Maluku Utara, Investigasi.News – Kunjungan dinas Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) ke Jakarta menuai sorotan tajam dari kalangan mahasiswa. Di tengah agenda pemerintahan di ibu kota, ketidakhadiran jajaran Pemkab Haltim di Asrama Mahasiswa Haltim-Jakarta dipertanyakan. Persoalan ini bukan sekadar urusan silaturahmi, melainkan menyangkut kepedulian, komunikasi, dan komitmen pemerintah daerah terhadap mahasiswa yang tengah berjuang menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman.
Sorotan tersebut disampaikan Himpunan Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur Jakarta (HIPMI Haltim-Jakarta) melalui Kepala Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah (PPD), Fachrullah Jasadi. Ia mempertanyakan mengapa kunjungan dinas Pemkab Haltim ke Jakarta tidak dimanfaatkan untuk menyambangi mahasiswa di asrama mereka.
Menurut Fachrullah, tidak adanya inisiatif untuk menjalin komunikasi dengan mahasiswa menimbulkan kesan bahwa keberadaan generasi muda yang sedang mengenyam pendidikan di perantauan belum mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Padahal, mahasiswa merupakan aset intelektual yang diharapkan mampu mengambil bagian dalam pembangunan Halmahera Timur pada masa mendatang.
“Hal ini mencerminkan adanya kesenjangan komunikasi dan kepedulian antara pemangku kebijakan daerah dengan aset intelektualnya,” ujarnya.
Fachrullah menilai, asrama mahasiswa bukan sekadar bangunan tempat tinggal. Di perantauan, asrama menjadi ruang kebersamaan, tempat mahasiswa menjaga identitas daerah, membangun solidaritas, dan mempersiapkan diri untuk masa depan Haltim.
Karena itu, kehadiran kepala daerah maupun jajaran pemerintah di tengah mahasiswa memiliki arti penting. Kunjungan tersebut bukan hanya bentuk silaturahmi, tetapi juga kesempatan untuk mendengar langsung persoalan mahasiswa, menyerap aspirasi, dan memperlihatkan bahwa pemerintah tidak melupakan generasi muda yang sedang berjuang jauh dari kampung halaman.
Ketidakhadiran Pemkab Haltim di asrama tersebut pun memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana hubungan emosional dan komunikasi antara pemerintah daerah dengan mahasiswa di Jakarta selama ini terpelihara.
Fachrullah bahkan menilai pemerintah daerah berisiko kehilangan peran sebagai orang tua bagi mahasiswa di perantauan apabila hubungan semacam ini terus dibiarkan tanpa perhatian.
“Jika silaturahmi yang dinilai sebagai hal sepele saja diabaikan, bagaimana mungkin sebuah daerah menyusun visi masa depan jika jembatan emosional dan komunikasi dengan para mahasiswanya sendiri terputus?” katanya dengan nada kecewa.
Menurutnya, membangun Halmahera Timur tidak bisa hanya mengandalkan birokrasi yang kaku atau berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik. Pemerintah daerah harus mampu membangun hubungan yang terbuka dengan mahasiswa, sebab pembangunan manusia merupakan bagian penting dari investasi jangka panjang daerah.
Mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Jakarta, lanjutnya, bukan sekadar kelompok perantau yang jauh dari kampung halaman. Mereka adalah generasi yang tengah menempa kemampuan, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri agar kelak dapat memberikan kontribusi nyata bagi daerahnya.
Karena itu, pemerintah daerah seharusnya tidak membiarkan komunikasi dengan kalangan mahasiswa berjalan tanpa perhatian. Kehadiran pemerintah dibutuhkan bukan hanya dalam agenda formal, melainkan juga melalui dialog dan hubungan yang berkelanjutan.
Fachrullah menegaskan, kondisi tersebut harus menjadi alarm bagi Pemkab Haltim untuk mengevaluasi pola komunikasi dan pendekatan terhadap mahasiswa. Jangan sampai pemerintah berbicara tentang masa depan daerah, tetapi justru mengabaikan salah satu kelompok yang kelak akan ikut menentukan arah pembangunan.
“Ini menjadi alarm penting bagi Pemkab Halmahera Timur bahwa membangun daerah tidak semata-mata soal infrastruktur fisik, tetapi juga tentang merawat dan menghargai investasi manusia yang sedang menggembleng dirinya di Jakarta,” tandasnya.
Sorotan HIPMI Haltim-Jakarta ini menjadi pengingat bahwa hubungan pemerintah dan mahasiswa tidak seharusnya berhenti pada seremoni atau pertemuan formal. Kepedulian perlu dibuktikan melalui komunikasi, keterbukaan, dan kesediaan mendengar aspirasi generasi muda.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan dari Pemkab Halmahera Timur mengenai alasan tidak adanya kunjungan ke Asrama Mahasiswa Haltim-Jakarta. Klarifikasi dari pihak pemerintah daerah diperlukan agar persoalan ini dapat dipahami secara utuh dan berimbang.
(Jk)













