Manokwari, Investigasi.News – Aroma praktik tambang emas ilegal di Distrik Wasirawi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, kian menyengat. Di tengah upaya sejumlah wartawan membongkar aktivitas pertambangan tanpa izin yang diduga berlangsung di kawasan tersebut, muncul dugaan adanya upaya membungkam kerja jurnalistik melalui pendekatan yang dinilai mengarah pada intimidasi dan percobaan suap.
Peristiwa ini memantik perhatian publik karena terjadi saat awak media tengah melakukan investigasi terhadap dugaan aktivitas tambang emas ilegal yang disebut-sebut melibatkan sejumlah pihak berkepentingan. Alih-alih memperoleh klarifikasi terbuka, wartawan justru mengaku menghadapi berbagai tekanan yang dinilai berpotensi mengganggu independensi peliputan.
Penelusuran bermula ketika awak media menemukan sebuah alat berat jenis ekskavator yang tengah melakukan aktivitas pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis solar ke sejumlah jeriken di lokasi yang diduga berkaitan dengan aktivitas tambang emas ilegal.
Saat dimintai keterangan, sejumlah pekerja di lokasi menyebut nama seorang pria berinisial I sebagai pemilik alat berat dan BBM tersebut. Para pekerja mengaku hanya menjalankan pekerjaan di lapangan dan tidak memiliki kewenangan memberikan penjelasan lebih jauh mengenai aktivitas yang berlangsung.
Berbekal informasi itu, wartawan kemudian berupaya melakukan konfirmasi langsung ke kediaman pria berinisial I di wilayah SP 7, Distrik Masni. Namun yang bersangkutan tidak berada di lokasi. Upaya konfirmasi kemudian dilanjutkan melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp guna memberikan ruang hak jawab.
Dalam komunikasi tersebut, pria berinisial I mengaku belum dapat menemui wartawan karena sedang mengurus anggota keluarganya yang sakit. Ia kemudian menyampaikan akan mengutus seseorang untuk menemui awak media. I
Tak lama berselang, seorang pria berinisial RK menghubungi wartawan. Pria tersebut mengaku sebagai wartawan salah satu media yang berkantor di Sorong dan menyatakan datang mewakili pria berinisial I untuk menemui awak media yang sedang melakukan konfirmasi.
Kehadiran pria tersebut justru menimbulkan tanda tanya besar. Sebab, menurut sejumlah wartawan yang berada di lokasi, yang bersangkutan datang bukan dalam kapasitas melakukan peliputan jurnalistik, melainkan bertindak sebagai perantara dari pihak yang sedang menjadi objek konfirmasi dalam investigasi tambang ilegal tersebut.
Menurut keterangan sejumlah wartawan, pria berinisial RK diduga datang dalam kondisi tidak stabil sambil membawa minuman keras. Ia disebut berulang kali mengajak bahkan memaksa wartawan untuk mengonsumsi minuman yang dibawanya.
Situasi kemudian berubah semakin tidak nyaman ketika pria tersebut masuk ke kamar tempat sejumlah wartawan menginap. Kehadirannya dinilai mengganggu aktivitas peliputan dan waktu istirahat awak media yang sedang melakukan investigasi di lapangan.
Lebih jauh lagi, pria tersebut disebut beberapa kali menyebut nama pria berinisial I serta mengaku memiliki hubungan dekat dengan sejumlah pihak yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan emas di Wasirawi. Ia bahkan sempat memperlihatkan telepon genggamnya dan mengklaim memiliki kontak sejumlah bos tambang yang beroperasi di wilayah tersebut.
Namun yang paling menyita perhatian adalah dugaan adanya pemberian amplop berisi uang kepada wartawan.
Berdasarkan keterangan sejumlah awak media, pria berinisial RK sempat menunjukkan sebuah amplop dan menyebut uang di dalamnya sebagai “uang rokok” atau “titipan dari bos”. Pernyataan itu sontak memicu kecurigaan karena disampaikan di tengah berlangsungnya proses konfirmasi dan investigasi terhadap dugaan aktivitas tambang emas ilegal.
Tawaran tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh wartawan. Amplop berisi uang itu dikembalikan saat itu juga sebagai bentuk komitmen menjaga independensi dan integritas profesi jurnalistik.
Peristiwa tersebut kemudian memunculkan dugaan adanya upaya untuk mempengaruhi arah pemberitaan maupun melemahkan proses investigasi yang sedang dilakukan media terkait dugaan tambang emas ilegal di Distrik Wasirawi.
Ketegangan sempat terjadi akibat perbedaan persepsi mengenai maksud kedatangan pria tersebut. Karena situasi dinilai semakin tidak kondusif, awak media akhirnya meminta yang bersangkutan meninggalkan lokasi penginapan.
Untuk diketahui, pengusaha tambang emas ilegal Berinisial I diduga adalah oknum anggota Brimob Polda Papua barat, namun terkait dugaan anggota brimob, I belum memberikan keterangan, walaupun sudah di hubungi berulang kali.
Menanggapi kejadian tersebut, Ketua LSM Wadah Generasi Anak Bangsa (WGAB), Yerri Basri Mak, meminta pimpinan Brimob Polda Papua Barat, segera melakukan penelusuran internal apabila terdapat anggota yang namanya disebut atau diduga memiliki keterkaitan dengan peristiwa tersebut.
Menurut Yerri, apabila benar terdapat oknum aparat yang terlibat dalam upaya mempengaruhi kerja jurnalistik, maka tindakan tersebut tidak hanya mencederai kebebasan pers, tetapi juga berpotensi merusak citra institusi yang selama ini dipercaya masyarakat.
“Kami meminta dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Jika ada anggota yang terbukti terlibat dalam tindakan yang bertentangan dengan aturan maupun kode etik, maka harus ditindak tegas sesuai ketentuan yang berlaku,” tegas Yerri.
Ia menambahkan, dugaan intervensi terhadap wartawan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Sebab, pers memiliki fungsi kontrol sosial yang dilindungi undang-undang dan berperan penting dalam mengungkap berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan publik.
Selain itu, Yerri juga mendesak aparat penegak hukum untuk tidak berhenti pada pekerja lapangan semata. Ia meminta penyidik berani menelusuri siapa saja pihak yang diduga berada di balik operasi tambang emas ilegal yang disebut-sebut telah berlangsung di kawasan Wasirawi.
“Jangan hanya menyentuh pekerja di lapangan. Publik ingin melihat keberanian aparat membongkar aktor-aktor besar yang diduga menikmati keuntungan dari aktivitas tambang ilegal tersebut. Penegakan hukum harus transparan dan tidak boleh tebang pilih,” tegasnya.
Namun hingga berita ini diterbitkan, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan lanjutan. Nomor kontak yang sebelumnya digunakan untuk berkomunikasi disebut tidak lagi dapat dihubungi sehingga klarifikasi lebih lanjut belum diperoleh.
Jhonsa







