Iklan muba

Atlet LEMKARI Tak Boleh Bertanding Dalam Kelas Open, Sensei Joni Akan Tempuh Jalur Hukum

More articles

Jember, Investigasi.News – Pelaksanaan Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) Karate Jember 2026 yang akan diadakan pada tanggal 7-8 Februari 2026 berlokasi di Aula SMPN 7 Jember menuai protes keras.

Protes keras dilayangkan oleh pengurus Cabang Lembaga Karate-Do Indonesia (Lemkari) Jember kepada panitia dan Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (Forki) Jember karena membatasi atlet Lemkari hanya bertanding di kelas Festival, serta melarang turun di kelas prestasi (Open Class).

Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Majelis Sabuk Hitam (MSH) Lemkari Jember, Sensei Joni Setiawan, mengatakan bahwa atletnya tidak bisa bertanding di kelas prestasi akan tetapi bisa bertanding di kelas Festival.

“Ini bentuk penjegalan prestasi. Atlet kami dilarang tampil di kelas Open tanpa dasar tertulis. Panitia hanya menyebut ada instruksi Forki Jatim, tetapi ketika diminta surat resminya, tidak bisa ditunjukkan,” ungkap Joni kepada sejumlah wartawan.

Ia menambahkan bahwa kebijakan Forki Jember ini bertentangan dengan aturan organisasi yang lebih tinggi.

” Merujuk Surat PB Forki Nomor 134 yang ditandatangani Ketua Umum PB Forki, Marsekal TNI (Purn) Hadi Tjahjanto menginstruksikan seluruh jajaran Forki daerah agar tidak mengorbankan kepentingan atlet akibat dinamika internal organisasi maupun perguruan.” Jelas Joni.

Surat PB Forki itu jelas melarang pembatasan atlet berprestasi. Forki Jember seharusnya menjadi pengayom pembinaan karate, bukan justru menghambat karier atlet.

Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) Lemkari Jember, Sensei Hengly Linelejan, menambahkan bahwa larangan tampil di kelas Open berdampak langsung pada aspek teknis dan psikologis atlet. Kelas Festival, kata dia, tidak memiliki bobot prestasi yang setara dengan kelas Open.

“Kelas Open menjadi jalur penting untuk poin prestasi, termasuk kebutuhan pendidikan dan jenjang atlet. Anak-anak sudah berlatih keras, tetapi hak mereka dibatasi. Ini memukul mental atlet dan menciptakan preseden buruk bagi pembinaan karate di Jember,” jelas Hengly.

Diakhir wawancaranya, Joni menegaskan kami menuntut keadilan. Jika hak atlet kami terus diabaikan, kami siap menempuh jalur hukum demi masa depan atlet dan marwah organisasi.

Js

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest