Banner

UNEJ Hadirkan Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP, Dobrak Cara Lama Belajar Ideologi Bangsa

More articles

Jember, Investigasi.News- Guna mendobrak pola lama pembelajaran ideologi yang kerap terjebak dalam hafalan, Universitas Jember (UNEJ) menghadirkan Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Dr. Johanes Haryatmoko, SJ. Dalam Kuliah Kebangsaan bertema “Metode Pembelajaran Pancasila yang Reflektif, Kritis, dan Kreatif” di Gedung Soedjarwo UNEJ, Rabu (10/06/2026), pakar filsafat sosial ini menawarkan gebrakan lima metode baru untuk menepis kekhawatiran masyarakat akan kembalinya pola indoktrinasi satu arah yang membosankan layaknya era Orde Baru.

Rektor UNEJ, Dr. Ir. Iwan Taruna, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., dalam sambutannya menyambut baik arah baru pembelajaran ini. Ia menegaskan komitmen institusi untuk menjadikan kampus bukan sekadar tempat mengajarkan Pancasila, tetapi ruang di mana nilai-nilai tersebut dipraktikkan langsung dalam tata kelola, budaya akademik, dan kehidupan mahasiswa sehari-hari.

“Kami ingin ini menjadi satu bahan refleksi kita bersama, untuk menilai kembali sejauh mana nilai-nilai Pancasila selama ini hidup dalam pikiran, sikap, dan tindakan kita sehari-hari. Sebagai institusi pendidikan, posisi kita sangat strategis untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya berkualitas akademik, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, kemampuan berpikir kritis, serta komitmen kuat terhadap persatuan bangsa. Keunggulan universitas tidak lagi hanya dilihat dari capaian angka akademik, melainkan dari kualitas dan karakter lulusannya,” ujar Rektor UNEJ usai membuka acara secara resmi.

Iwan Taruna juga menambahkan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi. “Apalagi saat ini dengan keberadaan Artificial Intelligence (AI), informasi beredar tanpa batas, dan ilmu pengetahuan bisa didapat dari manapun serta dalam bentuk apapun. Konsekuensinya, kita dihadapkan pada tantangan nyata seperti polarisasi sosial, disinformasi, ujian toleransi, krisis etika, hingga menurunnya kemampuan refleksi diri karena derasnya arus informasi. Di sinilah nilai Pancasila harus hadir sebagai jangkar moral,” imbuhnya.

Saat memaparkan materinya, Dr. Johanes Haryatmoko, SJ, langsung melayangkan kritik tajam terhadap potret pendidikan ideologi saat ini. Ia menilai selama ini Pancasila kerap diajarkan sekadar sebagai dogma final, bukan sebagai mode of inquiry — sebuah alat untuk berpikir, menggugat, dan menemukan jawaban atas berbagai masalah nyata di masyarakat.

“Ketika saya awal masuk ke BPIP, banyak kritik masuk yang mengatakan apakah Pancasila akan diajarkan seperti saat zaman Orde Baru yang penuh indoktrinasi hingga terkesan membosankan? Karena itu, saya mengusulkan lima metode pembelajaran baru,” urai Haryatmoko.

Guna mendobrak kejenuhan tersebut, Haryatmoko mengusulkan format kelas yang dinamis, di mana dosen tidak lagi mendominasi waktu perkuliahan selama 1,5 jam penuh. Menurutnya, dosen cukup memanfaatkan 20 menit awal untuk memberikan introduksi materi, sementara sisa waktu kuliah sepenuhnya dialihkan kepada mahasiswa melalui aktivitas belajar yang partisipatif, kreatif, dan berbasis pemecahan masalah (problem solving). Langkah taktis ini diintegrasikan sebagai bagian penting dari rangkaian Semarak Bulan Pancasila Universitas Jember 2026.

Lebih lanjut, ia memperkenalkan kelima model pembelajaran Pancasila berbasis pemecahan masalah tersebut. Model ini meliputi logika abduksi untuk membangun hipotesis dari fakta yang tidak lengkap, design thinking yang dimulai dari empati terhadap korban perundungan digital, berpikir komputasional untuk merancang tata kelola forum diskusi yang bijak, lima langkah pemecahan masalah ilmiah untuk mengurai polarisasi identitas, hingga analisis wacana kritis yang mengajarkan mahasiswa membaca ketidakadilan tersembunyi di balik narasi pembangunan. Kelimanya bertolak dari satu keyakinan yang sama: Pancasila bukan teks untuk dihafal, melainkan alat berpikir untuk menghadapi masalah nyata.

“Nilai Pancasila tidak pernah cukup hanya dideklarasikan. Ia harus dihidupi, diuji dalam realitas, dan dijadikan kerangka berpikir ketika kita berhadapan dengan ketimpangan, intoleransi, dan dehumanisasi,” tegas Haryatmoko di hadapan peserta yang memenuhi Gedung Soedjarwo.

Ia juga menekankan bahwa internalisasi Pancasila harus mampu menembus tiga lapisan utama: mulai dari artefak (simbol dan upacara yang tampak), beralih ke nilai-nilai yang diyakini (prinsip yang menjadi pedoman tindakan), hingga bermuara ke asumsi dasar — sebuah level terdalam di mana Pancasila benar-benar telah menjadi cara berpikir spontan atau habitus yang tak lagi perlu dipertanyakan.

“Tantangan kita adalah membawa Pancasila dari sekadar poster di dinding, menjadi refleks moral dalam keseharian,” pungkasnya.

Kuliah kebangsaan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, dekan, dosen pengampu mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan, hingga mahasiswa dari seluruh fakultas di lingkungan Universitas Jember — menjadikannya salah satu forum lintas elemen kampus terbesar dalam rangkaian Semarak Bulan Pancasila UNEJ 2026.

Josua

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest