Banner iklan

Miris! Jalan ke Sekolah Tak Layak, Bocah TK di Pidie Jaya Harus Lewati Semak dan Kuburan

More articles

 

Pidie Jaya, Investigasi.News – Di tengah pembangunan yang terus berjalan, masih ada warga di Kabupaten Pidie Jaya yang harus berjuang hanya untuk mendapatkan akses keluar-masuk rumah.

Kondisi memprihatinkan itu dialami keluarga Syamsudin (71) di Desa Rheung Krueng, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Bukan hanya orang dewasa, keterbatasan akses jalan tersebut juga harus dirasakan anak-anak yang tinggal di rumah itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, Syamsudin bersama dua kepala keluarga (KK) lainnya terpaksa menggunakan jalur yang melintasi kuburan umum dan kebun milik tetangga, lantaran hingga kini tidak memiliki akses jalan yang layak menuju permukiman mereka.

Yang lebih memprihatinkan, seorang murid Taman Kanak-kanak (TK) yang tinggal di lokasi tersebut setiap hari harus melewati semak belukar, pagar, bahkan area kuburan hanya untuk berangkat ke sekolah.

Bagi anak-anak seusianya, perjalanan menuju sekolah seharusnya menjadi rutinitas sederhana. Namun bagi bocah tersebut, berangkat sekolah justru menjadi perjuangan yang harus dilalui setiap pagi.

Berdasarkan pantauan Kontributor Investigasi News, Senin (5/10/2026), murid TK tersebut harus menerobos semak belukar dalam kondisi jalan yang masih basah oleh embun pagi untuk mencapai lorong desa sebelum melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

Kondisi tersebut berlangsung setiap hari.

“Setiap Hari Seperti Ini”

Ibu bocah tersebut, Nadarita (36), mengaku sedih melihat kondisi yang harus dilalui anaknya setiap hendak berangkat sekolah.

“Setiap hari, Bang, seperti ini. Cuma ini jalan satu-satunya bagi kami. Mau tidak mau terpaksa kami lakukan. Apalagi kalau habis hujan, semaknya becek. Kalau jalan ini juga ditutupi pemilik kebun, maka kami harus lewat sungai di belakang rumah,” ujarnya dengan haru.

Kondisi tersebut menjadi persoalan serius, terlebih akses yang dilalui bukanlah jalan yang layak untuk anak-anak. Selain semak dan kondisi tanah yang becek ketika hujan, warga juga harus melewati kawasan pemakaman dan jalur di sekitar kebun warga.

Bagi keluarga Syamsudin, pilihan mereka sangat terbatas. Jalan tersebut menjadi satu-satunya akses yang dapat digunakan untuk mencapai lorong desa.

Harapan pada Pemerintah

Hingga berita ketiga ini ditayangkan, keluarga Syamsudin dan warga lainnya masih berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, baik Bupati maupun dinas terkait.

Mereka berharap pemerintah dapat turun langsung melihat kondisi di lapangan dan mencari solusi untuk membuka akses jalan yang layak, aman dan dapat digunakan warga, terutama bagi anak-anak yang setiap hari harus keluar masuk kawasan tersebut.

Persoalan akses jalan ini bukan sekadar tentang kenyamanan. Bagi warga, jalan merupakan kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan pendidikan, keselamatan, aktivitas ekonomi, serta kehidupan sehari-hari.

Ironisnya, seorang anak TK harus berangkat sekolah dengan menerobos semak dan embun pagi hanya karena tidak tersedia akses jalan yang layak menuju rumahnya.

Sampai kapan kondisi seperti ini harus mereka jalani?

(Herry)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest