Iklan muba

Pesona Wisata dan Budaya Dongkrak Ekonomi Banyuwangi, Pertumbuhan Lampaui Nasional

More articles

BANYUWANGI — Di ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi terus menegaskan dirinya bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga daerah yang berhasil menjadikan budaya, alam, dan kreativitas masyarakat sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

Di tengah hamparan sawah hijau, pesona Gunung Ijen, gemuruh ombak pantai selatan, hingga denyut budaya Osing yang terus hidup di desa-desa wisata, perekonomian Banyuwangi pada tahun 2025 tercatat tumbuh impresif sebesar 5,65 persen. Angka itu bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi Jawa Timur maupun nasional.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi menunjukkan, pertumbuhan tersebut tidak lepas dari berkembangnya sektor pariwisata, ekonomi kreatif, transportasi, hingga pertanian yang saling terhubung dalam ekosistem pembangunan berbasis budaya dan masyarakat lokal.

“Pada 2025 perekonomian Banyuwangi tumbuh dengan baik yang ditopang oleh pertumbuhan semua sektor usaha,” ujar Kepala BPS Banyuwangi Abdus Salam, Rabu (8/4/2026).

Menurut Abdus, sektor jasa terutama pariwisata menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan laju mencapai 8,64 persen. Lonjakan tersebut sejalan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara yang datang menikmati keindahan alam dan kekayaan budaya Banyuwangi.

Banyuwangi memang menjelma menjadi magnet wisata baru Indonesia. Kawasan ini tidak hanya menawarkan panorama eksotis Kawah Ijen dengan fenomena api biru mendunia, tetapi juga pantai-pantai indah seperti Pulau Merah, Boom Marina, hingga suasana mistis dan alami Taman Nasional Alas Purwo.

Di balik keindahan alamnya, Banyuwangi juga dikenal kuat menjaga akar budayanya. Tradisi masyarakat Osing, Tari Gandrung, musik patrol, ritual adat, hingga festival budaya yang digelar sepanjang tahun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Pertumbuhan sektor pariwisata itu turut menggerakkan sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh hingga 8,4 persen. Mobilitas wisatawan melalui jalur kereta api, bandara, hingga transportasi darat meningkat signifikan seiring semakin terbukanya akses menuju Banyuwangi.

“Sektor pariwisata mengalami pertumbuhan paling tinggi karena kunjungan wisatawan meningkat hingga 8,26 persen dibanding tahun sebelumnya,” terang Abdus.

Menariknya, geliat ekonomi Banyuwangi tidak hanya bertumpu pada wisata modern, tetapi juga tetap berpijak pada kekuatan pertanian sebagai identitas daerah. Secara struktural, sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar ekonomi Banyuwangi dengan pertumbuhan mencapai 4,36 persen.

Hamparan sawah produktif, perkebunan rakyat, hingga berkembangnya agrowisata menjadi bagian penting dalam wajah Banyuwangi hari ini. Produksi gabah kering giling bahkan meningkat hingga 15,83 persen dibanding tahun sebelumnya.

Banyuwangi kini berhasil memadukan pertanian, budaya, dan pariwisata dalam satu ekosistem ekonomi yang saling menghidupkan. Desa-desa wisata tumbuh dengan mengandalkan potensi lokal, mulai dari kuliner tradisional, kerajinan rakyat, hingga pertunjukan budaya yang melibatkan generasi muda.

Ketua HIPMI Banyuwangi Ferdy Elfian menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari arah kebijakan pemerintah daerah yang menjadikan pariwisata berbasis komunitas sebagai penggerak utama ekonomi.

“Kebijakan Bupati Ipuk menjadikan pariwisata sebagai payung besar ekonomi daerah sangat tepat. Wisata Banyuwangi tumbuh karena masyarakat dilibatkan langsung,” kata Ferdy.

Menurutnya, dampak pertumbuhan wisata terasa hingga pelosok desa. Banyak anak muda Banyuwangi kini mulai bergerak di sektor ekonomi kreatif, homestay, kuliner, seni pertunjukan, hingga pengelolaan destinasi wisata berbasis budaya lokal.

Tak hanya itu, program pertanian seperti Jagoan Tani juga mulai menarik minat generasi muda untuk kembali mencintai dunia pertanian modern dan turunannya.

“Saat ini banyak anak muda Banyuwangi tertarik masuk ke sektor pertanian dan usaha kreatif berbasis desa,” tambah Ferdy.

Di tengah arus modernisasi, Banyuwangi menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak harus meninggalkan budaya dan tradisi. Justru dari akar budaya, keramahan masyarakat, dan kekayaan alamnya, Banyuwangi tumbuh menjadi salah satu daerah dengan wajah pariwisata dan ekonomi paling hidup di Indonesia.

Adv/guh

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest