Malut, Investigasi.News-, H-2 menjelang Kongres ke-4 Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS) yang akan digelar pada 11-12 Januari 2026 di Kota Ternate, ruang publik dipenuhi berbagai pemberitaan. Media online menyoroti munculnya sejumlah kandidat, disertai beragam pandangan—baik yang obyektif maupun subyektif—tentang peluang, peta dukungan, hingga dinamika internal organisasi. Kongres tampak semakin ramai, tetapi keramaian itu menyisakan satu pertanyaan mendasar yang justru jarang diajukan secara jujur: untuk apa sebenarnya kehadiran kita di arena kongres HPMS?
Pertanyaan ini bukan pertanyaan teknis, melainkan pertanyaan makna. Ia penting diajukan agar kongres tidak tereduksi menjadi sekadar agenda rutin lima tahunan, atau lebih buruk lagi, menjadi panggung pragmatisme yang menukar nilai dengan kepentingan jangka pendek.
Secara normatif, kongres adalah forum tertinggi organisasi. Namun secara substantif, kongres seharusnya menjadi ruang kesadaran kolektif—tempat organisasi berhenti sejenak untuk merefleksikan diri, mengevaluasi perjalanan, dan merumuskan arah masa depan. Tanpa kesadaran ini, kongres hanya akan sah secara prosedural, tetapi miskin secara etik dan intelektual.
Ferdinand Tönnies, melalui konsep Gemeinschaft dan Gesellschaft, memberi lensa yang relevan untuk membaca HPMS. Sebagai organisasi pelajar dan mahasiswa kedaerahan, HPMS secara sosiologis berakar pada Gemeinschaft: ikatan kekeluargaan, solidaritas emosional, dan rasa memiliki yang kuat. Namun ketika kongres dijalankan dengan logika transaksional—siapa mendukung siapa, apa imbalannya apa—maka organisasi perlahan tergeser ke pola Gesellschaft yang dingin, instrumental, dan pragmatis. Ironisnya, pragmatisme ini sering dibungkus dengan bahasa persaudaraan.
Di titik inilah kritik simbolik perlu diajukan. Ketika kongres diperlakukan semata sebagai arena menang-kalah, maka kehadiran peserta kehilangan makna etiknya. Peserta tidak lagi hadir sebagai subjek organisasi, melainkan sebagai alat legitimasi. Kongres pun berisiko melahirkan kepemimpinan yang sah secara struktur, tetapi rapuh secara moral.
Kuntowijoyo mengingatkan bahwa aktivisme tanpa kesadaran hanya akan melahirkan gerak tanpa arah. Organisasi yang sibuk bergerak, tetapi tidak pernah bertanya untuk apa ia bergerak, sesungguhnya sedang mengalami krisis makna. Dalam konteks HPMS, kongres yang dipenuhi slogan perubahan namun miskin refleksi kritis justru menandakan kegagalan kita membaca realitas organisasi secara jujur.
Kehadiran kita di arena kongres, pertama-tama, harus dimaknai sebagai tanggung jawab moral. Setiap peserta memikul kewajiban untuk menjaga agar proses kongres tetap berada dalam koridor nilai kekeluargaan, etika, dan intelektualitas. Tanpa itu, kongres hanya akan menjadi prosedur administratif yang tidak meninggalkan jejak kesadaran.
Kedua, kehadiran kita adalah untuk menegaskan kembali cita-cita HPMS. Organisasi ini tidak lahir hanya untuk mengelola struktur atau memproduksi kepemimpinan, melainkan untuk membentuk pelajar dan mahasiswa Sula yang kritis, berdaya, dan berpihak pada realitas sosial daerahnya. Setiap keputusan kongres—siapa pun yang terpilih—harus diuji dengan pertanyaan sederhana: apakah ini mendekatkan HPMS pada cita-citanya atau justru menjauhkannya?
Nurcholish Madjid (Cak Nur) menekankan pentingnya demokrasi substansial, bukan sekadar demokrasi prosedural. Musyawarah bukan hanya soal voting atau forum resmi, tetapi tentang keterbukaan, kejujuran, dan kesediaan mendahulukan kepentingan bersama. Dalam perspektif ini, kongres HPMS akan kehilangan ruhnya jika hanya sibuk mengatur skema kekuasaan tanpa membangun kesepahaman nilai.
Sebagai tawaran solusi konkret, kongres HPMS ke-4 perlu dimaknai dalam tiga orientasi. Pertama, orientasi reflektif, dengan menyediakan ruang evaluasi yang jujur atas perjalanan organisasi—termasuk keberanian mengakui kegagalan tanpa saling menyalahkan. Kedua, orientasi etis, dengan memastikan seluruh proses kongres berlangsung adil, terbuka, dan menjunjung tinggi martabat kekeluargaan. Ketiga, orientasi transformatif, yakni menjadikan hasil kongres sebagai komitmen bersama untuk bekerja, bukan sekadar dokumen keputusan.
Pada akhirnya, kehadiran kita di arena kongres HPMS bukan untuk sekadar hadir secara fisik, apalagi menjadi bagian dari pragmatisme sesaat. Kita hadir untuk memaknai kembali keberadaan HPMS dalam kehidupan pelajar, mahasiswa dan orang Sula. Kongres akan berakhir dalam waktu dua hari, tetapi kesadaran yang lahir darinya akan menentukan wajah HPMS di masa depan. Di sanalah makna sejati kehadiran kita dipertaruhkan.
Oleh: Mohtar Umasugi








