BANYUASIN, SUMSEL — Polemik sampah di Jalan Talang Keramat, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, kian menjadi sorotan. Di tengah upaya pemerintah menyediakan fasilitas pengangkutan dan petugas kebersihan, persoalan sampah disebut masih berulang akibat ulah sejumlah oknum yang tidak kooperatif dan mengabaikan arahan.
Pemerintah disebut telah menyediakan mobil pengangkut sampah dan menurunkan petugas untuk melakukan pembersihan. Masyarakat juga telah diarahkan agar membuang sampah pada pagi hari, saat mobil pengangkut dan petugas berada di lokasi.
Namun, arahan tersebut masih saja dilanggar oleh sejumlah oknum.
Pengawas yang berjaga di lokasi bahkan disebut telah berulang kali mengimbau dan melarang masyarakat membuang sampah sembarangan. Banner larangan juga telah dipasang sebagai bentuk peringatan agar masyarakat tidak menjadikan kawasan tersebut sebagai lokasi pembuangan sampah liar.
Ironisnya, banner tersebut justru dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Kondisi tersebut memunculkan keprihatinan. Sebab, ketika fasilitas pengangkutan sudah disediakan dan petugas telah bekerja, masih ada pihak yang memilih mengabaikan aturan. Pada saat yang sama, persoalan kebersihan justru kembali diarahkan sepenuhnya kepada pemerintah.
Salah seorang warga Jalan Talang Keramat yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan, masyarakat juga harus memiliki kesadaran dan tidak terus-menerus menyalahkan pemerintah.
“Kalau mobil sampah sudah disediakan dan petugas juga datang membersihkan, sebenarnya masyarakat tinggal mengikuti aturan. Sampah dibuang pada waktu yang sudah ditentukan, jangan justru dibuang sembarangan,” ujarnya.
Ia juga menyayangkan adanya oknum yang tetap membuang sampah sembarangan meskipun sudah ditegur petugas. Terlebih, banner larangan yang dipasang sebagai bentuk pengingat justru dirusak.
“Kalau banner larangan saja dirusak, bagaimana lingkungan mau bersih? Jangan setelah sampah menumpuk kemudian pemerintah yang terus disalahkan. Masyarakat juga harus bercermin dan bertanggung jawab,” katanya.
Menurutnya, perilaku segelintir oknum justru merugikan warga lain yang sudah berusaha menjaga kebersihan lingkungan.
“Jangan karena ulah beberapa orang, semua warga ikut dicap tidak peduli. Yang membuang sampah sembarangan harus sadar bahwa mereka juga membuat lingkungan tempat tinggalnya sendiri menjadi kotor,” tegasnya.
Persoalan ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Pemerintah memang memiliki kewajiban menyediakan pelayanan kebersihan, tetapi masyarakat juga memiliki kewajiban menjaga lingkungan dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
Fasilitas sudah tersedia, mobil sampah sudah bergerak, petugas sudah bekerja, pengawas sudah mengingatkan, bahkan larangan sudah dipasang. Jika masih ada yang sengaja membuang sampah sembarangan, jangan seluruh kesalahan kemudian dilempar kepada pemerintah.
Perusakan banner larangan juga tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan sepele. Jika benar dilakukan dengan sengaja, tindakan tersebut menunjukkan sikap tidak menghargai upaya menjaga kebersihan lingkungan dan kepentingan masyarakat secara keseluruhan.
Pemerintah bersama petugas di lapangan diharapkan tidak berhenti pada imbauan. Jika pelanggaran terus berulang, langkah tegas sesuai ketentuan yang berlaku perlu dipertimbangkan agar kawasan tersebut tidak kembali menjadi titik pembuangan sampah sembarangan.
Kebersihan bukan sekadar urusan pemerintah. Ini soal kesadaran bersama. Jangan meminta lingkungan bersih jika aturan sendiri sengaja dilanggar. Jangan menyalahkan pemerintah jika fasilitas sudah diberikan tetapi masih ada oknum yang memilih membuang sampah seenaknya.
Polemik sampah di Jalan Talang Keramat pada akhirnya menjadi cermin bahwa persoalan kebersihan tidak akan pernah selesai hanya dengan menambah fasilitas. Tanpa kedisiplinan masyarakat, mobil sampah akan terus datang, petugas akan terus membersihkan, sementara sampah akan kembali menumpuk.
Pemerintah harus bekerja, masyarakat juga wajib bertanggung jawab. Jangan biarkan ulah segelintir oknum membuat lingkungan kotor dan warga yang tertib ikut menjadi korban.
Suprene










