Siswa Baru Dibekali Pertolongan Pertama Luka Psikologis (P3LP)
Sumber Pucung — Kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMPN 1 Sumberpucung tahun ini tidak hanya diisi dengan materi pengenalan sekolah dan tata tertib. UPT Puskesmas Sumberpucung turut hadir memberikan edukasi kesehatan jiwa kepada siswa baru kelas VII.
Materi bertajuk Pertolongan Pertama Luka Psikologis (P3LP) disampaikan langsung oleh dr. Mentari bersama Penanggung Jawab Program Kesehatan Jiwa UPT Puskesmas Sumberpucung, Priyanto. Kegiatan ini berlangsung di Aula SMPN 1 Sumberpucung dengan didampingi mahasiswa Program Profesi Dokter (Koas) Universitas Islam Malang (UNISMA) serta mahasiswa D-III Keperawatan ITSK dr. Soepraoen.
Dalam pemaparannya, tim dari Puskesmas menjelaskan empat poin utama P3LP.
Pertama, pengertian P3LP sebagai bentuk bantuan awal kepada seseorang yang mengalami tekanan psikologis akibat peristiwa yang berat.
Kedua, langkah-langkah yang harus dilakukan apabila di sekolah ditemukan siswa yang mengalami luka psikologis, mulai dari mengamankan kondisi, mendengarkan, hingga merujuk kepada tenaga yang berwenang.
Ketiga, mengenali ciri-ciri kegawatdaruratan psikologis, seperti keinginan menyakiti diri sendiri, menarik diri secara total dari lingkungan, serta mengalami halusinasi.
Keempat, memahami prinsip dan tindakan dasar dalam penanganan luka psikologis melalui pendekatan “Lihat, Dengar, dan Tautkan”, sehingga siswa dapat memperoleh dukungan yang tepat sesuai kebutuhannya.
Guru UKS SMPN 1 Sumberpucung, Anita, mengapresiasi materi tersebut. Menurutnya, siswa baru perlu dibekali pengetahuan tentang kesehatan jiwa sejak dini agar mampu saling menjaga dan peduli terhadap sesama di lingkungan sekolah.
“Anak-anak sekarang menghadapi banyak tekanan. Dengan adanya P3LP ini, guru maupun teman-teman menjadi tahu apa yang harus dilakukan apabila ada teman yang sedang tidak baik-baik saja,” ujar Anita.
Sementara itu, Kepala UPT Puskesmas Sumberpucung, drg. Rahmawati, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari inovasi SATOE JIWA, akronim dari Skrining Awal, Temukan, dan Obati pasien dengan gangguan jiwa.
“Sebelum pelaksanaan MPLS, kami telah melakukan skrining kesehatan jiwa menggunakan instrumen MMYS terhadap 288 siswa baru kelas VII. Tujuannya adalah untuk deteksi dini. Jika ditemukan siswa yang berisiko mengalami gangguan kesehatan jiwa, kami dapat segera melakukan pendampingan dan penanganan,” jelas drg. Rahmawati.

Ia berharap melalui penerapan P3LP, sekolah dapat menjadi lingkungan yang aman, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis bagi seluruh siswa. UPT Puskesmas Sumberpucung juga siap terus berkolaborasi dengan pihak sekolah dalam memberikan pendampingan dan layanan kesehatan jiwa secara berkelanjutan.
Kegiatan MPLS yang menghadirkan materi kesehatan jiwa tersebut mendapat sambutan antusias dari para siswa. Mereka diajak berdiskusi serta mengikuti simulasi sederhana mengenai cara merespons teman yang sedang mengalami stres, kecemasan, atau tekanan psikologis secara tepat dan penuh empati.
Guh



