Banner iklan

Sholawat Burdah Bergema di Tengah Laut Jangkar, Ribuan Jamaah Satukan Doa dan Harapan untuk Situbondo

More articles

Situbondo, investigasi.news – Laut Jangkar, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, berubah menjadi lautan manusia dan lantunan sholawat. Ribuan masyarakat berkumpul di tengah laut untuk mengikuti pembacaan Sholawat Burdah, Rabu (2/9/2026).

Kegiatan religius tersebut menghadirkan pemandangan yang tidak biasa. Di atas perahu-perahu yang berada di tengah perairan Jangkar, ribuan jamaah bersama-sama melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Lantunan Sholawat Burdah menggema di tengah laut, berpadu dengan hembusan angin dan deburan ombak yang mengiringi jalannya kegiatan.

Acara tersebut dihadiri langsung Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo atau yang akrab disapa Mas Rio, bersama Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah.

Turut hadir Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, KH. Mohammad Azaim Ibrahimy, serta jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Situbondo.

Ribuan masyarakat dari berbagai wilayah tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Sejak awal, para jamaah telah memenuhi perahu-perahu yang bergerak menuju titik pelaksanaan pembacaan Sholawat Burdah.

Suasana khidmat langsung terasa ketika pembacaan sholawat dimulai. Jamaah mengikuti setiap lantunan dengan penuh penghayatan.

Kegiatan di tengah laut itu bukan sekadar menjadi acara keagamaan, melainkan juga memperlihatkan kuatnya ikatan antara kehidupan masyarakat pesisir dengan tradisi religius.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, KH. Mohammad Azaim Ibrahimy, mengatakan kegiatan pembacaan Sholawat Burdah di tengah laut Jangkar merupakan pelaksanaan yang kedua.

Ia mengaku bersyukur karena kegiatan tersebut kembali mendapat sambutan besar dari masyarakat.

Menurut KH. Azaim, tingginya antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa kegiatan keagamaan masih memiliki tempat yang kuat di tengah kehidupan masyarakat Situbondo.

“Kegiatan ini merupakan yang kedua kalinya. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan nantinya menjadi sebuah tradisi,” ujar KH. Mohammad Azaim Ibrahimy.

Ia berharap tradisi pembacaan Sholawat Burdah di tengah laut dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagi KH. Azaim, menjaga tradisi keagamaan bukan hanya soal mempertahankan sebuah kegiatan rutin, tetapi juga menjaga nilai spiritual, persaudaraan, dan kebersamaan masyarakat.

Ia menilai laut Jangkar memiliki makna tersendiri bagi pelaksanaan kegiatan tersebut. Laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi banyak masyarakat pesisir juga menjadi tempat untuk memanjatkan doa dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Sementara itu, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengapresiasi pelaksanaan pembacaan Sholawat Burdah di tengah laut yang kembali digelar dengan melibatkan ribuan masyarakat.

Mas Rio menilai kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan sebuah daerah tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, pembangunan juga harus berjalan seiring dengan penguatan nilai spiritual, budaya, dan kebersamaan masyarakat.

“Kegiatan ini adalah kekuatan besar bagi Situbondo. Kita tidak hanya berkumpul untuk membaca sholawat, tetapi juga menyatukan doa, memperkuat kebersamaan, dan menjaga nilai-nilai religius yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita,” ujar Mas Rio.

Bupati berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan berkembang menjadi salah satu tradisi khas Kabupaten Situbondo.

Menurut Mas Rio, kegiatan religius yang dipadukan dengan potensi bahari seperti di Jangkar memiliki nilai tersendiri dan dapat menjadi identitas positif bagi daerah.

Pemerintah Kabupaten Situbondo, kata dia, mendukung kegiatan-kegiatan masyarakat yang mampu memperkuat persatuan sekaligus menjaga nilai keagamaan.

Kehadiran ribuan masyarakat dalam kegiatan tersebut juga menjadi gambaran kuatnya semangat gotong royong dan kebersamaan yang masih terjaga di tengah masyarakat Situbondo.

Di tengah laut Jangkar, ribuan suara akhirnya menyatu dalam satu lantunan. Sholawat Burdah tidak hanya menggema di atas perairan, tetapi juga membawa pesan tentang doa, harapan, persatuan, dan keinginan untuk menjadikan Situbondo sebagai daerah yang tetap kuat memegang nilai religius.

Jika tradisi ini terus dijaga, pembacaan Sholawat Burdah di tengah laut Jangkar berpotensi menjadi salah satu agenda religius khas Situbondo yang tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga menjadi simbol kuatnya hubungan antara masyarakat, tradisi, dan laut yang menjadi bagian penting kehidupan warga pesisir. (Agus)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest