BIAK, Investigasi News – Festival Budaya Biak-Melanesia (FBBM) 2026 resmi berakhir pada 21 Oktober 2026. Namun, semangat kebersamaan, pelestarian budaya, dan ambisi menjadikan Kabupaten Biak Numfor sebagai salah satu pusat kebudayaan Melanesia di kawasan Pasifik diharapkan terus berlanjut setelah festival ditutup.
Digelar pada 17–21 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Elok Alamku, Pesona Budayaku”, FBBM 2026 tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan seni dan tradisi. Festival ini juga menjadi ruang pertemuan lintas budaya, diplomasi, promosi pariwisata, sekaligus peluang untuk menggerakkan perekonomian masyarakat melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Masuk dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, festival ini semakin mempertegas potensi Biak Numfor sebagai daerah yang memiliki kekayaan alam dan budaya untuk diperkenalkan kepada masyarakat nasional maupun internasional.
Sejak pembukaan, FBBM 2026 mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Festival dibuka oleh Bupati Biak Numfor Markus Oktovianus Mansnembra bersama Wakil Gubernur Papua Aryoko Alberto Ferdinand Rumaropen, serta disaksikan Wakil Menteri Pariwisata dan delegasi dari sembilan negara sahabat.
Penutupan festival menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Biak Numfor untuk menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja sama, berpartisipasi, dan berkontribusi menyukseskan agenda budaya tersebut.
Apresiasi disampaikan kepada panitia pelaksana, seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), instansi pemerintah, BUMN, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), lembaga adat, lembaga agama, DPRD Biak Numfor, Sekretaris Daerah, Ketua Dharma Wanita, serta seluruh elemen masyarakat.
Perhatian khusus juga diberikan kepada para pelajar SD dan SMP yang turut mencatatkan prestasi melalui penampilan jukulele massal hingga memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Partisipasi siswa-siswi SD Inpres Kornasoren, Numfor Timur, turut memperkaya rangkaian kegiatan. Sementara itu, keterlibatan pelaku UMKM menjadi bagian penting dalam menghidupkan aktivitas ekonomi selama festival berlangsung.
Pemerintah daerah juga mengapresiasi kehadiran para tamu kehormatan, di antaranya Wakil Menteri Pariwisata, gubernur dan bupati se-Tanah Papua, anggota DPR RI dan DPD RI, Majelis Rakyat Papua dan Papua Barat, delegasi Belanda, Dubes Republik Seychelles, Nico Barito, tokoh masyarakat, serta wisatawan mancanegara.
Wakil Bupati Biak Numfor, Jimmy Carter Rumbarar Kapissa, S.H., menegaskan bahwa FBBM memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar perayaan tahunan. Festival ini dinilai sebagai instrumen diplomasi budaya, penggerak ekonomi masyarakat, sekaligus sarana memperkuat hubungan antarkomunitas Melanesia di kawasan Pasifik.
Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan FBBM 2026 merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pemerintah, panitia, pelaku usaha, komunitas budaya, hingga masyarakat.
“Keberhasilan ini adalah milik kita semua, hasil keringat dan gotong royong seluruh lapisan masyarakat. Terima kasih untuk semua yang sudah terlibat,” demikian pesan apresiasi yang disampaikan dalam penutupan festival.
Bukan Sekadar Festival, tetapi Peluang Besar bagi Biak
Berakhirnya FBBM 2026 sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk memastikan bahwa kemeriahan festival tidak berhenti ketika panggung pertunjukan dibongkar.
Potensi budaya, pariwisata, dan keterlibatan masyarakat yang telah ditampilkan perlu ditindaklanjuti melalui program berkelanjutan agar memberikan manfaat nyata bagi warga, khususnya pelaku UMKM, seniman, komunitas adat, dan sektor pariwisata.
Pemerintah Kabupaten Biak Numfor berharap FBBM dapat terus berkembang dengan inovasi setiap tahun, memperluas jejaring internasional, serta memperkuat daya tarik wisata unggulan daerah.
Dengan demikian, FBBM bukan hanya menjadi agenda seremonial, melainkan juga pintu masuk bagi promosi budaya Melanesia, pengembangan pariwisata, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Biak Numfor.
Kini, tantangannya adalah menjaga agar gaung FBBM 2026 tidak berhenti pada kemeriahan lima hari penyelenggaraan, tetapi terus berlanjut menjadi kekuatan budaya dan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat. (Jhonsa)













