PADANG, Investigasi.news – Di tengah hiruk-pikuk Kota Padang, tepatnya di Jalan Sawahan IV Nomor 10, berdiri sebuah rumah sederhana yang menyimpan begitu banyak kisah perjuangan, air mata, dan harapan. Rumah itu bernama Rumah Singgah Cahaya, tempat bernaung bagi anak-anak pejuang kanker beserta keluarga yang setia mendampingi mereka menjalani pengobatan.
Bagi keluarga yang datang dari berbagai daerah untuk mengupayakan kesembuhan buah hati, rumah ini bukan sekadar tempat beristirahat. Lebih dari itu, Rumah Singgah Cahaya menjadi ruang untuk menguatkan hati, berbagi beban, dan menumbuhkan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi ujian kehidupan.
Dikelola oleh Yayasan Komunitas Cahaya Padang, rumah singgah ini berawal dari kepedulian Bunda Elsy Varinia bersama sejumlah orang tua pasien kanker. Sejak 2018, mereka berupaya menghadirkan tempat yang layak dan nyaman bagi keluarga yang harus mendampingi anak-anak menjalani pengobatan dalam waktu panjang.
Gagasan tersebut tumbuh dari keprihatinan melihat banyak keluarga pasien yang kesulitan memperoleh tempat tinggal sementara di sekitar RSUP Dr. M. Djamil Padang. Tidak sedikit keluarga dari luar kota yang terpaksa menghemat pengeluaran dengan beristirahat di masjid rumah sakit, meskipun kondisi anak mereka sedang tidak sehat.
Padahal, anak-anak yang menjalani pengobatan kanker membutuhkan perhatian khusus, termasuk tempat beristirahat yang nyaman di sela-sela pemeriksaan laboratorium, menunggu ketersediaan ruang kemoterapi, maupun ketika harus menjalani pemulihan sebelum kembali mendapatkan perawatan.
“Rumah singgah ini kami wujudkan dari sebuah mimpi, agar anak-anak pejuang kanker dan keluarganya memiliki tempat untuk beristirahat selama menjalani pengobatan. Kami juga berharap tempat ini menjadi wadah bagi keluarga untuk saling menguatkan sekaligus pusat penyadartahuan mengenai kanker pada anak,” tutur Bunda Elsy.
Dari mimpi sederhana itulah, Rumah Singgah Cahaya hadir sebagai bentuk kepedulian yang berupaya menjawab kebutuhan keluarga pasien, sekaligus menghadirkan kehangatan di tengah perjuangan yang tidak mudah.
Bagi keluarga kurang mampu yang harus menempuh perjalanan jauh demi pengobatan anaknya, biaya hidup selama berada di kota tujuan kerap menjadi persoalan tersendiri. Pengeluaran untuk tempat tinggal, makanan, transportasi, dan kebutuhan pendampingan dapat menambah beban di tengah perjuangan memperoleh kesembuhan.
Rumah Singgah Cahaya berupaya meringankan beban tersebut. Seluruh fasilitas yang disediakan bagi keluarga pasien diberikan secara gratis, sehingga orang tua dapat lebih berkonsentrasi mendampingi anak menjalani pengobatan.
“Alhamdulillah, selalu ada saja jalan. Dana dan donasi datang dari para dermawan serta relawan yang hatinya tergerak untuk membantu meringankan beban anak-anak kita,” ujar Bunda Elsy penuh syukur.
Rumah singgah ini menyediakan tempat tinggal yang bersih dan nyaman, kebutuhan makanan pokok, serta sejumlah perlengkapan khusus bagi anak-anak yang membutuhkan, seperti kereta dorong (stroller), kursi roda, dan tabung oksigen.
Tak hanya itu, tersedia pula layanan ambulans gratis untuk mengantar dan menjemput pasien ke rumah sakit, termasuk membantu pengantaran jenazah ke kampung halaman apabila perjuangan sang anak harus berakhir dengan duka.
Untuk dapat tinggal di Rumah Singgah Cahaya, calon penghuni merupakan anak pejuang kanker berusia 0 hingga 19 tahun yang didampingi orang tua. Rumah singgah tersebut memiliki kapasitas untuk menampung hingga 13 anak beserta pendampingnya.
“Harapan kami, rumah ini bisa menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi keluarga pasien. Setidaknya, ketika mereka berada di sini, ada beban yang dapat kami bantu ringankan,” ungkap Bunda Elsy.
Peran Rumah Singgah Cahaya terasa semakin berarti bagi keluarga yang harus menjalani rangkaian pengobatan jangka panjang, termasuk kemoterapi di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Di tengah jadwal pemeriksaan, masa pemulihan, serta ketidakpastian yang menyertai perjalanan pengobatan, keberadaan tempat singgah menjadi penopang penting bagi keluarga. Mereka tidak hanya membutuhkan tempat untuk tidur, tetapi juga lingkungan yang memungkinkan anak beristirahat dan orang tua memperoleh dukungan moral.
Manfaat tersebut dirasakan Hendi (42), seorang ayah asal Kabupaten Pasaman Barat. Putranya, Muhammad Henfi Kenzi, yang baru berusia 3,5 tahun, tengah berjuang melawan leukemia atau kanker darah.
Bagi Hendi dan keluarganya, kehadiran Rumah Singgah Cahaya menjadi pertolongan yang sangat berarti ketika mereka harus menjalani pengobatan di Kota Padang.
“Kami sangat bersyukur dan terbantu dengan adanya Rumah Singgah Cahaya ini. Anak saya baru dirawat selama lima hari di RSUP Dr. M. Djamil, kemudian diperbolehkan pulang sementara sebelum menjalani kontrol dan perawatan lanjutan dalam rangkaian protokol kemoterapi selama lima minggu,” tutur Hendi.
Menurutnya, masa pemulihan setelah pengobatan merupakan periode yang rentan bagi anak-anak. Karena itu, tempat singgah yang layak sangat dibutuhkan agar anak dapat beristirahat, sementara keluarga tetap memiliki akses untuk menjalani kontrol dan perawatan sesuai arahan tenaga medis.
“Pada masa pemulihan, kondisi anak harus benar-benar diperhatikan. Di sinilah kami merasakan betapa pentingnya keberadaan rumah singgah,” ujarnya.
Kisah serupa juga dirasakan Tomi (28), yang telah empat bulan menetap di Padang demi mendampingi pengobatan anaknya yang baru berusia 1,5 tahun.
Berada jauh dari kampung halaman, dengan rutinitas pengobatan yang menguras tenaga dan pikiran, bukanlah perkara mudah. Namun, di Rumah Singgah Cahaya, Tomi menemukan keluarga baru yang memahami perjuangannya.
“Keberadaan rumah singgah ini sangat meringankan beban di pundak kami. Di sini, kami bertemu dengan keluarga yang senasib. Kami bisa saling berbagi cerita, saling menguatkan, dan berjuang bersama-sama,” ungkap Tomi dengan suara haru.
Pertemuan antarkeluarga pasien menghadirkan kekuatan tersendiri. Pengalaman yang dibagikan, perhatian sederhana, dan semangat yang ditularkan satu sama lain menjadi pengingat bahwa di tengah beratnya ujian, masih ada kepedulian yang dapat dirasakan.
Di rumah sederhana itu, perjuangan melawan kanker tidak hanya menjadi perjalanan seorang anak bersama orang tuanya. Ada kebersamaan yang tumbuh, menghadirkan dukungan emosional bagi keluarga yang harus bertahan menghadapi hari-hari penuh tantangan.
Kehadiran Rumah Singgah Cahaya menjadi bukti bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui langkah nyata. Di tengah perjuangan anak-anak menghadapi berbagai jenis kanker, mulai dari kanker darah, kanker tulang, hingga limfoma, rumah ini berusaha memberikan ruang bagi mereka dan keluarga untuk beristirahat serta menguatkan diri.
Namun, menjaga agar pintu rumah singgah tetap terbuka membutuhkan dukungan berkelanjutan. Biaya sewa bangunan, kebutuhan bahan makanan pokok, operasional harian, serta pemeliharaan ambulans merupakan sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi agar pelayanan dapat terus berjalan.
Yayasan Komunitas Cahaya Padang pun membuka kesempatan bagi masyarakat luas untuk ikut berpartisipasi, baik melalui donasi maupun menjadi relawan. Setiap bentuk kepedulian diharapkan dapat membantu mempertahankan keberadaan rumah singgah yang manfaatnya dirasakan langsung oleh keluarga pasien kanker anak.
Bagi masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan, donasi dapat diberikan melalui rekening yang dicantumkan oleh yayasan:
Atas Nama: Yayasan Komunitas Cahaya Padang
– Bank BNI: 2323230717
– Bank Nagari Syariah: 71000201057214
– Bank BRI: 066901001547566
Di Jalan Sawahan IV Nomor 10, Rumah Singgah Cahaya terus berupaya menghadirkan kehangatan bagi keluarga yang tengah berjuang melewati masa-masa sulit. Rumah ini mungkin sederhana, tetapi kepedulian yang tumbuh di dalamnya memiliki arti besar bagi mereka yang membutuhkan.
Sebab, bagi seorang anak yang tengah berjuang melawan kanker, dan orang tua yang tak pernah berhenti berharap, tempat beristirahat yang layak, uluran tangan yang tulus, serta kehadiran orang-orang yang peduli dapat menjadi sumber kekuatan untuk melanjutkan perjuangan.
Mari bersama-sama menjadi selimut hangat dan cahaya harapan bagi para pejuang cilik. Agar di tengah beratnya perjuangan melawan penyakit, mereka dan keluarga tetap merasakan bahwa harapan selalu memiliki tempat untuk tumbuh.
(Malin)
Feature: Hendi, Wartawan UKW Muda













