Banner iklan

Mahasiswa Tewas Saat Diklat di Baluran, Evakuasi 40 Kilometer Pakai Motor Picu Sorotan

More articles

Situbondo, Investigasi.News – Meninggalnya Alinakil Fuad, mahasiswa Universitas Bakti PGRI Situbondo saat mengikuti Pendidikan dan Latihan (Diklat) Mahasiswa Pecinta Alam (MahasMapala) di kawasan hutan Baluran, Kecamatan Banyuputih, menyisakan sejumlah persoalan yang membutuhkan penjelasan terbuka dari pihak terkait.

Peristiwa tersebut menjadi sorotan setelah muncul informasi mengenai kondisi kesehatan korban sebelum meninggal dunia. Salah satu hal yang paling menyita perhatian adalah proses evakuasi yang disebut menggunakan sepeda motor dengan jarak tempuh sekitar 40 kilometer menuju fasilitas kesehatan.

Ketua DPC LSM Penjara Indonesia, Mukhsin Al Fajar, mendatangi kediaman Suri, ayah korban, di Kecamatan Mangaran. Kedatangan tersebut bertujuan menggali informasi sekaligus mendapatkan keterangan keluarga mengenai kronologi kejadian yang merenggut nyawa mahasiswa tersebut.

Berdasarkan keterangan keluarga, Suri menyampaikan bahwa anaknya mengalami panas dan kram sebelum akhirnya meninggal dunia. Sementara itu, Masruroh menyebut jenazah Ali diantarkan ke rumah oleh tiga orang yang disebut berasal dari pihak panitia kegiatan.

Informasi yang dihimpun dari Masruroh menyebutkan bahwa sebelum dievakuasi, Ali sempat mengeluhkan tubuhnya terasa dingin dan mengalami kelelahan. Dalam kondisi tersebut, korban disebut meminta waktu untuk beristirahat karena tidak sanggup melanjutkan aktivitas.

Setelah beristirahat, kondisi Ali dikabarkan sempat membaik. Korban kemudian kembali melanjutkan perjalanan bersama peserta lainnya. Namun, dalam perjalanan berikutnya, keluhan kelelahan kembali muncul hingga Ali disebut tidak mampu melanjutkan aktivitas.

Panitia kemudian membawa korban menuju tenda atau posko yang berada di tengah kawasan hutan. Sementara itu, peserta lainnya disebut tetap melanjutkan kegiatan. Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai langkah penanganan awal dan pertimbangan panitia ketika mengetahui kondisi kesehatan korban terus menurun.

Publik kini mempertanyakan apakah kondisi Ali telah mendapatkan pemeriksaan medis sebelum kegiatan dilanjutkan. Sebab, keluhan fisik seperti tubuh terasa dingin, kram, panas, dan kelelahan seharusnya menjadi perhatian serius dalam kegiatan pendidikan alam bebas.

Sorotan semakin menguat ketika muncul informasi bahwa proses evakuasi korban dilakukan menggunakan sepeda motor. Berdasarkan keterangan yang disampaikan pihak panitia kepada narasumber, perjalanan menuju fasilitas kesehatan disebut mencapai sekitar 40 kilometer dengan waktu tempuh lebih dari satu jam.

Informasi tersebut tentu membutuhkan penjelasan resmi. Publik ingin mengetahui bagaimana kondisi korban ketika dibawa, pertolongan pertama apa yang telah diberikan, serta alasan penggunaan sepeda motor sebagai sarana transportasi dalam situasi darurat.

Pertanyaan lainnya adalah siapa yang mengambil keputusan terkait metode evakuasi tersebut. Apakah tersedia kendaraan lain, tim medis, atau fasilitas transportasi darurat yang dapat digunakan untuk mempercepat penanganan korban?

Menurut keterangan narasumber, kabar meninggalnya Ali diterima sekitar pukul 23.00 WIB. Informasi tersebut bermula dari komunikasi pihak Puskesmas dengan suami seorang dosen mengenai seorang mahasiswa yang meninggal dunia.

Setelah informasi tersebut diterima, dilakukan penelusuran untuk memastikan identitas korban melalui program studi dan pihak kampus. Hingga akhirnya diketahui bahwa mahasiswa yang meninggal dunia tersebut adalah Alinakil Fuad.

Meski demikian, pukul 23.00 WIB merupakan waktu diterimanya informasi menurut narasumber, bukan otomatis waktu resmi korban dinyatakan meninggal dunia. Kepastian mengenai waktu kedatangan korban, tindakan medis, dan hasil pemeriksaan kesehatan masih perlu dijelaskan oleh pihak fasilitas kesehatan.

Upaya konfirmasi juga telah dilakukan kepada Rektor Universitas Bakti PGRI Situbondo. Sejumlah pertanyaan disampaikan, mulai dari izin pelaksanaan Diklat, penanggung jawab kegiatan, pengawasan kampus, hingga kesiapan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan dan fasilitas pertolongan pertama.

Menanggapi pertanyaan tersebut, rektor memberikan jawaban singkat. “Insyaallah Senin kami infokan kembali,” demikian jawabannya. Pihak kampus diharapkan memberikan penjelasan menyeluruh agar berbagai pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat tidak menjadi spekulasi berkepanjangan.

Konfirmasi juga disampaikan kepada pembina MahasMapala melalui WhatsApp. Pertanyaan mencakup persetujuan kegiatan, sistem pengawasan, kesiapan petugas pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), perlengkapan medis, hingga prosedur evakuasi ketika peserta mengalami kondisi darurat. Namun, hingga berita ini disusun, belum diperoleh tanggapan dari pembina MahasMapala. Redaksi tetap membuka ruang klarifikasi dan hak jawab.

Konfirmasi turut dilakukan kepada Kapolsek Mangaran. Saat dimintai keterangan, Kapolsek mengaku belum mengetahui adanya warga Mangaran yang meninggal dunia ketika mengikuti Diklat MahasMapala di kawasan Baluran. Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai kemungkinan langkah penanganan atau pendalaman peristiwa tersebut.

Dari rangkaian informasi yang dihimpun, setidaknya terdapat tujuh pertanyaan penting yang membutuhkan jawaban: apakah kegiatan telah mendapatkan izin resmi universitas, siapa penanggung jawab utama, apakah peserta menjalani pemeriksaan kesehatan, apakah tersedia petugas P3K dan perlengkapan medis, mengapa korban kembali melanjutkan perjalanan setelah mengeluhkan sakit, mengapa evakuasi menggunakan sepeda motor, serta bagaimana kronologi medis hingga korban dinyatakan meninggal dunia.

Pertanyaan tersebut bukan untuk menghakimi atau menyudutkan pihak tertentu. Namun, kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi serius. Kegiatan alam bebas memang memiliki risiko, tetapi penyelenggara wajib mempersiapkan langkah pencegahan, pengawasan kesehatan, pertolongan pertama, serta sistem evakuasi yang memadai. SOP keselamatan tidak boleh hanya menjadi kelengkapan administrasi, melainkan harus benar-benar diterapkan di lapangan.

Kini keluarga harus menerima kenyataan pahit kehilangan seorang anak. Publik menunggu penjelasan terbuka dari panitia MahasMapala, pembina, Universitas Bakti PGRI Situbondo, serta pihak terkait.

Penyebab kematian dan ada tidaknya unsur kelalaian harus dipastikan melalui pemeriksaan pihak berwenang, bukan berdasarkan dugaan. Jangan sampai meninggalnya Alinakil Fuad hanya berakhir sebagai kabar duka tanpa evaluasi menyeluruh. Keselamatan mahasiswa harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar tanggung jawab yang tertulis dalam aturan.

(Agus)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest