Malut, Investigasi.News-, Ada jarak yang terbentang di antara pulau-pulau Sula. Laut memisahkan satu wilayah dengan wilayah lainnya, tetapi jarak geografis tidak pernah sepenuhnya mampu memutus ikatan orang-orang Sula yang berada di perantauan. Dari ruang-ruang perjumpaan itulah sebuah kesadaran kolektif pernah tumbuh dan kemudian menemukan bentuknya dalam Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS).
HPMS lahir pada 20 September 1959 di Ujung Pandang, Makassar. Kelahirannya tidak dapat dilepaskan dari kegelisahan generasi muda Sula terhadap keadaan masyarakat dan daerahnya pada masa itu. Berangkat dari semangat Singhosari Agreement, HPMS hadir sebagai wadah yang membawa cita-cita perubahan—pendidikan, sosial, kebudayaan, ekonomi, hingga kehidupan politik masyarakat.
Pada masa itu, menjadi pelajar atau mahasiswa di perantauan bukan sekadar perjalanan akademik. Ada tanggung jawab moral yang melekat di dalamnya: memperoleh pengetahuan, membangun kesadaran, kemudian kembali memberikan arti bagi kampung halaman.
HPMS menjadi tempat bertemunya anak-anak Sula yang sedang menempuh pendidikan jauh dari tanah asalnya. Di sana mereka berbagi pengalaman, bertukar pikiran, saling menguatkan, dan membicarakan keadaan daerah yang mereka tinggalkan. Perbedaan latar belakang tidak menghapus satu kesadaran bersama bahwa ilmu yang diperoleh di perantauan seharusnya memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat di tanah asal.
Tepat pada tanggal 9 Oktober 2026 merupakan tanggal sacral, tetapi hal ini bukanlah sekadar tanggal pelantikan. Ia adalah sebuah penanda bahwa perjalanan baru Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS) telah dimulai. Di balik prosesi, sumpah, dan serah terima tanggung jawab, terdapat pertanyaan yang jauh lebih penting, ke mana HPMS akan melangkah setelah seremoni ini selesai?
Sebab organisasi tidak diukur dari seberapa khidmat ia dilantik, tetapi dari seberapa nyata ia bekerja setelah dilantik.
Pelantikan seharusnya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali identitas HPMS sebagai ruang berhimpun, berpikir, berdiskusi, dan bergerak bagi pelajar dan mahasiswa Sula. HPMS bukan hanya tentang siapa yang menjadi ketua, sekretaris, atau pengurus. Lebih dari itu, HPMS adalah tentang gagasan dan keberanian untuk mengambil bagian dalam persoalan yang menyangkut masa depan generasi dan daerah.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, tantangan pelajar juga semakin kompleks. Ruang perjuangan tidak lagi hanya berada di ruang-ruang diskusi atau forum organisasi. Hari ini, ruang digital telah menjadi arena pertarungan gagasan, informasi, bahkan pembentukan opini publik.
Karena itu, HPMS perlu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Teknologi bukan sekadar alat untuk menyebarkan kegiatan organisasi, tetapi dapat menjadi ruang untuk membangun pengetahuan, mengangkat persoalan daerah, menyuarakan kepentingan pelajar dan mahasiswa, serta memperkenalkan potensi daerah kepada ruang yang lebih luas.
Namun, perubahan tidak akan lahir hanya dari unggahan media sosial, rapat, atau program kerja yang tertulis di atas kertas. Perubahan lahir ketika gagasan diterjemahkan menjadi tindakan.
Bidang Partisipasi Publik dan Pembangunan Daerah Menjadi Jembatan untuk Merealisasikan Kebutuhan Masyarakat di Era Digitallisasi
Oleh karena itu, keberadaan bidang partisipasi publik dan Pembangunan daerah bukan sebagai pelengkap struktur organisasi. Tetapi bidang ini merupakan jembatan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan masyrakat serta memberikan kontribusi nyata.
Partisipasi publik berarti berani hadir, mendengar, memahami, dan menyampaikan aspirasi. Sementara pembangunan daerah tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang pendidikan, kualitas sumber daya manusia, ekonomi masyarakat, lingkungan, kebudayaan, pelayanan publik, serta berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, pembangunan daerah bukan hanya persoalan pemerintah. Ia adalah persoalan bersama yang membutuhkan keterlibatan masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa.
Dan mungkin, inilah tugas paling penting HPMS di era digital bukan sekadar menjadi suara yang paling keras, tetapi menjadi suara yang paling mampu menjelaskan persoalan, bukan sekadar mengkritik keadaan, tetapi ikut terlibat berpartisipasi untuk memberikan solusi demi kemajuan daerah.
Pada akhirnya, sejarah organisasi bukan hanya ditulis oleh pendiri, atau mereka yang hadir saat pelantikan, melainkan mereka yang bersedia bekerja dengan sunguh-sunguh untuk masa depan Masyarakat dan daerah.
Maka, selamat kepada pengurus baru Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula yang dilantik pada 9 Oktober 2026. Tugas besar telah dimulai.
Jangan biarkan pelantikan berhenti sebagai seremoni. Jadikan ini sebagai titik awal untuk membangun HPMS yang lebih kritis, progresif, dan relevan dengan zaman. Karena masa depan Sula tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu berbicara tentang daerahnya, tetapi generasi yang mampu memahami, mengkaji, dan mengambil bagian dalam menentukan arah masa depannya.
Oleh: Supriyadi Umasangadji S.T., M.Psi
(Ketua Bidang Partisipasi Publik & Pembangunan Daerah PP-HPMS)













