Banner iklan

STKIP Simbiosis Ende Cetak Guru Olahraga, Jawab Kekurangan Tenaga Pendidik di Daerah

More articles

Ende, Investigasi.News — Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Simbiosis Ende kembali menegaskan komitmennya dalam menyiapkan tenaga pendidik yang dapat menjawab kebutuhan sekolah di daerah.

Komitmen tersebut disampaikan Ketua STKIP Simbiosis Ende, Edelbertus Witu, SS., M.Ed., di sela kegiatan Yudisium mahasiswa yang digelar di Ende, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Edelbertus, STKIP Simbiosis Ende hadir bukan sekadar sebagai institusi pendidikan tinggi, tetapi juga untuk memberikan akses pendidikan keguruan bagi masyarakat di Kabupaten Ende dan sejumlah kabupaten di sekitarnya.

STKIP Simbiosis Ende sendiri telah berdiri sejak 2014. Salah satu program studi yang menjadi fokus utama adalah Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR).

Program studi tersebut diarahkan untuk membentuk calon guru olahraga yang memiliki kompetensi untuk mengajar pada berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA).

Edelbertus mengatakan, keberadaan program studi PJKR memiliki relevansi dengan kebutuhan pendidikan di daerah.

Pasalnya, masih terdapat sekolah yang membutuhkan tenaga guru olahraga dengan latar belakang pendidikan yang linier dan kompetensi sesuai bidang yang diajarkan.

Karena itu, STKIP Simbiosis Ende berupaya menjadi salah satu pilihan bagi lulusan SMA/SMK sederajat yang ingin melanjutkan pendidikan keguruan tanpa harus meninggalkan wilayah Nusa Tenggara Timur.

“Tidak harus pergi jauh ke Kupang atau ke Pulau Jawa. Anak-anak dari Ende dan kabupaten tetangga seperti Sikka, Nagekeo, Ngada maupun Manggarai dapat memperoleh pendidikan di sini,” demikian substansi penjelasan Edelbertus dalam wawancara.

Kehadiran kampus lokal, menurutnya, diharapkan dapat memperluas kesempatan masyarakat untuk mengakses pendidikan tinggi sekaligus menghasilkan sumber daya manusia yang nantinya kembali mengabdi di daerah.

Pada Sabtu (5/9/2026), STKIP Simbiosis Ende melaksanakan Yudisium gelombang keempat.

Sebanyak 11 mahasiswa Program Studi PJKR mengikuti prosesi tersebut. Para peserta berasal dari sejumlah daerah, termasuk Manggarai dan Adonara.

Menariknya, sebagian peserta yudisium disebut telah mulai mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik di daerah asal masing-masing.

Fakta tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa proses pendidikan di perguruan tinggi daerah tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik, tetapi dapat berlanjut pada pengabdian langsung di tengah masyarakat.

Edelbertus berharap para lulusan tidak hanya membawa ijazah ketika kembali ke daerah, tetapi juga membawa kompetensi, karakter, dan tanggung jawab sebagai tenaga pendidik.

Para lulusan diharapkan mampu menjadi guru olahraga profesional serta memegang teguh tiga spirit yang menjadi bagian dari misi kampus, yakni ilmiah, bijaksana, dan beriman.

Di tengah kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, STKIP Simbiosis Ende juga membuka kemungkinan pengembangan program studi baru.

Edelbertus menyampaikan bahwa pihak kampus terus melakukan kajian mengenai bidang pendidikan yang paling dibutuhkan masyarakat.

Namun, pengembangan tersebut tetap diarahkan agar tidak keluar dari karakter utama STKIP Simbiosis Ende sebagai lembaga pendidikan yang berfokus pada bidang keguruan.

Artinya, pembukaan program studi baru tidak semata-mata mengejar pertumbuhan institusi, tetapi harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan dunia pendidikan di daerah.

Selain Yudisium, STKIP Simbiosis Ende juga melaksanakan rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) periode 2026. Dari 20 mahasiswa yang terdaftar, sebanyak 17 peserta aktif mengikuti kegiatan hingga penutupan.

Momentum tersebut menjadi pintu awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal kehidupan akademik sekaligus membangun pola pikir dan kebiasaan yang diperlukan selama menjalani pendidikan tinggi.

Edelbertus menekankan pentingnya mahasiswa memiliki sistem yang jelas dalam menjalani proses perkuliahan.

Ia memperkenalkan konsep “7 Sistem” yang perlu diterapkan mahasiswa, yakni Sistem Tujuan, Sistem Kebiasaan, Sistem Waktu, Sistem Belajar, Sistem Keuangan, Sistem Lingkungan, dan Sistem Evaluasi Diri.

Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki tujuan yang jelas, membangun kebiasaan positif, mampu mengelola waktu, serta memiliki rasa ingin tahu yang kuat dalam proses belajar.

Di sisi lain, pengelolaan keuangan, lingkungan pergaulan yang mendukung, dan evaluasi terhadap perkembangan diri juga dinilai penting agar mahasiswa mampu menyelesaikan pendidikan dengan baik.

Persoalan ekonomi masyarakat pascabencana gempa bumi Flores juga menjadi perhatian STKIP Simbiosis Ende.

Dalam kondisi tersebut, pihak kampus memberikan kebijakan Beasiswa Simbiosis berupa potongan biaya kuliah sebesar 50 persen.

Kebijakan itu ditujukan sebagai bentuk keringanan bagi masyarakat yang menghadapi kendala ekonomi setelah bencana.

Selain beasiswa, kampus juga membuka kelas karyawan, sehingga masyarakat yang telah bekerja atau memiliki keterbatasan waktu tetap mempunyai kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

Kebijakan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa akses pendidikan tinggi tidak hanya berkaitan dengan tersedianya institusi pendidikan, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk membiayai dan menyesuaikan proses pendidikan dengan kondisi kehidupan mereka.

Di akhir wawancara, Edelbertus menyampaikan harapan agar para lulusan STKIP Simbiosis Ende tidak berhenti pada pencapaian akademik.

Mereka diharapkan kembali ke tengah masyarakat dan mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama menjalani pendidikan.

Khusus lulusan PJKR, mereka diharapkan mampu menjalankan profesinya sebagai guru olahraga secara profesional, sekaligus ikut membangun kualitas pendidikan dan kesehatan jasmani peserta didik di daerah.

Sementara kepada mahasiswa baru, Edelbertus berpesan agar masa perkuliahan tidak dijalani sekadar untuk mengejar gelar.

Mahasiswa harus memiliki tujuan, disiplin terhadap waktu, membangun kebiasaan belajar, menjaga lingkungan pergaulan, mengelola keuangan, serta secara berkala melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri.

Dengan demikian, keberadaan STKIP Simbiosis Ende diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan secara kuantitatif, tetapi juga melahirkan tenaga pendidik yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan kembali memberikan kontribusi nyata bagi daerah.

(Severinus T. Laga)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest