktivitas sehari-hari, tetapi juga berdampak pada kendaraan milik keluarga Syamsuddin dan dua KK lainnya. Selama bertahun-tahun, kendaraan mereka terpaksa ditinggalkan di kebun tetangga dan dibiarkan terpapar panas serta hujan lantaran tidak tersedia tempat penyimpanan yang memadai.

Keuchik Akui Persoalan Sudah Berlangsung Lama

Keuchik Desa Rieng Krueng, Zainal Abidin, membenarkan kondisi yang dialami Syamsuddin dan dua keluarga lainnya. Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, ia menjelaskan bahwa persoalan akses jalan tersebut telah berlangsung cukup lama, bahkan melewati dua kali pergantian keuchik.

Menurut Zainal, pemerintah desa sebenarnya telah berupaya mencari jalan keluar. Salah satu langkah yang pernah ditempuh adalah menawarkan ganti rugi kepada pemilik lahan di sisi kiri dan kanan jalur yang direncanakan. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena pemilik lahan tidak bersedia melepaskan tanah mereka.

“Benar, Bang. Ini sudah lama terjadi, sudah dua kali pergantian keuchik. Bahkan jauh-jauh hari kami sudah mencari solusi, termasuk menawarkan ganti rugi kepada pemilik lahan, baik kiri maupun kanan. Namun, keduanya tidak bersedia melepaskan tanah mereka,” jelas Zainal.

Ia menyebutkan, salah satu alternatif yang memungkinkan untuk membuka akses adalah membangun lorong di atas tanggul sungai. Namun, rencana tersebut membutuhkan anggaran yang cukup besar, sementara kemampuan keuangan desa belum mencukupi untuk merealisasikannya.

Kondisi inilah yang membuat persoalan akses jalan tersebut belum menemukan penyelesaian hingga sekarang.

Kini, harapan Syamsuddin dan dua keluarga lainnya tertuju kepada pemerintah daerah serta para wakil rakyat yang telah menyatakan kesediaan untuk membahas persoalan tersebut.

Mereka tidak meminta kemewahan. Sebuah jalan yang layak dan aman untuk keluar-masuk rumah menjadi kebutuhan mendasar agar aktivitas sehari-hari, termasuk mengantar anak ke sekolah dan membawa kendaraan, tidak lagi menjadi perjuangan yang melelahkan.

Di tengah respons dan janji untuk mencari solusi, masyarakat kini menunggu bukti nyata. Jangan sampai persoalan yang telah berlangsung puluhan tahun itu kembali berlalu tanpa penyelesaian, sementara warga terus berjuang melewati kuburan, kebun, dan pagar tetangga demi mencapai rumah sendiri.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest