Banner iklan

Bukan Sekadar Diskusi, GREENLIGHT OF PASAMAN Dorong Gerakan Nyata Pelestarian Alam

More articles

Pasaman, Investigasi.News – Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup menjadi perhatian bersama dalam Forum Diskusi GREENLIGHT OF PASAMAN yang digelar Penggiat Alam Pasaman (PAP) bekerja sama dengan Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Sabtu (31/10/2026).

Mengangkat tema “Kenapa Kita Butuh Alam?”, kegiatan yang berlangsung di Tanjung Baringin Cafe, Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, tersebut menjadi ruang dialog dan pertukaran gagasan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, keberlanjutan lingkungan hidup, serta membangun kesadaran terhadap dampak aktivitas manusia terhadap alam.

Selain membahas urgensi pelestarian lingkungan, forum ini juga mengangkat materi mengenai cara menghitung jejak karbon sebagai upaya meningkatkan pemahaman peserta terhadap kontribusi aktivitas sehari-hari terhadap emisi gas rumah kaca. Pembahasan ini diharapkan dapat mendorong peserta mengenali dampak lingkungan dari aktivitas manusia sekaligus memahami langkah-langkah sederhana untuk menguranginya.

Forum yang digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ini dihadiri Pendamping perhutanan sosial KPHL Pasaman Unit 1 serta berbagai unsur organisasi kepemudaan, mahasiswa, komunitas lingkungan, pemerhati alam, serta sejumlah elemen masyarakat. Salah satunya adalah KUPS Induak Baringin yang turut hadir sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan pelestarian lingkungan di Kabupaten Pasaman.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pendiri Penggiat Alam Pasaman, Yulialdi Agus, S.H., menyampaikan pesan kuat mengenai pentingnya membangun kesadaran kolektif untuk menjaga alam. Menurutnya, keberlangsungan hidup manusia tidak dapat dipisahkan dari keberadaan hutan, air bersih, udara sehat, dan lingkungan yang terjaga.

Ia mengawali penyampaiannya dengan sebuah pertanyaan reflektif kepada seluruh peserta.

“Pernahkah kita membayangkan hidup tanpa hutan, tanpa air bersih, tanpa udara sehat di Pasaman? Kita bisa hidup tanpa teknologi, tanpa kemewahan. Tetapi kita tidak akan pernah bisa hidup tanpa alam,” ungkapnya.

Yulialdi juga mengingatkan bahwa tekanan terhadap kawasan hutan, ancaman terhadap sumber air, serta bencana yang terjadi silih berganti harus menjadi peringatan bagi seluruh elemen masyarakat agar lebih serius memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Ini bukan alam yang marah. Ini alam yang memberi tanda bahwa ia sudah lelah. Maka pertanyaannya bukan apakah alam membutuhkan kita, tetapi apakah kita masih peduli terhadap alam yang selama ini menghidupi kita?” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Penggiat Alam Pasaman (PAP) bukan sekadar organisasi untuk kegiatan seremonial ataupun tempat berkumpul. PAP hadir sebagai wadah untuk mendorong lahirnya kepedulian dan aksi nyata dalam menjaga lingkungan.

Menurutnya, upaya pelestarian alam tidak mungkin berhasil apabila hanya dibebankan kepada satu kelompok. Diperlukan keterlibatan seluruh unsur masyarakat, mulai dari generasi muda, ninik mamak, Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN), komunitas lingkungan hingga pemerintah.

“Menjaga alam tidak bisa sendiri. Butuh pemuda dengan semangatnya, ninik mamak dengan kearifan lokalnya, LPHN dengan wilayah kelolanya, dan pemerintah dengan kebijakannya. Kita harus berjalan bersama,” ujarnya.

Ia berharap forum diskusi tersebut tidak sekadar menghasilkan percakapan dan gagasan, tetapi mampu melahirkan kesepakatan yang kemudian diwujudkan melalui tindakan konkret.

“Saya tidak ingin diskusi hari ini hanya berhenti menjadi kata-kata. Dari diskusi harus lahir gagasan, dari gagasan lahir kesepakatan, dan dari kesepakatan lahir aksi nyata,” tambahnya.

Yulialdi juga mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan yang tidak ditangani sejak dini berpotensi merampas hak generasi mendatang untuk menikmati alam yang sehat dan lestari.

“Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya mengenal hutan dari cerita, mengenal sungai dari gambar, dan mengenal mata air dari kenangan kita,” pesannya.

Menutup sambutannya sekaligus membuka forum diskusi, ia menegaskan bahwa alam tidak membutuhkan banyak janji, melainkan kepedulian, keberanian, dan tindakan nyata dari seluruh pihak.

“Kalau bukan kita yang menjaga Pasaman, siapa lagi? Kalau bukan hari ini, kapan lagi? Dari diskusi menjadi aksi. Untuk alam, untuk Pasaman, untuk masa depan,” tutup Yulialdi.

Sementara itu, kolaborasi antara Penggiat Alam Pasaman (PAP) dan KKI Warsi dalam penyelenggaraan GREENLIGHT OF PASAMAN menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antarkomunitas dalam mendorong kepedulian terhadap lingkungan.

Pembahasan mengenai perhitungan jejak karbon juga menjadi salah satu aspek penting dalam forum tersebut. Dengan memahami jejak karbon, masyarakat diharapkan semakin menyadari bahwa aktivitas manusia memiliki konsekuensi terhadap lingkungan. Kesadaran tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan yang lebih ramah lingkungan dan mendukung pengurangan emisi karbon.

Foto bersama peserta usai kegiatan GREENLIGHT OF PASAMAN yang mengusung semangat “From Discussion to Action, Be Inspiration”

Melalui forum GREENLIGHT OF PASAMAN, diharapkan lahir kolaborasi lintas organisasi dan generasi untuk mendorong gerakan pelestarian alam yang berkelanjutan. Tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata yang berdampak bagi lingkungan dan masyarakat.

Sebab, menjaga alam bukan hanya tentang melindungi hutan dan sungai hari ini, tetapi juga memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki lingkungan yang sehat, sumber kehidupan yang terjaga, serta masa depan yang lebih baik.

Dari diskusi menjadi aksi. Untuk alam, untuk Pasaman, dan untuk masa depan.

(Ririn)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest