Emosi Anak Di TK Al-Ikhlas Lunto

More articles

spot_img

 

Dini Englasari

Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Padang

Email : englasaridini@gmail.com

 

ABSTRAK

Tujuan dilakukannya observasi adalah untuk mengenal bentuk bentuk emosi anak, untuk mengetahui penyebab emosi anak, untuk memahami tentang bahasa emosi anak, untuk memahami cara pendidik mengenalkan perkembangan  emosi di TK AL-IKHLAS Lunto. Metode yang digunakan yaitu wawancara, metode pustaka, metode pengamatan yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melihat, mengamati serta menganalisis apa yang menjadi objek. Hasil penelitiam cara yang digunakan pendidik TK AL-IKHLAS Lunto untuk mengenalkan emosi kepada anak adalah : pendidik menggunakan berbagai kegiatan dan bahan ajar untuk membantu anak-anak mengidentifikasi dan memahami emosi yang berbeda, anak-anak diajarkan cara yang tepat untuk mengekspresikan emosi mereka.. Anak-anak juga diajarkan strategi untuk mengelola emosi mereka. Anak-anak belajar bagaimana emosi mempengaruhi hubungan mereka dengan orang lain. Pendidik membantu anak-anak menghubungkan emosi mereka dengan pengalaman mereka.

Kata Kunci: Emosi Anak, bahasa emosi.

  1. PENDAHULUAN

Perkembangan emosi adalah salah satu bentuk perkembangan yang akan dialami oleh setiap manusia dalam kehidupannya dan hal tersebut akan terjadi sejak masa bayi hingga masa tua. Perkembangan emosi adalah hal yang wajar dialami oleh setiap manusia terlebih pada anak karena banyak hal baru yang akan dialami oleh anak dan hal tersebut memungkinkan anak merasakan berbagai emosi yang baru mereka rasakan pertama kali dalam hidupnya. Emosi adalah hal yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan. Hal tersebut berperan penting dalam keadaan diri seseorang dan manusia merasakan emosi tertentu setiap saat dalam kehidupannya. sehubungan dengan hal tersebut perlu adanya perhatian lebih mengenai emosi pada manusia khususnya anak usia pertengahan yang akan sering menjumpai beragam emosi baru untuk pertama kalinya.

Emosi yang dirasakan setiap anak tidak selalu menyenangkan. Terkadang anak dapat merasakan kebahagiaan serta kegembiraan namun terkadang anak juga dapat merasakan kemarahan maupun kesedihan. Pada masa akhir kanak-kanak, ada saat ketika anak sering mengalami emosi yang hebat. Meningginya emosi pada akhir masa kanak-kanak dapat disebabkan karena keadaan fisik atau lingkungan. Kalau anak sakit atau lelah ia cenderung cepat marah, rewel, dan umumnya sulit dihadapi (Hurlock, 1980). Shield (1991a) yang dikutip oleh (Santrock, 2003) mengungkapkan bahwa kita sering menggunakan keyakinan-keyakinan tentang emosi untuk menjelaskan perbedaan antara maskulin dan feminin, laki-laki dan perempuan. Meskipun terdapat perbedaan pengungkapan rasa marah antara anak laki-laki dan perempuan namun anak cenderung memperlihatkan kemarahannya dengan caranya masing-masing.

Perkembangan emosi pada anak usia dini sangatlah penting. Sebab perilaku emosiemosi ada hubungannya dengan aktivitas dengan aktivitas dalam kehidupannya. Semakin kuat emosi memberikan tekanan, akan semakin kuat mengguncang keseimbangan tubuh untuk melakukan aktivitas tertentu. Jika kegiatan sesuai dengan emosinya maka anak akan senang melakukannya dan secara mental akan meningkatkan konsentrasi dan aktivitasnya dan secara psikologis akan positif memberikan sumbangan pada peningkatan motivasi dan minat pada pembelajaran yang ditekuni. Sosial emosional pada anak usia dini penting dikembangkan. Terdapat beberapa hal mendasar yang mendorong pentingnya pengembangan emosi tersebut.

Penyelenggaraan lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) dipandang sebagai peletak dasar bagi terlaksananya pendidikan intelektual dan pendidikan emosional. Setiap anak akan mengalami masa-masa pertumbuhan dan perkembangan pada berbagai dimensi. Apabila pada anak diberikan stimulasi edukatif secara intensif dari lingkungannya, maka anak akan mampu menjalani tugas perkembangannya dengan baik (Yuliani, 2006:2.7 )

 

  1. LANDASAN TEORI
  2. Pengertian Emosi

Istilah emosi berasal dari kata “emotus” atau “emovere” atau “mencerca” (to stir up) yang berarti sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu, missal emosi gembira mendorong untuk tertawa, atau perkataan lain emosi didefinisikan sebagai suatu keadaan gejolak penyesuaian diri yang berasal dari dalam dan melibatkan hamper keseluruhan diri individu (Sujiono, 2009).

Emosi adalah perasaan yang banyak berdampak terhadap perilaku.Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap dorongan dari luar dan dalam diri individu.Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran.Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia. Emosi adalah suatu reaksi kompleks yang mengait satu tingkat tinggi kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam, serta dibarengi perasaan yang kuat, atau disertai keadaan afektif (Desmita, 2010:116).

Sarlito (2005:34) berpendapat bahwa emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam).

Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti menigkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku internasional manusia (Prawitasari,1995).

Menurut Crow dan Crow (1958), perngertian emosi adalah ‘An emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustement and mental and physiological stirredup states in the individual, and that shows it self in his evert behavior’. Jadi, emosi adalah pengalaman afektif yang digeneralisasikan dalam penyesuaian diri dan mental sehingga dapat menerangkan siapa individu tersebut sesungguhnya dan ditunjukan dalam setiap perilakunya.

Baca Juga :  Filosofi Gonjong Tanduk Kerbau Istano Pagaruyung 

Menurut Elizabeth B. Hurlock sebagaimana yang dikutip (Setiani, 2012) kemampuan anak untuk bereaksi secara emosional sudah ada semenjak bayi baru dilahirkan. Gejala pertama perilaku emosional ini berupa keterangsangan umum. Dengan meningkatkan usia anak, reaksi emosional mereka kurang menyebar, kurang sembarangan, lebih dapat dibedakan, dan lebih lunak kerena mereka harus mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan.

 

  1. Ciri-ciri Emosi

Menurut Hurlock (Rosmala, 2005:23) ciri khas penampilan emosi pada anak adalah sebagai berikut: Pertama, Emosi anak bersifat sementara dan lekas berubah. Misalnya anak marah mudah beralih ke senyum, tertawa ke menangis atau dari cemburu kerasa sayang. Kedua, Reaksi yang kuat terhadap situasi yang menimbulkan rasa senang atau tidak senang sangat kuat. Ketiga, Emosi itu sering timbul dan nampak pada tingkah lakunya. Misalnya menangis, gelisah, gugup dan sebagiannya Reaksi emosional bersifat individual. Keempat, Emosi berubah kekuatannya. Pada usia tertentu emosi yang sangat kuat berkurang kekuatnnya.

 

  1. Fungsi Emosi Pada Anak Usia Dini

Fungsi emosi pada AUD yaitu , Pertama, perilaku emosi anak yang ditampilkan merupakan sumber penilaian lingkungan sosial terhadap dirinya. Penilaian lingkungan sosial ini akan menjadi dasar individu dalam menilai dirinya sendiri. Contoh: jika seorang anak sering mengekspresikan ketidaknyamannya dengan menangis, lingkuangan sosialnya akan menilai ia sebagai anak yang “cengeng”. Kedua, emosi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dapat mempengaruhi interaksi sosial anak melalui reaksi-reaksi yang ditampilkan lingkungannya. Melalui reaksi lingkungan sosial anak dapat belajar untuk membentuk tingkah laku emosi yang dapat diterima lingkungannya. Jika anak melemparkan mainannya saat marah, reaksi yang muncul dari lingkungannya adalah kurang menyukai atau menolaknya. Ketiga, emosi dapat mempengaruhi iklim psikologis lingkungan, artinya jiks ada yang ditampilkan dapat menentukan iklim psikologis lingkungan. Artinya jika ada seorang anak yang pemarah dalam suatu kelompok, maka dapat mempengaruhi kondisi psikologis lingkungannya saat itu. Keempat, tingkah laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat menjadi satu kebiasaan. Artinya jika seorang anak yang ramah dan suka menolong merasa senang dengan perilakunya tersebut dan lingkunganpun menyukainya maka anak akan melakukan perbuatan tersebut berulang-ulang hingga akhirnya menjadi kebiasaan. Kelima, ketegangan emosi yang dimiliki anak dapat mengahambat atau mengganggu aktivitas motorik dan mental anak. Seorang anak yang mengalami stress atau ketakutan menghadapi suatu situasi, dapat menghambat anak tersebut untuk melakukan aktivitas. Misalnya, seorang anak akan menolak bermain kreasi dengan cat poster karena takut akan mengotori bajunya dan dimarahi orang tua. Kegiatan kreasi dengan cat poster ini sangat baik untuk melatih motorik halus dan indra perabaannya.

 

 

 

  1. Karakteristik Perkembangan Emosi Pada Anak Usia Dini

Uraian mengenai karakteristik perkembangan emosi anak usia dini memberi gambaran lebih utuh tentang karakter emosi anak, Hurlock (1993) menyatakan bahwa karakter emosi anak usia dini sangat kuat pada usia 2,5-3,5 tahun dan 5,5-6,5 tahun. Beberapa ciri utama reaksi emosi pada anak usia dini antara lain: (a) reaksi emosi anak sangat kuat, anak akan merespons suatu peristiwa dengan kadar kondisi emosi yang sama. Semakin bertambah usia anak, anak akan semakin mampu memilih kadar keterlibatan emosinya. (b) reaksi emosi sering kali muncul pada setiap peristiwa dengan cara yang diinginkannya. Anak dapat bereaksi emosi kapan saja mereka menginginkannya. Kadang tiba-tiba anak menangis saat bosan atau karena suatu kondisi yang tidak jelas. Semakin bertambah usia anak, kematangan emosi anak semakin bertambah sehingga mereka mampu mengontrol dan memilih reaksi emosi yang dapat diterima lingkungan. (c) reaksi emosi anak mudah berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Bagi seseorang anak sangat mungkin sehabis menangis akan langsung tertawa keras melihat kejadian yang menurutnya lucu. Reaksi ini menunjukkan spontanitas pada diri anak dan menunjukkan kondisi asli (genuine) di mana anak sangat terbuka dengan pengalaman-pengalaman hatinya. (d) reaksi emosi bersifat individual, artinya meskipun peristiwa pencetus emosi sama namun reaksi emosinya dapat berbeda-beda. Hal ini terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi terutama pengalaman-pengalamn dari lingkungan yang dialami anak. (e) keadaan emosi anak dapat dikenali melalui gejala tingkah laku yang ditampilkan. Anak-anak sering kali mengalami kesulitan dalam mengungkapkan emosi secara verbal. Kondisi emosi yang dialami anak lebih mudah dikenali dari tingkah laku yang ditunjukkan

Karakteristik emosi pada anak berbeda dengan karakteristik yang terjadi pada orang dewasa, dimana karakteristik emosi pada anak itu antara lain: Pertama, berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba. Kedua, terlihat lebih hebat atau kuat. Ketiga, bersifat sementara atau dangkal. Keempat, lebih sering terjadi. Kelima, dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya. Keenam, reaksi mencerminkan individualitas.

Baca Juga :  Belajar Budaya Jawa Lewat Suasana Rumah Makan, Ini Sosok Mantan Rektor Yang Dirikan Rumah Makan Edukatif

Emosi memiki peranan yang sangat penting dalam perkembangan anak, baik pada usia prasekolah maupun pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya, karena memiliki pengaruh terhadap perilaku anak. Woolfson menyebutkan bahwa anak memiliki kebutuhan emosional, seperti ingin dicintai, dihargai, rasa aman, merasa kompeten dan mengoptimalkan kompetensinya (Femmi nurmalitasari, 2015: 106). Terdapat beberapa hal penting dalam perkembangan emosional anak yang perlu dipahami meliputi: (a)usia berpengaruh pada perbedaan perkembangan emosi, (b)perubahan ekspresi wajah terhadap emosi, (c)menunjukkan emosi yang kompleks, (d)bahasa tubuh, (e)suara dan kata, (f)representasi simbolik, (g)pengetahuan emosi,(h)perubahan usia dalam regulasi emosi, (i)respons pada perasaan lainnya, (j)ikatan emosional dengan yang lain, (k)tahap-tahap perkembangan emosional (Nurmalitasari, 2015).

Perkembangan ciri khas emosi pada anak adalah emosinya kuat, emosi sering kali tampak, emosinya bersifat sementara lainil, dan emosi dapat diketahui melalui perilaku anak (Khairi, 2018). Para psikolog mengemukakan karakteristik perkembangan sosio emosional bahwa terdapat tiga tipe tempramen anak, yaitu: Pertama, anak yang mudah diatur mudah beradaptasi dengan pengalaman baru, senang bermain dengan mainan baru, tidur dan makan secara teratur dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan di sekitarnya. Kedua, anak yang sulit diatur seperti sering menolak rutinitas sehari-hari, sering menangis, butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan dan gelisah saat tidur. Ketiga, anak yang membutuhkan waktu pemanasan yang lama, umumnya terlihat agak malas dan pasif, jarang berpatisipasi secara aktif dan seringkali menunggu semua hal diserahkan kepadanya.

 

  1. Hasil Observasi
  2. Bentuk Label Emosi Anak di TK AL-IKHLAS Lunto

Label emosi merupakan langkah penting dalam perkembangan kecerdasan emosional dan sosial anak usia dini. Label emosi adalah kata atau frasa yang digunakan untuk mengidentifikasi dan menamai perasaan atau emosi tertentu. Berdasarkan hasil wawancara bersama guru di TK AL-IKHLAS Lunto, cara yang dilakukan guru dalam mengenalkan emosi kepada anak yaitu menjelaskan dan mencontohkan kepada anak macam-macam emosi seperti senang, sedih, marah, dan takut. Guru menjelaskan macam-macam emosi dalam bentuk kegiatan bercakap-cakap dengan anak dan membuat kartu ekspresi yang dicetak dalam bentuk bermacam-macam emosi tersebut. Kartu ekspresi tersebut digunakan saat guru menjelaskan macam-macam bentuk emosi kepada anak seperti ekspresi tertawa tandanya emosi yang sedang bahagia, ekspresi menangis tandanya emosi yang sedang sedih, ekspresi geram tandanya emosi sedang marah dan ekspresi menutup mulut dengan tangan sambil mata melotot tandanya emosi sedang takut. Dengan adanya kartu label ekspresi yang diciptakan oleh guru maka anak bisa mengetahui dan memahami bentuk-bentuk dari emosi yang mereka rasakan. Agar anak lebih mendalami tentang macam-macam emosi yang sudah dijelaskan guru, maka guru meminta anak untuk mengekspresikan ke depan bagaimana kalau emosi sedang senang, sedih dan marah. Selain itu guru meminta anak untuk menebak kartu ekspresi yang di perlihatkan guru di depan kelas.

Selain membuat kartu ekspresi, hal yang dilakukan guru di TK AL-IKHLAS Lunto dalam mengenalkan emosi kepada anak yaitu dengan membacakan buku cerita kepada anak. Dimana buku cerita tersebut terdapat macam-macam emosi yang bisa didengar dan dipahami anak. Setelah guru bercerita di depan kelas menggunakan buku cerita, maka guru meminta anak untuk menyebutkan emosi apa saja yang ada dalam cerita tersebut. Sehingga anak bisa menyeutkan emosi apa saja yang ada dalam cerita yang disampaikan guru.

Dengan adanya kartu ekspresi, bercakap-cakap tentang macam-macam emosi serta membacakan buku cerita kepada anak tentang macam-macam emosi akan bermanfaat bagi anak seperti dengan memahami label emosi, anak dapat mengidentifikasi dan menamai perasaan mereka, dapat meningkatkan kecerdasan emosional dan sosial anak, anak dapat mengkomunikasikan perasaannya kepada orang lain dengan lebih jelas dan akurat, meningkatkan kepercayaan diri anak, serta mencegah masalah yang bisa timbul dengan emosi anak di masa depan mereka nantinya.

  1. Bahasa Emosi Anak di TK AL-IKHLAS Lunto

Bahasa emosi anak adalah kemampuan anak untuk menggunakan simbol linguistik dan mengontrol diri dalam komunikasi yang baik. Perkembangan bahasa dan emosi anak sangat penting untuk belajar, terlibat dalam hubungan sosial, dan pengaturan perilaku dan emosi sejak bayi dan seterusnya. Anak belajar berbahasa dengan cara mencoba, meniru, dan membimbing, yang mempengaruhi perkembangan emosional mereka. Pemberian pengetahuan yang luas dan dukungan dari lingkungan dan orang dewasa di sekitarnya sangat berguna untuk memahami bagaimana aspek emosional ini dapat memengaruhi kemampuan belajar bahasa anak dan memerlukan kontrol emosi yang baik.

Berikut ini adalah beberapa contoh bahasa emosi yang sering muncul dari anak-anak di TK AL-IKHLAS Lunto yaitu anak bisa mengungkapkan emosinya melalui 2 bentuk yaitu verbal dan non verbal. Verbal disini contohnya yaitu anak tertawa ketika mereka bahagia dan gembira dan anak menangis ketika mereka sedih dan kecewa. Anak di TK AL-IKHLAS Lunto juga bisa mengungkapkan bahasa emosinya melalui bentuk non verbal yaitu malalui bahasa tubuhnya (anak yang sedang marah akan menunjukkan bahasa tubuh yang bisa kita lihat secara kasat mata seperti mengepalkan tangannya, menendang kaki, atau menolak kontak fisik. Anak yang sedang merasa cemas akan menunjukkan bahasa tubuh yang mungkin gelisah, menggigit kuku, atau mencari pengasuh secara berlebihan. Sedangkan anak yang senang akan menunjukkan bahasa tubuh seperti melompat-lompat, bertepuk tangan, atau memeluk orang lain). Selain menggunakan bahasa tubuh, anak juga bisa menunjukkan bahasa emosinya melalui perubahan perilakunya seperti anak yang cemas akan menunjukkan perilaku yang mungkin sulit tidur, mudah marah, atau clingy. Anak yang marah akan menunjukkan perilakunya yang mungkin menjadi agresif, mudah tersinggung, atau menolak mengikuti aturan.

Baca Juga :  Menyorot Jejak Cengkeraman Liberalisme Kelautan dan Perikanan di Indonesia

Setiap anak akan berbeda dalam menunjukkan bahasa emosinya yang disebabkan oleh usia mereka, pengalaman mereka serta budaya dan lingkungan mereka. Terkadang anak-anak juga mengalami emosi yang komplek sehingga mereka sulit untuk menunjukkan dan mengungkapkan emosi mereka. Kemampuan anak dalam mengidentifikasi, memahami dan menunjukkan emosinya akan berubah seiring dengan usia mereka.

 

  1. Emosi Anak di TK AL-IKHLAS Lunto

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di TK AL-IKHLAS Lunto Selama proses belajar  mengajar, anak dapat menunjukkan ekspresi emosi yang beragam. Di bawah ini adalah contoh ekspresi emosi yang  muncul pada anak ketika bermain dan belajar yaitu : Seorang anak yang bernama Inara terlihat menangis dan dilaporkan oleh temannya yang bernama Arshifa kepada guru bahwa Inara menangis. Mendengar cerita dari Arsyifa, kemudian guru menghampiri Inara yang sedang menangis. Guru bertanya kepada Inara apa yang menyebabkan dia menangis. Kemudian inara menjawab bahwa ia ingin berbaris paling depan tetapi Cila tidak memperbolehkannya. Mendengar jawaban Inara, guru menjelaskan kepada anak-anak bahwa untuk berbaris di depan kelas kita harus gantian, hari ini adalah Inara dan untuk esok hari adalah Edrea. Sehingga semua anak dapat giliran untuk berbaris paling depan. Guru juga meminta Inara dan Cila saling bermaafan dan berteman kembali. Sehingga dengan cara ini anak dapat saling memahami dan bergantian untuk berdiri paling depan saat kegiatan berbaris dihalaman.

Selain emosi menangis, bentuk emosi lain yang ada di TK AL-IKHLAS Lunto yaitu emosi takut. Hal ini terlihat pada seorang anak yang bernama Rahid yang ingin meminta izin untuk pergi ke kamar kecil. Guru mengizinkan Rahid untuk pergi ke kamar kecil. Namun Rahid tidak kunjung pergi ke kamar kecil dan hanya berdiri di kursinya. Melihat kejadian itu, guru bertanya kepada Rahid mengapa ia tidak jadi ke kamar kecil. Rahid menjawab pertanyaan guru dengan berkata bahwa ia takut untuk ke kamar mandi sendirian karena takut dengan hantu. Mendengar hal itu guru tersenyum kecil dan berkata kepada Rahid “ayo, ibuk guru temani ke kamar kecil”. Selesai menemani Rahid ke kamar kecil, guru memberikan penjelasa kepada Rahid bahwa di kamar mandi tidak ada hantu karena sebelum masuk kamar mandi kita sudah terlebih dahulu membaca doa masuk wc. Kalau kita membaca doa maka kita akan dilindungi oleh Allah SWT. Oleh karena itu kita tidak perlu takut ke kamar mandi sendirian karena kita selalu di lindungi oleh Allah SWT dan hantu itu tidak ada.

Bentuk emosi lain yang ada di TK AL-IKHLAS Lunto yaitu emosi gembira. Hal ini terlihat pada anak saat anak bermain dengan asyik dengan teman sebayanya di kelas. Anak akan tertawa, kejar-kejaran dengan temannya serta tersenyum saat bermain bersama dengan temannya. Begitu juga saat anak bisa mengerjakan kegiatan yang diberikan guru. Anak akan tersenyum dan bahagia saat ia selesai dengan cepat dalam mengerjakan kegiatan yang dilakukan guru. Anak juga tertawa saat ia melihat hal-hal lucu yang dilakukan oleh teman-temannya.

 

 

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan sebelumnya, maka dapat penulis simpulkan bahwa perkembangan emosi pada anak usia dini merupakan aspek penting dalam tumbuh kembang mereka. Pada masa ini, anak mulai belajar mengenali, memahami, dan mengekspresikan berbagai emosi. Kemampuan ini penting untuk membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, mengatur perilaku, dan mengatasi stres. Ada beberapa macam perkembangan emosi yang ada di TK AL-IKHLAS Lunto yaitu emosi bahagia, emosi sedih, dan emosi takut. Dengan memahami perkembangan emosi anak usia dini, guru dan orang tua dapat membantu anak mereka membangun fondasi yang kuat untuk kesehatan mental dan emosional yang baik di masa depan.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

https://pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/PAUD4103-M1.pdf

https://journal.unilak.ac.id/index.php/paud-lectura/article/download/501/368

https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/insania/article/view/3951/2383

https://ejournal.upi.edu/index.php/familyedu/article/viewFile/5872/4666

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&opi=89978449&url=https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/insania/article/view/3951/2383&ved=2ahUKEwi464DNmdqGAxXm4TgGHX3pDPgQFnoECCcQAQ&usg=AOvVaw07d3NKR4QTDVKsl2MI8Dqb

 

 

spot_img
spot_img

Latest

spot_img