Iklan muba

Dharmasraya Darurat Maksiat, Rumah Makan Disulap Jadi Kafe Remang-Remang

More articles

Dharmasraya — Praktik hiburan malam berkedok kafe dan rumah makan di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, kini semakin menjadi-jadi dan memicu kemarahan masyarakat. Aktivitas yang diduga kuat menjadi sarang maksiat itu berlangsung nyaris tanpa hambatan, seolah kebal terhadap pengawasan dan penindakan hukum.

Di Jorong Sialang, Kenagarian Gunung Selasih, Kecamatan Pulau Punjung, sejumlah kafe remang-remang disebut aktif beroperasi hingga larut malam. Tempat-tempat tersebut diduga menjadi lokasi transaksi prostitusi terselubung, pesta minuman keras, hingga tempat berkumpulnya pria hidung belang dan wanita malam.

Warga menilai kondisi ini bukan lagi sekadar pelanggaran norma sosial, melainkan sudah menjadi ancaman nyata bagi moral masyarakat dan masa depan generasi muda. Ironisnya, aktivitas itu terus berkembang di tengah lemahnya pengawasan dari pihak terkait.

“Kalau malam suasananya sudah seperti lokalisasi kecil. Musik keras, wanita berpakaian minim keluar masuk, minuman keras bebas beredar. Masyarakat resah, tapi seperti tidak ada tindakan berarti,” ungkap salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Menurut informasi yang dihimpun, sebagian tempat hiburan tersebut diduga menyediakan minuman beralkohol berkadar tinggi. Kondisi itu disebut telah memicu berbagai persoalan sosial, mulai dari keributan, perkelahian, hingga dugaan tindakan asusila yang meresahkan masyarakat sekitar.

Lebih mengejutkan lagi, Sejumlah rumah makan bahkan sudah disulap menjadi cafe remang – remang / tempat hiburan malam. Ada pula rumah pribadi yang dijadikan tempat transaksi prostitusi secara terselubung.

Situasi ini membuat masyarakat geram. Mereka menilai pembiaran yang terjadi hanya akan membuat penyakit masyarakat semakin tumbuh subur di Dharmasraya.

“Kalau dibiarkan terus, lama-lama daerah ini rusak. Anak-anak muda bisa ikut terpengaruh. Jangan sampai Dharmasraya dikenal sebagai daerah bebas maksiat,” ujar warga lainnya.

Tak hanya itu, sejumlah penginapan di wilayah Dharmasraya juga disebut-sebut  menyediakan wanita penghibur bagi tamu tertentu. Dugaan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran masyarakat bahwa praktik prostitusi terselubung telah berkembang secara sistematis dan terang-terangan.

Masyarakat kini mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum dalam menangani persoalan tersebut. Sebab hingga kini, aktivitas hiburan malam yang diduga melanggar norma agama dan sosial itu masih terus berjalan tanpa penindakan tegas.

Warga mendesak Satpol PP, aparat kepolisian, serta pemerintah daerah segera melakukan razia besar-besaran dan menutup tempat-tempat yang diduga menjadi sarang maksiat. Mereka berharap pemerintah tidak hanya diam dan menunggu keresahan masyarakat semakin memuncak.

“Jangan sampai masyarakat kehilangan kepercayaan karena hukum dianggap tajam ke bawah tetapi tumpul terhadap praktik maksiat yang jelas-jelas meresahkan,” tegas seorang tokoh masyarakat setempat.

Ardi Piliang

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest